Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober untuk meningkatkan kesadaran global dan mendorong berbagai tindakan dalam mendukung kesehatan mental. Peringatan ini diluncurkan pada 10 Oktober 1992 oleh Federasi Kesehatan Mental Dunia atau World Federation for Mental Health (WFMH).
Pada 2026, tema yang diusung adalah “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”. Tema tersebut menyoroti pentingnya mendengarkan pengalaman orang-orang yang hidup dengan gangguan kesehatan mental serta memastikan suara mereka turut membentuk kebijakan, layanan dukungan, dan praktik di tempat kerja.
Mengutip Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mendengarkan dan belajar dari pengalaman hidup merupakan hal penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat secara mental, saling mendukung, dan tangguh.
Memberikan kesempatan kepada setiap personel untuk merasa didengarkan dan didukung dapat meningkatkan kesejahteraan, memperkuat kepercayaan dan ikatan, serta membantu membangun tempat kerja yang sehat dan berkelanjutan.
Kesehatan mental menjadi aspek penting dalam kehidupan karena gangguan mental dapat memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, hingga kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai jenis-jenis gangguan mental dan gejalanya diperlukan agar persoalan ini dapat dikenali dan ditangani secara tepat.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa gangguan mental mencakup berbagai kondisi dengan tanda dan gejala yang berbeda.
Secara umum, gangguan tersebut ditandai dengan kombinasi pola pikir, emosi, perilaku, dan hubungan dengan orang lain yang tidak biasa.
Gangguan mental juga dapat berkaitan dengan tekanan atau masalah dalam menjalankan fungsi sosial, pekerjaan, maupun kehidupan keluarga. Berdasarkan berbagai jenis gangguan yang dijelaskan WHO, berikut beberapa kondisi kesehatan mental yang perlu diketahui.
1. Gangguan Kecemasan
Pada 2023, sebanyak 470 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan, termasuk 146 juta anak dan remaja.
Gangguan kecemasan ditandai dengan rasa takut dan khawatir yang berlebihan serta perubahan perilaku yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Gejalanya dapat menimbulkan penderitaan yang signifikan atau mengganggu kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari.
Terdapat beberapa jenis gangguan kecemasan, di antaranya gangguan kecemasan umum yang ditandai dengan kekhawatiran berlebihan, gangguan panik yang ditandai dengan serangan panik, gangguan kecemasan sosial yang berkaitan dengan ketakutan dalam situasi sosial, serta gangguan kecemasan perpisahan yang ditandai dengan rasa takut berlebihan ketika berpisah dari orang-orang yang memiliki ikatan emosional mendalam.
Pengobatan psikologis yang efektif tersedia untuk gangguan kecemasan. Bergantung pada usia dan tingkat keparahannya, penggunaan obat-obatan juga dapat dipertimbangkan.
2. Depresi
Depresi merupakan gangguan mental yang umum dan menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia. Kondisi ini juga berkaitan dengan peningkatan risiko bunuh diri.
Pada 2023, sebanyak 322 juta orang hidup dengan depresi, termasuk 43 juta anak dan remaja.
Depresi berbeda dari perubahan suasana hati biasa maupun respons emosional jangka pendek terhadap tantangan kehidupan sehari-hari. Seseorang yang mengalami episode depresi dapat merasakan kesedihan, mudah tersinggung, kehampaan, atau kehilangan minat dan kesenangan dalam berbagai aktivitas.
Gejala tersebut muncul hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama setidaknya dua minggu. Gejala lainnya dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, perasaan bersalah berlebihan, rendah diri, keputusasaan terhadap masa depan, pikiran tentang kematian atau bunuh diri, gangguan tidur, perubahan nafsu makan atau berat badan, serta kelelahan dan kekurangan energi.
Berbagai faktor dapat berkontribusi terhadap depresi, termasuk faktor genetik, trauma, kehilangan orang yang berharga, kesulitan menjalin hubungan, dan situasi lain yang menimbulkan stres.
Pengobatan psikologis yang efektif tersedia untuk menangani depresi. Bergantung pada usia dan tingkat keparahan kondisi, obat-obatan juga dapat dipertimbangkan.
3. Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan episode depresi yang bergantian dengan periode gejala manik.
Pada 2023, sebanyak 36 juta orang mengalami gangguan bipolar, termasuk 3,3 juta remaja berusia 10–19 tahun.
Ketika mengalami episode depresi, seseorang dapat merasakan kesedihan, mudah tersinggung, kehampaan, atau kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Sementara itu, gejala manik dapat berupa perasaan sangat gembira atau mudah tersinggung, peningkatan aktivitas dan energi, banyak berbicara, pikiran yang berpacu, peningkatan harga diri, berkurangnya kebutuhan tidur, mudah teralihkan, serta perilaku impulsif dan ceroboh.
Gangguan bipolar dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Penanganan yang efektif tersedia, antara lain melalui psikoedukasi, penguatan fungsi sosial, dan penggunaan obat-obatan.
4. Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)
Gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) dapat berkembang setelah seseorang mengalami peristiwa atau serangkaian kejadian yang sangat mengancam atau mengerikan.
Kondisi ini ditandai dengan beberapa gejala utama. Pertama, seseorang mengalami kembali peristiwa traumatis dalam bentuk ingatan yang mengganggu, kilas balik, atau mimpi buruk.
Kedua, muncul kecenderungan menghindari pikiran dan ingatan mengenai peristiwa tersebut, termasuk aktivitas, situasi, atau orang yang mengingatkannya pada kejadian traumatis.
Ketiga, terdapat persepsi ancaman yang terus-menerus dan meningkat pada saat ini.
Gejala-gejala tersebut berlangsung setidaknya selama beberapa minggu dan menyebabkan gangguan fungsi yang signifikan. Pengobatan psikologis yang efektif tersedia untuk membantu menangani PTSD.
5. Skizofrenia
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang memengaruhi persepsi dan perilaku seseorang. Pada 2023, kondisi ini diperkirakan dialami oleh 27 juta orang atau satu dari 300 orang di seluruh dunia.
Penderita skizofrenia rata-rata meninggal sembilan tahun lebih awal dibandingkan populasi umum.
Gejala skizofrenia dapat berupa delusi yang menetap, halusinasi, pemikiran yang tidak terorganisasi, perilaku yang sangat tidak terorganisasi, atau agitasi ekstrem. Penderita juga dapat mengalami kesulitan yang menetap dalam menjalankan fungsi kognitif.
Dalam sejumlah kasus, gejala dapat terlihat melalui gangguan dalam berbicara dan berperilaku, termasuk berbicara tidak koheren atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa.
Skizofrenia dapat ditangani melalui berbagai pendekatan, termasuk penggunaan obat-obatan, psikoedukasi, intervensi keluarga, dan rehabilitasi psikososial.
6. Demensia
Demensia merupakan kondisi yang biasanya bersifat kronis atau progresif, ditandai dengan penurunan fungsi kognitif yang melampaui perubahan yang diharapkan dalam proses penuaan normal.
Penurunan fungsi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mengingat, berpikir, menentukan orientasi, melakukan perhitungan, belajar, menggunakan bahasa, dan mengambil keputusan.
Kerusakan fungsi kognitif umumnya disertai, dan terkadang didahului, penurunan kemampuan mengendalikan emosi, perilaku sosial, atau motivasi.
Demensia termasuk kondisi yang memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang, terutama kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
7. Gangguan Makan
Pada 2023, sebanyak 18 juta orang mengalami gangguan makan, termasuk 4,7 juta anak dan remaja.
Gangguan makan, seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa, melibatkan pola makan yang tidak normal, obsesi terhadap makanan, serta kekhawatiran berlebihan mengenai berat dan bentuk tubuh.
Gejala atau perilaku tersebut dapat menimbulkan risiko atau kerusakan kesehatan yang signifikan, tekanan psikologis, maupun gangguan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Anoreksia nervosa sering kali dimulai pada masa remaja atau awal masa dewasa. Kondisi ini berkaitan dengan risiko kematian dini akibat komplikasi medis atau bunuh diri.
Sementara itu, individu dengan bulimia nervosa memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyalahgunaan zat, bunuh diri, dan komplikasi kesehatan.
Penanganan yang efektif tersedia, termasuk pengobatan berbasis keluarga dan terapi berbasis kognitif.
8. Gangguan Perilaku dan Disosial
Pada 2023, sebanyak 39 juta anak dan remaja hidup dengan gangguan perilaku-disosial.
Gangguan ini ditandai dengan masalah perilaku yang menetap, seperti pembangkangan atau ketidakpatuhan yang terus-menerus. Kondisi tersebut juga dapat berupa perilaku yang secara berulang melanggar hak-hak dasar orang lain atau norma, aturan, maupun hukum masyarakat yang sesuai dengan usia.
Kemunculan gangguan perilaku dan disosial umumnya terjadi pada masa kanak-kanak, meskipun tidak selalu demikian.
Penanganan psikologis yang efektif tersedia, antara lain melalui pendekatan pemecahan masalah kognitif dan pelatihan keterampilan sosial. Proses penanganan tersebut sering kali melibatkan orang tua, pengasuh, dan guru.
9. Gangguan Perkembangan Saraf
Gangguan perkembangan saraf merupakan gangguan perilaku dan kognitif yang muncul selama masa perkembangan. Kondisi ini melibatkan kesulitan signifikan dalam memperoleh dan menjalankan fungsi intelektual, motorik, bahasa, atau sosial tertentu.
Gangguan perkembangan saraf mencakup gangguan perkembangan intelektual, gangguan spektrum autisme, serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).
ADHD ditandai dengan pola ketidakfokusan dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang menetap serta berdampak negatif pada fungsi akademik, pekerjaan, atau sosial.
Gangguan perkembangan intelektual ditandai dengan keterbatasan signifikan dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif. Keterbatasan tersebut dapat memengaruhi keterampilan konseptual, sosial, dan praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, gangguan spektrum autisme merupakan kelompok kondisi yang beragam. Kondisi ini ditandai dengan tingkat kesulitan tertentu dalam komunikasi dan interaksi sosial timbal balik, serta pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas, berulang, dan tidak fleksibel.
Berbagai penanganan tersedia, termasuk intervensi psikososial, intervensi perilaku, terapi okupasi, dan terapi wicara. Untuk diagnosis dan kelompok usia tertentu, penggunaan obat-obatan juga dapat dipertimbangkan.
Faktor yang Memengaruhi Kesehatan Mental
Kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari individu, keluarga, komunitas, maupun lingkungan sosial yang lebih luas. Faktor-faktor tersebut dapat berperan sebagai pelindung ataupun meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan mental.
Faktor individu dapat mencakup aspek psikologis dan biologis, seperti keterampilan emosional dan genetika. Sementara itu, paparan terhadap kondisi yang merugikan, seperti kemiskinan, kekerasan, disabilitas, dan ketidaksetaraan, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.
Faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan mental meliputi pengalaman awal kehidupan, proses pembelajaran, hubungan keluarga, interaksi sosial, perubahan sosial, kondisi lingkungan, serta faktor biologis yang berkaitan dengan otak dan sistem tubuh.
Gangguan mental dapat menimbulkan tekanan psikologis dan menghambat kemampuan seseorang menjalankan peran sosial, pekerjaan, maupun tanggung jawab dalam keluarga.
Pentingnya Layanan Kesehatan Mental dan Dukungan Sosial
WHO menjelaskan bahwa sistem kesehatan di berbagai negara belum memberikan respons yang memadai terhadap kebutuhan orang dengan gangguan mental dan masih menghadapi keterbatasan sumber daya.
Kesenjangan antara kebutuhan dan penyediaan layanan pengobatan masih lebar di berbagai belahan dunia. Bahkan, ketika layanan tersedia, kualitas perawatan yang diberikan sering kali belum memadai.
Sebagai gambaran, hanya 40 persen orang dengan psikosis dan sepertiga orang dengan depresi yang menerima perawatan kesehatan mental formal.
Selain penanganan medis dan psikologis, orang dengan gangguan mental juga membutuhkan dukungan sosial. Dukungan tersebut dapat membantu mereka mengembangkan dan mempertahankan hubungan pribadi, keluarga, serta sosial.
Mereka juga mungkin membutuhkan bantuan untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, dan perumahan, sekaligus memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. [UN]





