Eksperimen manusia yang dilakukan Nazi Jerman selama Perang Dunia II menjadi salah satu kejahatan medis paling terkenal dalam sejarah. Namun, mereka bukan yang satu-satunya.
Di Asia, Unit 731 milik Angkatan Darat Kekaisaran Jepang juga menjalankan eksperimen manusia secara brutal sebagai bagian dari program perang biologis.
Apa Itu Unit 731?
Unit 731 adalah organisasi rahasia Angkatan Darat Kekaisaran Jepang yang menjadi pusat penting dalam program perang biologis Jepang.
Fasilitas utamanya berada di Pingfang, dekat Harbin, Manchuria, wilayah yang saat itu berada di bawah kendali Jepang melalui Manchukuo.
Nama “Unit 731” berasal dari kode numerik yang digunakan dalam sistem penamaan unit militer Jepang.
Nama resminya berkaitan dengan Departemen Pencegahan Epidemi dan Penyediaan Air (Epidemic Prevention and Water Supply Department), sehingga kegiatan penelitian perang biologisnya dapat disamarkan di balik fungsi kesehatan militer.
Di balik fungsi administratif tersebut, Unit 731 menjalankan penelitian terhadap penyakit menular, agen biologis, senjata biologis, serta eksperimen terhadap manusia.
Kompleks Pingfang berkembang menjadi fasilitas besar dengan lebih dari 150 bangunan, berbagai laboratorium, fasilitas produksi, tempat pemeliharaan hewan, dan area tahanan.
Unit 731 sendiri diperkirakan memiliki sekitar 3.000 personel pada masa perkembangannya, sementara jaringan unit biologis Jepang yang lebih luas melibatkan ribuan personel lainnya.
Unit 731 beroperasi hingga Jepang menyerah pada Agustus 1945.
Awal Program Perang Biologis Jepang
Program perang biologis Jepang mulai berkembang pada awal 1930-an.
Salah satu tokoh utamanya adalah Shirō Ishii, dokter dan perwira medis Angkatan Darat Kekaisaran Jepang yang mendorong pengembangan penelitian biologis untuk kepentingan militer.
Pada 1933, Ishii mendirikan fasilitas yang dikenal sebagai Tōgō Unit di Beiyinhe, sekitar 100 kilometer dari Harbin. Fasilitas tersebut menjadi salah satu tahap awal jaringan penelitian Ishii di Manchuria dan digunakan untuk penelitian biologis serta eksperimen terhadap manusia.
Pada 1936, organisasi yang kemudian dikenal sebagai Unit 731 secara resmi dibentuk di bawah Angkatan Darat Kwantung.
Markas utamanya kemudian dipindahkan dan dikembangkan di Pingfang, yang berubah menjadi pusat penelitian, produksi, dan pengujian perang biologis Jepang.
Markas Unit 731 di Pingfang
Kompleks Unit 731 di Pingfang berkembang menjadi fasilitas penelitian berukuran besar dengan lebih dari 150 bangunan dan berbagai bagian khusus. Di dalamnya terdapat laboratorium, fasilitas produksi, tempat pemeliharaan hewan, fasilitas penelitian, serta area penahanan tahanan yang digunakan dalam eksperimen.
Kapasitas penahanan pada suatu periode diperkirakan mencapai sekitar 600 orang.
Kegiatan di dalam kompleks berkaitan dengan penelitian penyakit menular, produksi dan pengujian agen biologis, eksperimen terhadap manusia dan hewan, serta pengembangan metode penggunaan penyakit sebagai senjata.
Pada 1942, kepemimpinan Unit 731 beralih kepada Masaji Kitano, yang memimpin unit tersebut hingga 1945. Di bawah jaringan yang lebih luas, terdapat sejumlah unit lain dengan fungsi berbeda.
Unit 100, misalnya, merupakan organisasi tersendiri yang banyak berfokus pada penelitian penyakit hewan dan pengembangan perang biologis.
Eksperimen Manusia Unit 731
Salah satu bagian paling terdokumentasi dari sejarah Unit 731 adalah eksperimen terhadap manusia yang ditahan oleh militer Jepang.
Dalam sejumlah eksperimen, tahanan sengaja diinfeksi dengan patogen seperti bakteri penyebab pes, kolera, antraks, dan penyakit lainnya.
Peneliti kemudian mengamati perkembangan penyakit, perubahan organ, tingkat kematian, serta respons tubuh terhadap infeksi. Beberapa korban menjalani viviseksi ketika masih hidup untuk memungkinkan pemeriksaan langsung terhadap perubahan organ akibat penyakit.
Eksperimen juga mencakup penelitian mengenai frostbite dan paparan suhu ekstrem serta pengujian fisiologis lain yang berkaitan dengan kebutuhan militer.
Selain eksperimen di dalam fasilitas, sebagian hasil penelitian manusia digunakan untuk memahami efektivitas metode inokulasi dan penyebaran agen biologis dalam operasi perang.
Korban berasal dari berbagai kelompok yang ditahan oleh militer Jepang, terutama orang China, serta orang Korea, Mongolia, dan warga Uni Soviet.
Penyakit yang Diteliti Unit 731
Penelitian Unit 731 dan jaringan perang biologis Jepang mencakup sejumlah penyakit menular dan agen biologis.
Beberapa agen yang terdokumentasi dalam program tersebut antara lain:
• Yersinia pestis, bakteri penyebab penyakit pes;
• Bacillus anthracis, bakteri penyebab antraks;
• Vibrio cholerae, bakteri penyebab kolera;
• Salmonella Typhi, penyebab demam tifoid;
• Shigella, penyebab disentri;
• Neisseria meningitidis, penyebab penyakit meningokokus;
• Clostridium botulinum, berkaitan dengan botulisme;
Beberapa sumber juga mencatat penelitian terhadap tifus, paratifus, bruselosis, tularemia, dan penyakit lainnya.
Namun, tidak semua agen tersebut dapat secara otomatis dikaitkan dengan aktivitas Unit 731 di Pingfang karena program perang biologis Jepang melibatkan beberapa unit dan fasilitas dengan fungsi berbeda.
Selain manusia, Unit 731 menggunakan hewan dan serangga dalam penelitian.
Hewan dimanfaatkan untuk mempelajari siklus penyakit dan mempertahankan patogen, sedangkan penelitian entomologi terutama berfokus pada kutu yang dapat membawa pes.
Senjata Biologis Jepang Digunakan di China
Kegiatan perang biologis Jepang tidak berhenti di kompleks penelitian Unit 731. Hasil penelitian dan agen biologis yang dikembangkan di jaringan tersebut juga digunakan dalam operasi lapangan di China.
Salah satu metode yang terdokumentasi adalah penggunaan kutu yang membawa bakteri penyebab pes. Jepang juga mengembangkan metode penyebaran melalui perangkat yang dapat membawa agen biologis dan melakukan serangan menggunakan pesawat.
Pada 1940, operasi berskala lebih besar dilakukan di China tengah.
Patogen yang dikembangkan oleh Unit 731 dikirim ke Unit 1644 di Nanjing, yang berfungsi sebagai salah satu pangkalan untuk operasi biologis.
Serangan berlangsung hingga 1942 dan mencakup sejumlah wilayah di sepanjang Sungai Yangtze. Ningbo menjadi salah satu lokasi yang paling terdokumentasi.
Serangan biologis terjadi pada 27 Oktober 1940 dan melibatkan penyebaran agen yang berkaitan dengan pes. Changde di Provinsi Hunan juga menjadi salah satu lokasi yang dikaitkan dengan operasi perang biologis Jepang.
Berapa Korban Unit 731?
Jumlah korban Unit 731 tidak memiliki satu angka pasti yang diterima oleh seluruh peneliti. Penghancuran fasilitas dan dokumen pada akhir perang membuat jumlah korban sulit dihitung secara akurat.
Untuk Unit 731 di Pingfang, angka sekitar 3.000 korban yang meninggal akibat eksperimen manusia sering digunakan dalam penelitian sejarah.
Namun, angka tersebut merupakan perkiraan dan tidak dapat dianggap sebagai jumlah pasti. Penelitian dengan cakupan lebih luas memperkirakan lebih dari 10.000 tahanan meninggal akibat eksperimen dalam program perang biologis Jepang antara 1932 dan 1945.
Angka tersebut mencakup jaringan fasilitas dan unit yang lebih luas, sehingga tidak tepat digunakan sebagai jumlah korban Unit 731 saja. Selain korban eksperimen di fasilitas penelitian, operasi perang biologis Jepang di wilayah China juga menyebabkan korban akibat wabah yang sengaja ditimbulkan.
Jumlah kematian akibat operasi tersebut jauh lebih sulit dihitung karena wabah yang terjadi di lapangan dapat bercampur dengan penyakit yang muncul secara alami dan kondisi perang.
Unit 731 Dihancurkan pada 1945
Ketika Jepang menghadapi kekalahan pada akhir Perang Dunia II, kegiatan Unit 731 berakhir.
Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, sebagian besar personel utama Unit 731 meninggalkan markas dan kembali ke Jepang pada akhir Agustus hingga awal September.
Sebelum dan selama penarikan tersebut, fasilitas Unit 731 di Pingfang dihancurkan untuk menghilangkan bukti kegiatan mereka.
Para tahanan yang masih berada di kompleks juga dibunuh, sementara berbagai dokumen dan fasilitas penelitian dimusnahkan.
Namun, tidak seluruh bukti berhasil dihilangkan. Sejumlah dokumen Jepang, kesaksian mantan anggota unit, hasil investigasi Amerika Serikat, serta materi dari Pengadilan Khabarovsk kemudian menjadi sumber penting untuk merekonstruksi kegiatan Unit 731.
Apa yang Terjadi pada Shirō Ishii Setelah Perang?
Setelah Jepang menyerah, Shirō Ishii menjadi salah satu tokoh utama yang diselidiki terkait program perang biologis Jepang.
Amerika Serikat menyelidiki Ishii dan personel Unit 731 melalui SCAP serta ahli militer dan medis, termasuk personel yang dikirim dari Fort Detrick, sejak 1945 hingga 1948.
Pada awalnya, penyelidikan Amerika Serikat berfokus pada pengumpulan informasi mengenai penelitian perang biologis Jepang.
Dalam proses tersebut, para penyelidik memperoleh data mengenai eksperimen manusia, produksi agen biologis, dan metode penggunaannya. Ishii sendiri tidak pernah diadili sebagai penjahat perang dalam Tokyo Trial atas kegiatan Unit 731.
Para anggota utama Unit 731 yang kembali ke Jepang juga tidak diadili oleh pengadilan Amerika sebagai penjahat perang.
Penelitian sejarah mengenai proses pascaperang menunjukkan bahwa Amerika Serikat memberikan kekebalan dari penuntutan kepada para peneliti utama sebagai bagian dari upaya memperoleh data perang biologis mereka.
Namun, hal ini tidak berarti seluruh personel yang terkait dengan program biologis Jepang bebas dari proses hukum. Sejumlah anggota dan pejabat yang ditangkap Uni Soviet kemudian diadili dalam Pengadilan Khabarovsk pada 1949.
Pengadilan Khabarovsk 1949
Pada Desember 1949, Uni Soviet menggelar Pengadilan Khabarovsk terhadap 12 mantan personel militer Jepang yang didakwa terlibat dalam pembuatan dan penggunaan senjata biologis.
Persidangan berlangsung pada 25–29 Desember 1949 dan melibatkan mantan anggota Unit 731 serta Unit 100, bersama sejumlah pejabat militer Jepang yang dianggap bertanggung jawab atas program tersebut.
Materi persidangan memuat dakwaan, pemeriksaan terdakwa, kesaksian, serta dokumen mengenai penelitian dan penggunaan senjata biologis Jepang.
Seluruh terdakwa dijatuhi hukuman penjara antara dua hingga 25 tahun.
Pengadilan Khabarovsk kemudian menjadi salah satu sumber awal penting mengenai program perang biologis Jepang. Pada masa itu, negara-negara Barat mempertanyakan kredibilitas persidangan tersebut dan menganggapnya berkaitan dengan kepentingan politik Soviet.
Namun, penelitian berikutnya yang menggunakan arsip Jepang, Amerika Serikat, China, dan Rusia menemukan bukti yang menguatkan banyak aspek mengenai keberadaan dan kegiatan program perang biologis Jepang.
Unit 731 dalam Sejarah Kedokteran
Sejarah Unit 731 juga menjadi bagian dari penelitian mengenai etika kedokteran, eksperimen terhadap manusia, dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan dalam perang.
Eksperimen dilakukan terhadap tahanan tanpa persetujuan mereka dan diarahkan pada kebutuhan militer, termasuk penelitian penyakit, senjata biologis, dan kemampuan tubuh manusia menghadapi kondisi ekstrem.
Penelitian mengenai Unit 731 mulai berkembang setelah perang melalui kesaksian, dokumen militer, dan terutama publikasi materi Pengadilan Khabarovsk.
Sejak 1980-an, penelitian berkembang lebih luas di Jepang, China, Amerika Serikat, dan negara lain.
Para peneliti menggunakan sejarah kedokteran, arsip militer, bioetika, ilmu pengetahuan, dan studi perang untuk merekonstruksi program tersebut.
Arsip yang tersedia kini membantu peneliti menelusuri struktur organisasi, personel, lokasi penelitian, eksperimen manusia, metode perang biologis, dan hubungan antara Unit 731 dengan unit-unit lain.
Pada 2007, National Archives Amerika Serikat juga menerbitkan pilihan sekitar 1.400 dokumen yang berkaitan dengan Unit 731, eksperimen biologis, dan serangan biologis Jepang selama Perang Dunia II.
Meskipun sumber sejarah semakin banyak, jumlah korban dan beberapa rincian operasi tetap sulit dipastikan karena sebagian besar fasilitas dan dokumen dihancurkan pada akhir perang.
Karena itu, penelitian Unit 731 masih terus berkembang melalui perbandingan antara arsip Jepang, Amerika Serikat, China, Rusia, kesaksian, dan sumber akademik lainnya. [BP]
Jangan lupa follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia agar kamu bisa membaca artikel sejarah dan informasi menarik lainnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I





