Gambar salah satu kapal selam kelas Golf Soviet, seperti K-129. (Sumber: EL PAÍS English)

K-129 merupakan kapal selam kelas Golf II, yang dalam klasifikasi Soviet dikenal sebagai proyek 629A.

Kapal ini dirancang untuk membawa rudal balistik sebagai bagian dari kekuatan strategis Uni Soviet selama Perang Dingin.

K-129 menggunakan sistem penggerak diesel-listrik.

Mesin diesel digunakan ketika kapal berada di permukaan atau mengambil udara melalui snorkel, sedangkan motor listrik memungkinkan kapal bergerak saat menyelam.

Dengan karakteristik tersebut, K-129 berbeda dari kapal selam yang menggunakan reaktor nuklir sebagai sumber tenaga.

Persenjataan utamanya terdiri atas tiga rudal balistik SS-N-4 Sark, yang dikenal dalam nomenklatur Soviet sebagai R-13.

Rudal tersebut dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir dan menjadi bagian dari kemampuan serangan strategis Angkatan Laut Soviet.

K-129 berpangkalan di Petropavlovsk, Semenanjung Kamchatka, wilayah timur Uni Soviet.

Dari pangkalan ini, kapal selam tersebut menjalankan patroli di Samudra Pasifik untuk mendukung kepentingan militer strategis negaranya.

Tenggelamnya Kapal Selam K-129 pada 1968

Pada 1 Maret 1968, K-129 berangkat dari Petropavlovsk menuju daerah patroli di Samudra Pasifik bagian utara, di timur laut Hawaii.

Setelah meninggalkan pangkalan, kapal tersebut hilang bersama seluruh awaknya.

K-129 tidak kembali sesuai perkiraan. Ketika kapal gagal mengirimkan laporan posisi sebagaimana diharapkan, Angkatan Laut Soviet mengerahkan operasi pencarian untuk menemukan kapal dan memastikan nasib para awak.

Pencarian berlangsung pada Maret hingga Mei 1968.

Menurut memorandum pemerintah Amerika Serikat yang kemudian dideklasifikasi, operasi tersebut melibatkan sedikitnya 53 pesawat dan 37 kapal.

Meskipun mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar, pihak Soviet tidak berhasil menemukan bangkai K-129.

Jumlah awak K-129 umumnya dicatat sekitar 98 orang. Seluruhnya tewas dalam insiden tersebut.

Adapun tanggal pasti tenggelamnya kapal belum dapat dipastikan secara definitif dari sumber publik yang dirujuk.

Apa Penyebab K-129 Tenggelam?

Penyebab tenggelamnya kapal selam Soviet K-129 masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan.

Sejumlah hipotesis pernah diajukan, tetapi bukti yang tersedia belum cukup untuk menetapkan satu penyebab sebagai fakta yang telah terbukti.

Salah satu hipotesis berkaitan dengan kemungkinan kegagalan sistem snorkel yang menyebabkan air laut masuk ke dalam kapal.

Air laut dapat mengganggu sistem kelistrikan dan menyebabkan kerusakan yang membahayakan keselamatan kapal.

Gangguan pada baterai dan sistem kelistrikan juga pernah dibahas sebagai kemungkinan penyebab kecelakaan.

Selain itu, muncul dugaan bahwa K-129 bertabrakan dengan kapal selam Amerika Serikat. Namun, dugaan tabrakan tersebut tidak terbukti.

Kondisi bangkai kapal setelah ditemukan tidak dengan sendirinya menjelaskan rangkaian kejadian yang menyebabkan kapal tenggelam.

Penemuan Bangkai K-129 oleh Amerika Serikat

Pada 1968, Amerika Serikat berhasil menemukan lokasi bangkai K-129 melalui operasi pencarian bawah laut yang melibatkan USS Halibut.

Kapal selam Amerika tersebut memiliki kemampuan pengintaian bawah laut yang digunakan untuk mendokumentasikan objek di dasar samudra.

Bangkai K-129 berada pada kedalaman sekitar 16.500 kaki atau 5.000 meter di Samudra Pasifik.

Lokasinya berada sekitar 1.500 mil dari Hawaii menurut catatan CIA, meskipun angka jarak dapat berbeda dalam sejumlah sumber.

Penemuan tersebut memberi Amerika Serikat akses terhadap informasi mengenai lokasi dan kondisi fisik kapal selam Soviet yang sebelumnya hilang.

Dokumentasi bawah laut, termasuk foto-foto bangkai, membantu para pejabat dan teknisi menilai kemungkinan pengangkatan.

K-129 memiliki nilai intelijen karena membawa persenjataan strategis dan perlengkapan militer Soviet.

Bangkai kapal berpotensi menyediakan informasi mengenai teknologi rudal, sistem navigasi, komunikasi, perangkat kriptografi, dan sejumlah aspek lain dari kemampuan militer Soviet.

Dari sinilah muncul rencana untuk mengangkat bangkai kapal secara rahasia.

Operasi tersebut kemudian dikenal dengan nama Project Azorian.

Pada akhir Juni 1975, pihak Soviet telah mengetahui tujuan Project Azorian dan mengirim kapal untuk memantau lokasi.

Setelah penyamaran operasi tidak lagi dapat dipertahankan, rencana pengangkatan lanjutan dibatalkan oleh pemerintahan Presiden Gerald Ford.

Pengungkapan Project Azorian mengakhiri upaya CIA untuk mengangkat bagian K-129 yang masih tertinggal.

Sebagian besar bangkai kapal tetap berada di dasar Samudra Pasifik, sedangkan hasil operasi 1974 menjadi bagian penting dari sejarah intelijen Amerika Serikat selama Perang Dingin. [BP]

Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia untuk membaca artikel sejarah lainnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I