Lebah bisa pesimistis, lalat buah mencari alkohol setelah penolakan seksual. Seberapa dekat kehidupan batin serangga dengan pengalaman manusia? (Cak AT)

Catatan Cak AT:

Bayangkan seekor lebah yang mengalami hari buruk. Pagi-pagi ia terbang mencari nektar, lalu seekor laba-laba menyergapnya dari balik bunga. Ia berhasil lolos.

Namun, setelah itu, setiap kali menemukan bunga yang tampak aman, ia curiga, memeriksa lebih dahulu, lalu terbang menjauh. Pengalaman buruk membuatnya lebih waspada, bahkan terhadap ancaman yang sebenarnya sudah tidak ada.

Pada manusia, kita mengenal gejala semacam ini sebagai salah satu ciri trauma. Pada lebah, para ilmuwan mulai menemukan perilaku yang mengundang pertanyaan besar, jangan-jangan dunia batin makhluk kecil ini jauh lebih rumit dari dugaan kita.

Selama berabad-abad, manusia gemar membagi dunia menjadi dua kelompok: makhluk yang berpikir dan makhluk yang sekadar mengikuti naluri. Kita menempatkan manusia di singgasana kesadaran, sementara binatang lain berdesakan di bawahnya.

Semakin kecil otak binatang, semakin mudah kita menganggap penghuninya seperti mesin biologis. Lebah, lalat buah, semut, dan serangga lain menjalankan tugas masing-masing.

Mereka lahir, mencari makan, berkembang biak, lalu mati. Selesai. Kita bahkan tidak merasa perlu meminta maaf ketika menginjaknya.

Kini, penelitian tentang perilaku hewan mulai mengusik pembagian yang nyaman itu. Artikel New Scientist, akhir Oktober 2026, mengangkat temuan mengenai kehidupan emosional hewan, dari burung yang tampak menunjukkan perilaku sosial kompleks sampai serangga yang memperlihatkan tanda-tanda bermain.

Lebah bisa menunjukkan respons yang menyerupai optimisme atau pesimisme. Sotong mampu menyesuaikan perilakunya untuk kebutuhan masa depan.

Sementara itu, eksperimen pada lalat buah jantan menemukan bahwa penolakan seksual dapat memengaruhi pilihan mereka terhadap alkohol.

Temuan terakhir itu terdengar seperti bahan lawakan di warung kopi. Lelaki ditolak perempuan, lalu mencari minuman untuk melupakan luka. Bedanya, lalat buah tidak punya kafe, lagu patah hati, atau teman yang berkata, “Sudahlah, masih banyak betina di luar sana.”

Penelitian yang terbit di jurnal Science pada 2012 menunjukkan bahwa pengalaman kawin memengaruhi sistem penghargaan di otak lalat buah dan kecenderungannya mengonsumsi alkohol.

Mekanismenya melibatkan neuropeptida yang berkaitan dengan respons terhadap pengalaman seksual.

Kita tentu tidak boleh menyamakan seluruh pengalaman lalat dengan patah hati manusia. Namun, kemiripan mekanisme biologis itu cukup untuk membuat kita berhenti sejenak.

Peristiwa semacam ini mengingatkan kita bahwa pertumbuhan bekerja dengan bahan dasar yang saling berkerabat.

Manusia dan serangga menempuh jalur pertumbuhan yang berbeda selama ratusan juta tahun, tetapi keduanya tetap menghadapi persoalan mendasar: mencari makan, menghindari bahaya, mempertahankan hidup, dan menghasilkan keturunan.

Alam mengembangkan berbagai perangkat untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sebagian perangkat itu berbeda jauh, sebagian lain memperlihatkan kemiripan yang mengejutkan.

Tentu, kemiripan perilaku tidak otomatis membuktikan kesamaan perasaan. Seekor robot bisa menghindari rintangan tanpa merasa takut. Seekor lebah bisa menjauhi bunga setelah pengalaman buruk tanpa mengalami trauma seperti manusia.

Tantangan ilmiah justru terletak di sini: bagaimana kita membedakan reaksi otomatis dari pengalaman subjektif? Bagaimana kita mengetahui bahwa seekor makhluk benar-benar merasakan sesuatu, bukan sekadar menjalankan program biologis yang rumit?

Pertanyaan itu membawa kita ke wilayah yang selama ini terasa sangat manusiawi: kesadaran.

Kita mengetahui pengalaman batin sendiri secara langsung, tetapi kita tidak bisa masuk ke kepala orang lain untuk memeriksanya.

Kita menyimpulkan bahwa orang lain merasakan sakit, sedih, atau gembira melalui perkataan, ekspresi, perilaku, dan kesamaan susunan biologis.

Pada hewan, terutama serangga, pekerjaan itu jauh lebih sulit. Mereka tidak dapat menjelaskan pengalamannya dengan bahasa yang kita pahami. Karena itu, ilmuwan harus membaca petunjuk melalui eksperimen yang dirancang secara hati-hati.

Penelitian lebah memberi beberapa petunjuk menarik. Dalam eksperimen yang dipublikasikan pada 2016, peneliti menemukan bahwa lebah yang menerima kejutan berupa larutan gula menunjukkan kecenderungan lebih besar mendekati rangsangan yang sebelumnya ambigu.

Para peneliti menafsirkan perubahan itu sebagai keadaan mirip optimisme. Eksperimen lain menunjukkan bahwa pengalaman yang menimbulkan stres dapat mengubah respons lebah terhadap lingkungan.

Perubahan zat kimia saraf seperti dopamin dan serotonin juga berkaitan dengan perilaku serta proses penghargaan pada serangga.

Kita perlu menjaga ketelitian ketika membaca hasil-hasil tersebut. Para ilmuwan mengukur perilaku yang dapat diamati, lalu menguji penjelasan yang paling masuk akal.

Mereka belum bisa memastikan bahwa lebah mengalami kegembiraan, kecemasan, atau trauma persis seperti manusia.

Istilah emotion-like states —keadaan yang menyerupai emosi— justru menunjukkan kehati-hatian itu. Bahasa populer kadang berlari lebih cepat dari bukti ilmiah.

Kata “lebah pesimistis” memang menarik perhatian pembaca, tetapi hasil eksperimen tetap memerlukan tafsir dan pengujian lanjutan.

Yang membuat persoalan ini semakin menarik ialah ukuran otak lebah. Otaknya hanya sebesar biji poppy, tetapi ia sanggup mengerjakan sejumlah tugas yang bahkan menyulitkan manusia.

Lebah mengingat lokasi bunga, membandingkan sumber makanan, mengenali pola, mempelajari rute, dan menyesuaikan keputusan ketika persediaan nektar berubah.

Lars Chittka, profesor ekologi sensorik dan perilaku di Queen Mary University of London, telah lama meneliti kemampuan kognitif lebah. Karyanya menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu membutuhkan otak sebesar kepalan tangan.

Bayangkan seorang pembeli di pasar yang harus mengingat harga, kualitas, dan lokasi barang, lalu memilih yang paling menguntungkan sebelum uangnya habis.

Lebah menghadapi persoalan serupa dalam skala ekologis. Bunga yang pagi tadi penuh nektar mungkin sudah terkuras ketika ia kembali siang hari.

Ia harus memperbarui informasi dan mengubah strategi. Otak kecil itu bekerja seperti komputer saku yang menjalankan banyak fungsi sekaligus.

Tentu, kemampuan menyelesaikan masalah belum membuktikan kesadaran subjektif. Namun, ia meruntuhkan anggapan bahwa ukuran otak menjadi satu-satunya ukuran kecerdasan.

Penelitian juga menemukan bahwa lebah dapat mempelajari wajah manusia melalui pola visual yang khas. Mereka bahkan dapat dilatih membedakan gambar wajah yang berbeda.

Kemampuan ini tidak berarti lebah mengenali seseorang sebagaimana kita mengenali sahabat lama. Yang penting, sistem saraf yang sangat berbeda ternyata sanggup menghasilkan kemampuan pengolahan informasi yang mengesankan.

Alam tidak pernah mewajibkan semua kecerdasan memakai rancangan yang sama.

Di sinilah kita perlu membedakan tiga perkara: kecerdasan, kesadaran, dan kemampuan merasakan penderitaan.

Kecerdasan berkaitan dengan kemampuan belajar dan memecahkan masalah.

Kesadaran mencakup persoalan pengalaman subjektif, yakni bagaimana rasanya menjadi makhluk tertentu.

Sementara itu, kemampuan merasakan penderitaan berkaitan dengan pengalaman negatif yang tidak sekadar memicu refleks.

Ketiganya saling berhubungan, tetapi tidak identik. Ilmuwan dapat menemukan bukti kuat tentang kemampuan belajar tanpa otomatis membuktikan seluruh bentuk pengalaman batin.

Mengapa persoalan ini penting di luar laboratorium? Karena manusia memperlakukan serangga dalam jumlah luar biasa besar, terutama untuk kepentingan pertanian.

Kita mengandalkan lebah untuk membantu penyerbukan tanaman pangan, tetapi sekaligus menghadapkan mereka pada pestisida, penyakit, hilangnya habitat, dan sistem pertanian yang miskin keanekaragaman hayati.

Kita memuji lebah sebagai pekerja keras ketika membutuhkan jasanya, lalu mengabaikan nasibnya ketika pekerjaan selesai.

Laporan _The Guardian_ pada April 2023 menyoroti persoalan tersebut melalui penelitian Stephen Buchmann, ahli ekologi penyerbukan, dan sejumlah ilmuwan lain.

Mereka mendorong masyarakat agar mempertimbangkan kemungkinan bahwa lebah mempunyai pengalaman negatif dan kapasitas emosional yang selama ini kurang diperhitungkan.

Di Amerika Serikat, misalnya, jutaan koloni lebah madu dipindahkan ke kebun-kebun almond California untuk membantu penyerbukan.

Perjalanan panjang, paparan bahan kimia, penyakit, dan tekanan lingkungan menimbulkan risiko bagi koloni yang diperlakukan sebagai bagian dari mesin produksi pangan.

Angka kematian koloni lebah komersial di Amerika Serikat pernah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Bee Informed Partnership melaporkan kehilangan sekitar 39 persen koloni yang dikelola peternak pada tahun pemeliharaan 2021–2022.

Angka tersebut menggambarkan persoalan serius dalam kesehatan koloni, meskipun penyebabnya melibatkan banyak faktor dan tidak dapat disederhanakan menjadi tekanan emosional semata.

Parasit, virus, pestisida, perubahan habitat, serta praktik pemeliharaan ikut menentukan kelangsungan hidup lebah.

Teknologi kini menawarkan bantuan. Perusahaan seperti BeeHero menggunakan sensor untuk memantau getaran dan suara koloni, lalu menganalisis perubahan pola yang mungkin menandakan gangguan.

Pendekatan itu dapat membantu peternak mendeteksi masalah lebih dini. Namun, sensor secanggih apa pun tidak akan menyelesaikan persoalan apabila lingkungan pertanian terus merusak kehidupan lebah.

Kita tidak bisa memasang stetoskop pada pasien, lalu sengaja membiarkannya menghirup racun setiap hari.

Langkah yang lebih masuk akal mencakup pengurangan pestisida berisiko tinggi, penyediaan bunga sepanjang musim, perlindungan habitat alami, dan perbaikan cara memindahkan koloni.

Pemerintah dapat mewajibkan penilaian risiko pestisida terhadap penyerbuk, sementara petani dapat menanam vegetasi berbunga di sekitar lahan produksi.

Peneliti juga perlu merancang eksperimen yang meminimalkan stres dan penderitaan yang mungkin dialami serangga. Langkah-langkah tersebut bermanfaat bahkan sebelum sains mencapai kesimpulan final tentang kesadaran lebah.

Lantas, apakah kita harus berhenti memakan buah yang penyerbukannya melibatkan lebah? Tentu persoalannya tidak sesederhana itu.

Pertanian modern melibatkan jejaring organisme, manusia, dan teknologi yang saling bergantung.

Kita membutuhkan pangan bergizi dengan harga terjangkau, sekaligus lingkungan yang menopang produksi pangan dalam jangka panjang. Kebijakan yang baik harus mempertemukan kebutuhan tersebut, bukan mempertentangkannya secara sembrono.

Persoalan ini juga membawa kita kembali kepada cara manusia memandang dirinya sendiri. Selama ini, kita sering mengukur nilai makhluk lain berdasarkan kegunaannya bagi manusia.

Lebah berharga karena menghasilkan madu dan membantu penyerbukan. Hutan berharga karena menyediakan kayu, air, dan udara bersih. Hewan menjadi penting ketika menopang ekonomi atau memikat wisatawan.

Ukuran seperti itu membuat alam terlihat seperti gudang besar yang seluruh isinya menunggu manusia mengambil manfaat.

Pengetahuan tentang kemungkinan kehidupan batin hewan menawarkan koreksi. Makhluk hidup mungkin memiliki kepentingan yang tidak seluruhnya berpusat pada manusia.

Jika lebah ternyata mampu mengalami keadaan negatif, pertimbangan moral kita perlu memperhitungkannya. Kita tidak harus menyamakan hak lebah dengan hak manusia untuk mengakui bahwa cara kita memperlakukan makhluk lain memerlukan batas etis.

Bagi umat beragama, persoalan ini juga membuka ruang perenungan. Al-Qur’an, dalam Surah An-Nahl ayat 68–69, menggambarkan lebah sebagai makhluk yang menerima ilham untuk membangun sarang, mencari makanan, dan menghasilkan madu yang bermanfaat bagi manusia.

Ayat tersebut mengajak pembaca memperhatikan kehidupan lebah sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah.

Pembacaan ilmiah dapat memperkaya pengamatan itu, selama kita tidak memaksakan kesimpulan laboratorium ke dalam ayat, atau menjadikan ayat sebagai pengganti eksperimen.

Ada satu pelajaran yang layak kita bawa pulang dari semua ini: semakin jauh ilmu pengetahuan menyelidiki makhluk lain, semakin besar alasan kita untuk bersikap rendah hati.

Kita baru mulai memahami bagaimana otak bekerja, bagaimana pengalaman terbentuk, dan bagaimana kesadaran muncul.

Menetapkan bahwa hanya manusia yang memiliki kehidupan batin berarti menutup penyelidikan sebelum bukti selesai berbicara.

Sebaliknya, menyatakan bahwa setiap serangga pasti merasakan segala sesuatu seperti manusia juga melampaui bukti yang tersedia.

Sains yang sehat berjalan di antara dua kesombongan itu. Ia berani mengajukan pertanyaan, tetapi bersedia menunda kesimpulan. Ia menghargai bukti, sekaligus mengakui batas pengetahuan.

Sementara itu, etika tidak harus menunggu semua misteri terpecahkan. Kita dapat mengurangi kerusakan lingkungan, memperbaiki praktik pertanian, dan menghindari penderitaan yang tidak perlu tanpa berpura-pura sudah memahami seluruh isi kepala lebah.

Barangkali suatu hari kita akan mengetahui lebih banyak tentang bagaimana rasanya menjadi lebah. Sampai saat itu, jangan terburu-buru menganggap dunia mereka kosong hanya karena kita tidak bisa mendengar cerita mereka.

Manusia memang mempunyai bahasa untuk menjelaskan kesedihannya. Lebah mempunyai cara lain untuk menjalani hidupnya.

Ketidakmampuan kita memahami bahasa makhluk lain seharusnya menjadi alasan untuk menyelidiki lebih jauh, bukan surat izin untuk bertindak semena-mena.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis