Catatan Cak AT:
Seorang jenderal polisi berdiri di atas mimbar kayu. Seragam cokelat membungkus tubuhnya, tanda pangkat melekat di bahu, atribut kedinasan menghiasi dadanya. Kopiah hitam bertengger di kepala.
Di hadapannya, jamaah Jumat menyimak khutbah. Pemandangan ini mempertemukan dua simbol: mimbar yang mengingatkan manusia pada kerendahan hati dan seragam yang menunjukkan kedudukan dalam hierarki kekuasaan.
Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Kapolri yang baru dilantik pada awal bulan ini, menjadi khatib di Masjid Al-Ikhlas, Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan jamaah agar menjauhi kesombongan, menghormati sesama, dan menjalankan jabatan sebagai amanah.
Nasihat itu terdengar akrab. Namun, ketika seorang pejabat tertinggi kepolisian menyampaikannya, pesan tersebut memperoleh makna berlapis. Ia tertuju kepada dirinya sendiri, kepada jamaah, dan kepada seluruh rengrengan yang menyertainya.
Istilah Sunda rengrengan menggambarkan rombongan orang yang mendampingi seorang tokoh. Dalam tata kedinasan, kehadiran pejabat tinggi lazim disertai ajudan, pengawal, staf, dan pejabat pendamping sesuai kebutuhan serta protokol.
Tim Voorijder dapat membuka jalan, pengawalan menjalankan tugas keamanan, dan pejabat setempat menyambut sesuai ketentuan. Semua memiliki fungsi. Namun, seluruh perangkat itu sekaligus menampilkan kedudukan sang pejabat di hadapan publik.
Ketika jenderal naik mimbar, dengan demikian, ia membawa lebih dari dirinya sendiri. Seluruh tata hierarki yang mengiringinya ikut memasuki ruang ibadah. Pangkat tetap terpasang, protokol tetap bekerja, dan rengrengan tetap menyertai. Sementara itu, isi khutbahnya mengajak manusia merendahkan hati.
Di sinilah letak paradoks yang menarik untuk direnungkan. Khutbah itu pertama-tama kembali kepada sang jenderal. Ketika ia menyebut jabatan dan kekuasaan sebagai amanah, ia sedang mengingatkan dirinya sendiri tentang tanggung jawab yang melekat pada kedudukannya. Pangkat tertinggi memberinya kewenangan besar, tetapi juga menuntut pengendalian diri yang lebih besar.
Berikutnya, pesan menjangkau jamaah. Mereka mendengar seorang pemimpin kepolisian mengingatkan pentingnya kesederhanaan dan penghormatan terhadap sesama. Jabatan pembicara membuat nasihat tersebut bersentuhan langsung dengan persoalan kehidupan publik: bagaimana kekuasaan digunakan dan bagaimana pemegangnya memperlakukan orang lain.
Lingkaran ketiga yang dijangkau pesan ialah jajaran yang berada di bawah komandonya. Para perwira, ajudan, pengawal, staf, dan anggota kepolisian yang menyaksikan khutbah itu dapat menangkap pesan yang melampaui nasihat pribadi.
Suyudi menasehati dalam khotbahnya, jangan menggunakan pangkat untuk merendahkan orang lain. Jangan menjadikan seragam sebagai alat menakut-nakuti warga. Jangan merasa lebih tinggi hanya karena memiliki akses kepada atasan.
Tentu, kita tidak mengetahui bagaimana setiap orang menafsirkan khutbah tersebut. Namun, kedudukan Suyudi membuat perkataannya mempunyai jangkauan yang berbeda dari khutbah seorang jamaah biasa.
Ia berbicara sebagai seorang Muslim sekaligus pemimpin institusi dengan struktur komando yang luas. Nasihat moralnya berpotensi menjadi pesan kepemimpinan bagi seluruh jajaran.
Persoalannya, apakah hierarki kedinasan selalu sejalan dengan semangat kerendahan hati? Belum tentu.
Dalam salat berjamaah, manusia berdiri dalam saf yang sama. Pangkat, kekayaan, dan kedudukan sosial tidak menentukan keutamaan seseorang di hadapan Allah. Di luar saf, kehidupan kembali berjalan menurut struktur dan aturan.
Kepolisian membutuhkan jenjang komando agar tugas terlaksana dengan tertib. Protokol juga memiliki fungsi keamanan dan administratif. Kita tidak perlu menganggap semua itu sebagai kesombongan.
Namun, tata hierarki menghasilkan kesan sosial yang tidak selalu berhenti pada fungsi resminya. Kehadiran seorang jenderal beserta pengawalan dapat membuat orang merasa terhormat, tetapi juga mungkin membuat sebagian orang sungkan.
Sebuah acara keagamaan pun dapat menghadirkan suasana yang berbeda ketika tokoh berkuasa datang bersama rombongannya.
Dalam kajian sosiologi, Erving Goffman menjelaskan bagaimana penampilan, tata tempat, dan perilaku membentuk kesan dalam interaksi sosial. Kita dapat memakai gagasan itu untuk membaca foto Suyudi.
Sebelum mengucapkan satu kalimat pun, seragam, pangkat, dan posisi sang jenderal sudah menyampaikan informasi tentang kedudukannya. Ketika ia berbicara tentang kerendahan hati, publik menangkap pesan verbal sekaligus membaca panggung sosial yang menyertainya.
Kita tidak perlu menuduh Suyudi sengaja mempertontonkan kekuasaan. Protokol dapat berjalan karena kewajiban kedinasan, bukan karena keinginan untuk memperoleh penghormatan.





