Ilustrasi aktivitas intelijen Uni Soviet. (AI/BP)

Uni Soviet memiliki jaringan intelijen yang beroperasi di berbagai negara selama Perang Dunia II dan Perang Dingin.

Melalui NKVD, GRU, dan KGB, pemerintah Soviet menjalankan berbagai operasi rahasia.

Sejumlah kasus spionase Uni Soviet baru terungkap secara luas setelah dokumen intelijen dideklasifikasi dan arsip negara dibuka untuk penelitian.

Berikut 10 operasi rahasia dan kasus mata-mata Uni Soviet selama Perang Dunia II dan Perang Dingin yang menarik untuk diketahui.

1. Jaringan Richard Sorge: Mata-Mata Soviet yang Menyusup ke Jepang (1933–1941)

Richard Sorge merupakan agen intelijen militer Uni Soviet yang membangun jaringan spionase di Tokyo sejak 1933.

Dia bekerja untuk GRU (Main Intelligence Directorate), badan intelijen militer Soviet, dengan menyamar sebagai jurnalis Jerman yang memiliki hubungan dekat dengan komunitas diplomatik Jerman di Jepang.

Sorge berhasil memperoleh kepercayaan sejumlah pejabat Jerman, termasuk Eugen Ott, atase militer Jerman yang kemudian menjabat sebagai duta besar untuk Jepang.

Posisi tersebut memberinya akses terhadap informasi mengenai hubungan diplomatik dan perkembangan militer Jerman-Jepang.

Salah satu sumber informasi terpentingnya adalah Hotsumi Ozaki, seorang jurnalis Jepang yang memiliki hubungan dengan lingkaran pemerintahan Perdana Menteri Fumimaro Konoe.

Ozaki membantu Sorge mendapatkan informasi mengenai kebijakan pemerintah Jepang, termasuk rencana ekspansi militer negara tersebut.

Pada 1941, Sorge mengirimkan peringatan mengenai rencana invasi Jerman terhadap Uni Soviet.

Dia juga melaporkan bahwa Jepang tidak berencana segera menyerang wilayah Soviet dari arah timur karena lebih memprioritaskan ekspansi ke kawasan selatan.

Informasi mengenai sikap Jepang tersebut menjadi bahan penting bagi perencanaan pertahanan Soviet.

Namun, laporan Sorge mengenai rencana invasi Jerman tidak membuat Stalin mengambil langkah pencegahan yang memadai sebelum Operasi Barbarossa dimulai pada Juni 1941.

Jaringan Sorge akhirnya terbongkar setelah polisi Jepang menangkapnya pada 18 Oktober 1941.

Hotsumi Ozaki dan sejumlah anggota jaringan lainnya juga ditangkap.

Sorge dan Ozaki dieksekusi pada 7 November 1944.

2. Rote Kapelle: Jaringan Spionase Soviet yang Diburu Nazi (1939–1942)

Rote Kapelle atau Red Orchestra merupakan istilah yang digunakan Gestapo untuk menyebut sejumlah jaringan perlawanan dan spionase yang memiliki hubungan dengan Uni Soviet selama Perang Dunia II.

Jaringan tersebut beroperasi di beberapa negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, dan Swiss.

Salah satu tokoh penting dalam jaringan intelijen Soviet di Eropa Barat adalah Leopold Trepper.

Dia merupakan agen GRU yang membangun jaringan pengumpulan informasi di kawasan tersebut sejak 1939.

Jaringannya mengandalkan sejumlah sumber informasi yang memiliki akses ke lingkungan pemerintahan dan militer Jerman.

Di Berlin, terdapat kelompok yang berpusat di sekitar Arvid Harnack dan Harro Schulze-Boysen.

Harnack merupakan pejabat Kementerian Ekonomi Jerman, sedangkan Schulze-Boysen bekerja di Kementerian Udara Jerman.

Keduanya memiliki akses terhadap informasi kebijakan dan aktivitas pemerintahan Nazi.

Pada 1940–1941, Harnack dan Schulze-Boysen menyampaikan sejumlah informasi militer penting kepada Uni Soviet.

Anggota kelompok mereka juga melakukan kegiatan perlawanan terhadap Nazi, termasuk membantu orang-orang yang dianiaya dan menyebarkan selebaran yang mengkritik pemerintahan Hitler.

Jaringan tersebut akhirnya menjadi sasaran penyelidikan Gestapo.

Penangkapan anggota jaringan dimulai di Belgia pada 1941, kemudian meluas ke sejumlah wilayah Eropa.

Pada musim panas 1942, Gestapo berhasil membongkar kelompok Harnack dan Schulze-Boysen di Berlin.

Lebih dari 50 anggota Red Orchestra dihukum mati atau dibunuh oleh rezim Nazi.

3. Operation Enormoz: Spionase Soviet untuk Mendapatkan Rahasia Bom Atom Barat (1941–1949)

Operation Enormoz merupakan nama sandi program pengumpulan informasi intelijen Soviet mengenai pengembangan senjata nuklir oleh negara-negara Barat.

Program tersebut melibatkan NKVD, NKGB, dan GRU melalui jaringan sumber informasi yang memiliki akses ke penelitian atom.

Uni Soviet mulai mengumpulkan informasi mengenai penelitian senjata atom Amerika Serikat dan Inggris sebelum Manhattan Project resmi dibentuk pada 1942.

Setelah proyek tersebut berkembang, intelijen Soviet semakin memusatkan perhatian pada fasilitas penelitian nuklir, termasuk laboratorium Los Alamos di New Mexico, Amerika Serikat.

Untuk memperoleh informasi, Soviet merekrut sejumlah individu yang bekerja dalam lingkungan penelitian dan pengembangan senjata nuklir.

Mereka memberikan dokumen, laporan teknis, dan informasi mengenai perkembangan proyek atom kepada penghubung intelijen Soviet.

Salah satu tokoh penting dalam kasus ini adalah Klaus Fuchs, seorang fisikawan yang terlibat dalam Manhattan Project dan memberikan informasi teknis mengenai pengembangan senjata nuklir kepada Soviet.

Fuchs juga terlibat dalam penelitian Inggris sebelum bekerja di Los Alamos.

Dia mengakui kegiatan spionasenya dan dijatuhi hukuman di Inggris pada 1950.

Tokoh lainnya adalah Theodore Hall, fisikawan muda yang bekerja di Los Alamos.

Dia memberikan informasi mengenai desain bom plutonium kepada intelijen Soviet.

Keterlibatannya terungkap melalui dokumen komunikasi intelijen Soviet yang dikenal sebagai Venona dan dipublikasikan pada 1995.

Hall tidak pernah didakwa atas kegiatan spionase tersebut.

David Greenglass, seorang teknisi yang bekerja di Los Alamos, juga memberikan informasi mengenai proyek bom atom.

Sementara itu, Harry Gold berperan sebagai kurir yang membantu menyampaikan informasi dari sejumlah sumber kepada jaringan intelijen Soviet.

Informasi yang diperoleh melalui jaringan tersebut membantu Soviet memahami perkembangan desain dan teknologi senjata atom Amerika Serikat.

Uni Soviet melakukan uji coba bom atom pertamanya pada 29 Agustus 1949 di Semipalatinsk, Kazakhstan.

Keberhasilan tersebut juga didukung oleh penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, dan kemampuan industri dalam negeri Soviet.

4. Operation Monastery: Agen Ganda Soviet yang Menipu Intelijen Nazi (1942–1945)

Operation Monastery merupakan operasi kontraintelijen yang dijalankan NKVD dan kemudian NKGB untuk memberikan informasi palsu kepada intelijen Jerman Nazi.

Operasi ini berada di bawah Direktorat Keempat yang dipimpin Pavel Sudoplatov.

Tokoh utamanya adalah Aleksandr Demyanov, seorang agen Soviet yang menggunakan nama sandi Heine.

Dia ditugaskan menyamar sebagai individu yang memiliki hubungan dengan kelompok anti-Soviet dan bersedia bekerja sama dengan Jerman.

Demyanov berhasil membangun hubungan dengan Abwehr, badan intelijen militer Jerman.

Pihak Jerman mempercayainya sebagai sumber informasi yang dapat memberikan akses terhadap situasi di dalam wilayah Uni Soviet.

Melalui hubungan tersebut, Demyanov mengirimkan laporan yang telah disiapkan oleh intelijen Soviet.

Informasi yang disampaikan mencakup kondisi militer, aktivitas pemerintahan, dan perkembangan strategis Tentara Merah.

Demyanov juga memperkenalkan sejumlah sumber informasi lain yang sebenarnya merupakan bagian dari jaringan palsu yang dikendalikan Soviet.

Dengan cara tersebut, Jerman memperoleh kesan bahwa mereka memiliki beberapa sumber intelijen independen di dalam Uni Soviet.

Informasi yang disampaikan melalui Operation Monastery memengaruhi penilaian badan intelijen militer Jerman mengenai situasi dan rencana Soviet pada sejumlah tahap penting perang.

Operasi ini kemudian menjadi salah satu dasar bagi pelaksanaan Operation Berezino pada 1944, yang menggunakan metode penipuan intelijen serupa dengan skala dan sasaran berbeda.

5. Operation Berezino: Operasi Rahasia Soviet dengan Pasukan Jerman Palsu (1944–1945)

Operation Berezino merupakan operasi penipuan militer Soviet yang dikembangkan dari Operation Monastery pada akhir musim panas 1944.

Operasi ini dirancang setelah Tentara Merah menghancurkan sebagian besar kekuatan Army Group Center Jerman dalam Operasi Bagration.

Intelijen Soviet berusaha membuat komando militer Jerman percaya bahwa masih terdapat satuan tentara Jerman yang tertinggal di belakang garis pertahanan Soviet.

Kelompok tersebut diklaim masih memiliki kemampuan untuk menyabotase jalur komunikasi dan pasokan Tentara Merah.

Untuk menjalankan rencana tersebut, Soviet menggunakan Heinrich Scherhorn, seorang perwira Jerman yang telah ditangkap dan berada dalam kendali mereka.

Scherhorn ditempatkan sebagai pemimpin kelompok tentara Jerman palsu tersebut.

Komunikasi radio kelompok itu dikendalikan oleh intelijen Soviet.

Melalui pesan-pesan yang dikirimkan, mereka meminta bantuan kepada komando Jerman dan memberikan laporan mengenai kondisi pasukan yang diklaim masih bertahan di wilayah Soviet.

Pihak Jerman mempercayai keberadaan kelompok tersebut dan mengirimkan bantuan berupa persediaan, perlengkapan, serta personel melalui penerjunan udara.

Bantuan itu jatuh ke tangan Soviet dan menjadi bagian dari operasi yang telah direncanakan.

Operation Berezino berlangsung hingga akhir Perang Dunia II.

6. Operation GOLD: Terowongan Penyadapan CIA yang Diketahui KGB (1954–1956)

Operation GOLD merupakan operasi penyadapan yang dijalankan CIA dan badan intelijen Inggris MI6 selama Perang Dingin.

Operasi ini bertujuan menyadap komunikasi militer Soviet melalui kabel telepon dan telegraf bawah tanah di Berlin Timur.

Untuk melaksanakan misi tersebut, CIA dan MI6 membangun terowongan rahasia sepanjang sekitar 1.476 kaki atau 450 meter dari Berlin Barat menuju jalur komunikasi di wilayah Berlin Timur.

Pengumpulan informasi melalui terowongan dimulai pada Mei 1955.

Namun, tanpa diketahui CIA dan MI6, KGB telah mengetahui rencana pembangunan terowongan sejak tahap perencanaan.

Informasi tersebut diperoleh melalui George Blake, seorang agen KGB yang bekerja di MI6.

Blake membocorkan informasi mengenai proyek tersebut kepada Soviet setelah direkrut ketika menjadi tahanan dalam Perang Korea pada 1952.

Dia memiliki akses terhadap informasi penting mengenai aktivitas intelijen Inggris, termasuk rencana penyadapan di Berlin.

KGB memilih tidak langsung membongkar terowongan karena ingin melindungi identitas Blake.

Soviet kemudian menemukan lokasi penyadapan pada 21 April 1956 dan mengumumkannya kepada publik sebagai bagian dari upaya propaganda.

Penemuan terowongan tersebut berkaitan dengan pemeriksaan kabel komunikasi bawah tanah yang terganggu akibat kondisi fisik kabel dan curah hujan tinggi.

Meskipun operasi tersebut akhirnya terbongkar, CIA memperoleh banyak informasi mengenai kemampuan dan aktivitas militer Soviet selama periode penyadapan berlangsung.

7. Operation HORIZON: Program Kontraintelijen KGB Lithuania (1960-an)

Operation HORIZON merupakan program kontraintelijen yang dijalankan KGB di Republik Sosialis Soviet Lithuania.

Operasi tersebut bertujuan mengoordinasikan kegiatan unit-unit kontraintelijen dalam menghadapi aktivitas badan intelijen negara-negara Barat.

Informasi mengenai operasi ini diketahui melalui dokumen KGB Lithuania yang kemudian diteliti dan dipublikasikan oleh Wilson Center.

Dokumen tersebut memperlihatkan bahwa Operation HORIZON merupakan perluasan dari program sebelumnya yang dikenal sebagai Operation 100.

Operation 100 berfokus pada aktivitas personel intelijen Amerika Serikat, Jerman Barat, Inggris, dan Israel.

Operation HORIZON memperluas cakupan pengawasannya hingga mencakup diplomat Kanada, pelaut Jerman dan Swedia, serta tenaga ahli industri dari Prancis dan Belgia.

Dokumen KGB Lithuania juga mencatat aktivitas tujuh agen yang berada di Jerman Barat.

Mereka menggunakan nama sandi RIMAS, LEONAS, SOSNYAK, DAINA, PATRAS, GELENZHULAS, dan SVETLANA.

Para agen tersebut ditugaskan membangun posisi permanen di Jerman Barat serta mengumpulkan informasi mengenai lembaga pemerintahan, organisasi intelijen Barat, dan komunitas emigran Lithuania.

8. Operation RYAN: KGB Mencari Tanda-Tanda Serangan Nuklir Barat (1981–1980-an)

Operation RYAN merupakan program intelijen Soviet yang bertujuan mendeteksi kemungkinan serangan nuklir pertama oleh Amerika Serikat dan negara-negara NATO.

Nama RYAN berasal dari istilah Rusia Raketno-Yadernoe Napadenie, yang berarti serangan rudal nuklir.

Program tersebut diperkenalkan pada 1981 ketika Yuri Andropov menjabat sebagai Ketua KGB.

Melalui operasi ini, jaringan intelijen Soviet di berbagai negara diperintahkan mengumpulkan informasi mengenai indikator yang dianggap dapat menunjukkan persiapan serangan nuklir Barat.

Pengamatan mencakup aktivitas militer, pergerakan pejabat pemerintahan, komunikasi diplomatik, dan perubahan tingkat kesiapan militer.

Salah satu dokumen penting mengenai operasi ini adalah instruksi KGB tertanggal 17 Februari 1983 yang ditujukan kepada residensi intelijen Soviet di London.

Dokumen tersebut memerintahkan pengumpulan informasi secara terus-menerus mengenai kemungkinan persiapan serangan rudal nuklir NATO terhadap Uni Soviet.

Kekhawatiran Soviet semakin meningkat pada November 1983 ketika NATO menyelenggarakan latihan militer Able Archer 83.

Latihan tersebut berlangsung pada 2–11 November dan menyimulasikan prosedur komando serta komunikasi untuk penggunaan senjata nuklir.

Respons Soviet terhadap Able Archer 83 menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah ketegangan nuklir Amerika Serikat dan Uni Soviet pada awal 1980-an.

9. Operation Farewell: Perwira KGB yang Membocorkan Ribuan Dokumen Rahasia (1981)

Operation Farewell merupakan nama yang digunakan untuk kasus pembocoran informasi rahasia KGB oleh Vladimir Vetrov, seorang perwira intelijen Soviet yang memiliki akses terhadap program pengumpulan teknologi Barat.

Selama dekade 1970-an, intelijen Soviet menjalankan program untuk mendapatkan informasi teknologi dan pengetahuan ilmiah dari negara-negara Barat.

Program tersebut melibatkan jaringan agen, perusahaan, dan sumber informasi yang memiliki akses terhadap perkembangan industri serta teknologi asing.

Vetrov bekerja sama dengan intelijen Prancis dan menggunakan nama sandi Farewell.

Dia memberikan sekitar 4.000 dokumen internal KGB yang berisi informasi mengenai program pengumpulan teknologi tersebut.

Dokumen-dokumen itu mengungkap identitas sejumlah personel intelijen, metode perekrutan sumber informasi, serta kebutuhan teknologi Soviet yang berusaha dipenuhi melalui pengumpulan informasi dari luar negeri.

Pada musim panas 1981, Presiden Prancis François Mitterrand menyampaikan informasi mengenai sumber intelijen tersebut kepada Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan.

Informasi yang diperoleh melalui Vetrov membantu CIA dan badan intelijen negara-negara NATO mengidentifikasi jaringan pengumpulan teknologi Soviet.

Dokumen tersebut juga menjadi dasar bagi langkah kontraintelijen terhadap aktivitas spionase teknologi Soviet.

Kasus ini merupakan salah satu pembocoran dokumen internal KGB yang paling signifikan selama Perang Dingin.

10. Operation Denver: Disinformasi Soviet tentang Asal-Usul HIV/AIDS (1985–1987)

Operation Denver atau Operation Infektion merupakan kampanye disinformasi yang melibatkan KGB dan sejumlah badan intelijen negara-negara Blok Timur.

Kampanye tersebut menyebarkan tuduhan palsu bahwa HIV, virus penyebab AIDS, berasal dari penelitian senjata biologis Amerika Serikat.

Tuduhan tersebut mengaitkan asal-usul virus dengan fasilitas penelitian militer Amerika di Fort Detrick, Maryland.

Narasi itu disebarkan melalui publikasi, media, dan jaringan informasi internasional.

Salah satu dokumen penting yang membuktikan keterlibatan KGB adalah telegram tertanggal 7 September 1985 dari markas KGB di Moskow kepada badan keamanan Bulgaria.

Dokumen tersebut berisi instruksi mengenai langkah-langkah aktif untuk menyebarkan narasi mengenai dugaan asal-usul buatan virus AIDS.

Kampanye ini kemudian melibatkan Stasi, badan keamanan Jerman Timur.

Dalam dokumen rencana kerja sama tertanggal 3 September 1986, Stasi menggunakan nama sandi Aktion Denver untuk menyebut kampanye disinformasi tersebut.

Salah satu materi yang dimanfaatkan dalam kampanye itu adalah publikasi Jakob Segal dan istrinya, Lilli Segal.

Mereka menyebarkan teori yang menghubungkan HIV dengan penelitian senjata biologis Amerika Serikat.

Salah satu brosurnya berjudul AIDS: USA Home-Made Evil, NOT Out of Africa, yang diedarkan pada Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Harare, Zimbabwe, pada 1986.

Dokumen KGB pada 1987 juga mencatat kerja sama dengan pihak Jerman Timur dan, dalam tingkat tertentu, Cekoslowakia untuk menyebarkan narasi tersebut melalui media internasional. [BP]

Follow Channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan aktifkan notifikasinya agar tidak ketinggalan berita dan artikel terbaru lainnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I