Pulau Zhenbao/Damansky yang disengketakan oleh China dan Uni Soviet selama Konflik Sungai Ussuri 1969. (Sumber: Wikimedia Commons)

Konflik Sungai Ussuri 1969 merupakan salah satu bentrokan paling serius dalam hubungan China dan Uni Soviet selama Perang Dingin.

Pertempuran terjadi di Zhenbao Dao, sebuah pulau kecil di Sungai Ussuri yang juga disebut Damansky Island oleh Uni Soviet.

Bentrokan pertama terjadi pada 2 Maret 1969 dan kembali pecah dalam skala lebih besar pada 14–15 Maret.

Ketegangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa sengketa perbatasan China–Soviet dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas.

Latar Belakang Konflik Sungai Ussuri 1969

Konflik Sungai Ussuri berlangsung saat terjadinya Sino-Soviet split, yaitu perpecahan politik dan ideologis antara kedua negara komunis tersebut.

Perselisihan mengenai arah komunisme internasional berkembang menjadi persaingan yang lebih luas.

Persoalan perbatasan menjadi salah satu sumber ketegangan langsung antara Beijing dan Moskow.

Sengketa itu sebetulnya telah berlangsung selama beberapa tahun sebelum 1969. Perundingan pada 1964 tidak menghasilkan kesepakatan.

Ketegangan meningkat pada pertengahan 1960-an, sementara aktivitas dan kesiapan militer Soviet di sepanjang perbatasan juga bertambah.

Situasi semakin rumit setelah Revolusi Kebudayaan dimulai di China pada 1966.

Insiden antara pasukan perbatasan kedua negara semakin sering terjadi di wilayah yang statusnya diperselisihkan.

Mengapa China dan Uni Soviet Berebut Pulau Zhenbao?

Salah satu titik utama sengketa perbatasan China–Uni Soviet berada di Sungai Ussuri.

Pulau tersebut dikenal sebagai Zhenbao Dao di China dan Damansky Island di Uni Soviet.

Pulau Zhenbao merupakan pulau kecil dan tidak berpenduduk.

Statusnya menjadi sengketa karena kedua pemerintah memiliki penafsiran berbeda mengenai garis perbatasan dan pengaturan wilayah yang berasal dari perjanjian China–Rusia pada abad ke-19.

Bagi pemerintah China, persoalan perbatasan tersebut juga berkaitan dengan sejarah perjanjian yang dianggap sebagai unequal treaties.

Pemerintah Soviet mempertahankan interpretasinya sendiri mengenai garis perbatasan dan wilayah yang disengketakan.

Insiden Perbatasan Sebelum Pertempuran 1969

Sebelum terjadi pertempuran besar, pasukan perbatasan China dan Soviet telah berulang kali berhadapan di wilayah yang disengketakan.

Pasukan dari kedua negara berkegiatan di kawasan yang masing-masing dianggap sebagai wilayah sendiri.

Ketegangan tersebut berkembang menjadi bentrokan yang semakin serius.

Pada awal 1969, situasi perbatasan telah mencapai tingkat ketegangan yang memungkinkan sebuah insiden berubah menjadi pertempuran bersenjata.

Pertempuran Zhenbao pada 2 Maret 1969

Bentrokan besar pertama dalam konflik Sungai Ussuri 1969 terjadi pada 2 Maret 1969 di Zhenbao/Damansky.

Penelitian Thomas W. Robinson dalam American Political Science Review menyimpulkan bahwa pihak China memulai insiden tersebut.

Menurut kajiannya, penjaga perbatasan Soviet masuk ke dalam penyergapan yang telah disiapkan pasukan China.

Penelitian Lorenz M. Lüthi juga menyebut bahwa penjaga perbatasan Soviet masuk ke dalam penyergapan China pada 2 Maret.

Lebih dari 30 penjaga perbatasan Soviet tewas dalam pertempuran pertama, sedangkan jumlah korban China tidak dapat dipastikan dengan tingkat kepastian yang sama.

Rincian mengenai tanggung jawab atas bentrokan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks sumber yang saling bertentangan.

Pemerintah China dan Soviet pada saat itu memberikan narasi berbeda mengenai tindakan pihak lawan.

Pertempuran Kedua di Sungai Ussuri pada 14–15 Maret

Bentrokan pada 2 Maret tidak mengakhiri ketegangan.

Pertempuran kembali terjadi di kawasan Zhenbao/Damansky pada 14–15 Maret 1969 dalam skala yang lebih besar.

Menurut penelitian Robinson, bentrokan pertama melibatkan pasukan lokal, sedangkan pertempuran kedua melibatkan pasukan reguler dalam jumlah beberapa ribu orang serta persenjataan berat.

Penelitian yang sama menyimpulkan bahwa pihak Soviet memulai pertempuran pada 14 Maret.

Dengan demikian, dua pertempuran utama di Zhenbao memiliki rangkaian kejadian yang berbeda mengenai pihak yang memulai bentrokan.

Pertempuran kedua melibatkan artileri dan kendaraan lapis baja.

Menurut penelitian Lüthi, pertempuran 15 Maret menyebabkan sedikitnya 91 korban di pihak China, termasuk 30 tewas.

Di pihak Soviet, korban melebihi 200 orang dengan sedikitnya 91 tewas.

Mengapa Konflik China–Soviet 1969 Menjadi Krisis Internasional?

Setelah pertempuran Maret, hubungan China dan Uni Soviet semakin tegang.

Amerika Serikat mengikuti perkembangan tersebut melalui laporan diplomatik dan intelijen.

Pada Agustus 1969, sebuah National Intelligence Estimate Amerika menyatakan bahwa terdapat alasan untuk mempertimbangkan kemungkinan terjadinya perang besar antara China dan Uni Soviet dalam waktu dekat.

Dokumen tersebut juga menilai bahwa kedua negara memiliki alasan untuk menghindari perang berkepanjangan.

Namun, bentrokan perbatasan dan kemungkinan salah perhitungan tetap menjadi persoalan yang dapat meningkatkan risiko eskalasi.

Perhatian AS tidak hanya tertuju pada pertempuran di Sungai Ussuri.

China dan Uni Soviet merupakan negara dengan kekuatan militer besar, tapi China telah memiliki kemampuan nuklir sejak 1964.

Ancaman Serangan terhadap Fasilitas Nuklir China

Krisis China–Uni Soviet 1969 memasuki tahap yang lebih sensitif karena muncul pembahasan mengenai kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir dan rudal China.

Dalam National Intelligence Estimate pada Agustus 1969, badan intelijen AS menilai bahwa Moskow mungkin mempertimbangkan serangan terhadap fasilitas nuklir dan rudal China tanpa bermaksud terlibat dalam perang berkepanjangan.

Namun, dokumen tersebut juga menilai kemungkinan keputusan seperti itu belum tinggi.

Pada saat yang sama, para penasihat pemerintah AS menilai tindakan tersebut berisiko berkembang menjadi perang besar dengan China.

Terdapat pula laporan mengenai penggunaan istilah seperti “senjata baru” oleh pihak Soviet.

Sumber CIA mencatat bahwa istilah tersebut tidak secara otomatis merujuk pada senjata nuklir dan dapat berkaitan dengan peningkatan kemampuan persenjataan konvensional.

China dan Uni Soviet Berusaha Meredakan Ketegangan

Di tengah krisis tersebut, pemerintah dari kedua negara memiliki kepentingan untuk mencegah bentrokan perbatasan berkembang menjadi perang besar.

Pada Maret, Zhou Enlai menekankan perlunya mencegah konflik berkembang menjadi perang berskala luas.

Kepemimpinan Soviet juga menghadapi risiko apabila konflik berkembang menjadi perang berkepanjangan.

AS juga mempersiapkan berbagai kemungkinan apabila konflik China–Soviet berkembang menjadi perang konvensional atau melibatkan senjata nuklir.

Pertemuan Zhou Enlai dan Alexei Kosygin

Perdana Menteri China Zhou Enlai bertemu dengan Perdana Menteri Uni Soviet Alexei Kosygin di Beijing pada 11 September 1969.

Meskipun pertemuan itu tidak langsung menyelesaikan seluruh sengketa perbatasan, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembicaraan.

Perundingan secara resmi diumumkan pada 7 Oktober dan dimulai di Beijing pada 20 Oktober 1969.

Salah satu prinsip yang dibahas adalah mempertahankan status quo perbatasan, menghindari bentrokan bersenjata, serta menarik dan memisahkan pasukan yang berhadapan di wilayah sengketa.

Konflik Sungai Ussuri Mereda, tetapi Sengketa Perbatasan Berlanjut

Pembicaraan mengalami kebuntuan setelah putaran awal pada Desember 1969.

Meski demikian, tidak terjadi serangan Soviet yang dikhawatirkan China, sementara situasi di sepanjang perbatasan menjadi lebih tenang selama musim dingin 1969–1970.

Kondisi tersebut secara bertahap mengurangi kekhawatiran akan pecahnya perang besar China–Uni Soviet.

Pada 1 Mei 1970, Mao Zedong menerima kepala delegasi perundingan perbatasan Soviet di Beijing dan kembali mendorong penyelesaian melalui negosiasi.

Konflik Sungai Ussuri 1969 Tidak Berakhir dengan Perjanjian Damai

Konflik Sungai Ussuri 1969 tidak berakhir melalui sebuah perjanjian damai yang langsung menyelesaikan sengketa wilayah.

Yang berakhir adalah fase bentrokan bersenjata besar pada 1969, setelah kedua negara memilih menurunkan risiko eskalasi dan melanjutkan perundingan.

Sengketa perbatasan China–Uni Soviet sendiri tetap berlangsung selama bertahun-tahun.

Meskipun demikian, diplomasi tingkat tinggi dan perundingan perbatasan membantu mencegah bentrokan 1969 berkembang menjadi perang China–Uni Soviet dalam skala yang jauh lebih besar.

Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia agar kamu tidak ketinggalan artikel sejarah menarik lainnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I