Komunisme merupakan salah satu gagasan politik dan ekonomi yang banyak dibicarakan.
Namun, sejumlah pengertian populer tentang komunisme sering kali tidak menunjukkan konteks pemikiran para tokoh yang mengembangkannya.
Untuk memahami komunisme secara lebih akurat, pembahasannya perlu merujuk pada tulisan Karl Marx, Friedrich Engels, serta tokoh yang kemudian mengembangkan pemikiran tersebut, seperti Vladimir Lenin.
1. Kepemilikan Pribadi
Mitos: Komunisme ingin menghapus semua kepemilikan pribadi.
Fakta: Dalam Manifesto Komunis (1848), Marx dan Engels memang menyatakan bahwa salah satu tujuan komunisme adalah penghapusan kepemilikan pribadi.
Namun, mereka secara khusus membahas kepemilikan pribadi borjuis, yaitu bentuk kepemilikan yang berkaitan dengan kapital dan memungkinkan penguasaan atas kerja orang lain.
Marx dan Engels membedakan bentuk kepemilikan tersebut dari kepemilikan yang berasal dari hasil kerja pribadi.
Karena itu, istilah kepemilikan pribadi dalam teori Marx tidak dapat langsung disamakan dengan semua barang yang digunakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kepemilikan Perusahaan
Mitos: Komunisme hanya berarti semua perusahaan diambil alih oleh negara.
Fakta: Dalam teori Marx, perubahan kepemilikan alat-alat produksi merupakan bagian dari perubahan hubungan produksi dan struktur kelas.
Dalam Critique of the Gotha Programme, Marx membahas masyarakat komunis dalam kaitannya dengan produksi, distribusi, kerja, dan perkembangan masyarakat.
Karena itu, konsep komunisme dalam pemikiran Marx memiliki cakupan lebih luas daripada sekadar pengalihan kepemilikan perusahaan kepada negara.
3. Kekayaan dan Kesetaraan
Mitos: Komunisme berarti semua orang memperoleh jumlah kekayaan atau pendapatan yang sama.
Fakta: Marx tidak menggambarkan seluruh masyarakat komunis sebagai masyarakat yang memperoleh jumlah kekayaan yang sama.
Dalam Critique of the Gotha Programme (1875), dia menjelaskan bahwa pada fase pertama masyarakat komunis, distribusi masih berkaitan dengan jumlah kerja yang diberikan.
Marx juga menunjukkan bahwa orang dengan jumlah kerja yang sama dapat menerima hasil yang berbeda karena kondisi pribadi mereka berbeda, seperti jumlah anak dan tanggungan keluarga.
Dengan demikian, Marx sendiri mengakui bahwa distribusi pada fase pertama tersebut belum menghasilkan kesamaan hasil bagi setiap orang.
4. Distribusi Berdasarkan Kebutuhan
Mitos: Prinsip “dari masing-masing menurut kemampuan, kepada masing-masing menurut kebutuhan” berlaku segera setelah kapitalisme berakhir.
Fakta: Dalam Critique of the Gotha Programme, Marx menempatkan prinsip tersebut pada fase lebih tinggi masyarakat komunis.
Dia menjelaskan bahwa fase pertama masih membawa keterbatasan ekonomi dan sosial dari masyarakat sebelumnya.
Distribusi berdasarkan kebutuhan baru ditempatkan Marx setelah produktivitas berkembang, pembagian kerja yang mengekang individu menghilang, perbedaan antara kerja mental dan fisik berakhir, serta kerja menjadi kebutuhan hidup.
5. Eksploitasi Pekerja
Mitos: Dalam teori Marx, eksploitasi berarti setiap pekerja yang menerima gaji pasti diperlakukan dengan buruk.
Fakta: Eksploitasi mempunyai pengertian ekonomi yang spesifik dalam teori Marx.
Dalam Capital, Marx menganalisis bagaimana kapitalis membeli tenaga kerja sebagai komoditas dan menggunakan tenaga kerja tersebut dalam proses produksi yang menghasilkan nilai lebih.
Dalam kerangka tersebut, tingkat nilai lebih digunakan Marx untuk menggambarkan tingkat eksploitasi tenaga kerja oleh kapital.
Jadi, istilah eksploitasi dalam teori Marx merujuk pada hubungan ekonomi tertentu dalam proses produksi, bukan sekadar perlakuan buruk terhadap pekerja.
6. Mesin, Uang, dan Modal
Mitos: Marx menganggap mesin, uang, atau modal sebagai sesuatu yang secara fisik selalu buruk.
Fakta: Dalam Capital, Marx membahas kapital sebagai kategori ekonomi yang berkaitan dengan proses produksi dan hubungan sosial tertentu.
Alat produksi seperti mesin memang merupakan bagian dari proses produksi kapitalis, tetapi kapital tidak sekadar berarti benda fisik, uang, atau mesin.
Analisis Marx berfokus pada bagaimana uang, alat produksi, dan tenaga kerja berfungsi dalam hubungan produksi kapitalis.
Dalam pembahasannya, benda dan uang memperoleh fungsi sebagai kapital dalam kondisi sosial dan ekonomi tertentu.
7. Perjuangan Kelas
Mitos: Menurut Marx, perjuangan kelas hanya berarti konflik antara orang kaya dan orang miskin.
Fakta: Marx dan Engels menghubungkan kelas dengan posisi seseorang dalam hubungan produksi.
Dalam Manifesto Komunis, mereka membahas pertentangan antara borjuasi dan proletariat dalam masyarakat kapitalis.
Karena itu, konsep kelas dalam teori Marx berkaitan dengan hubungan seseorang terhadap proses produksi dan kepemilikan alat produksi, bukan semata-mata jumlah kekayaan yang dimilikinya.
8. Keluarga
Mitos: Marx dan Engels ingin menghapus keluarga.
Fakta: Dalam Manifesto Komunis, Marx dan Engels memang membahas “penghapusan keluarga”, tetapi pembahasan tersebut diarahkan pada keluarga borjuis dan hubungannya dengan kapital serta kepemilikan pribadi.
Mereka juga membahas kondisi keluarga proletar dalam masyarakat kapitalis.
Engels kemudian mengembangkan pembahasan mengenai hubungan keluarga, kepemilikan pribadi, dan negara dalam The Origin of the Family, Private Property and the State (1884).
Karena itu, pernyataan bahwa Marx dan Engels sekadar ingin menghapus seluruh bentuk keluarga tidak menggambarkan konteks pembahasan mereka.
9. Perempuan
Mitos: Komunisme ingin menjadikan perempuan sebagai “milik bersama”.
Fakta: Tuduhan tersebut justru dibahas langsung dalam Manifesto Komunis.
Marx dan Engels menjelaskan bahwa kaum borjuis menganggap penggunaan alat produksi secara bersama berarti perempuan juga akan dijadikan milik bersama.
Mereka kemudian membahas kondisi ketika perempuan diperlakukan sebagai alat produksi dan mengkritik kondisi sosial yang melatarbelakanginya.
Gagasan mengenai emansipasi perempuan kemudian dikembangkan Lenin.
Dalam pidatonya kepada perempuan pekerja pada 1919, Lenin membahas kesetaraan hukum perempuan dan laki-laki serta pengurangan beban pekerjaan rumah tangga melalui perubahan kondisi sosial dan ekonomi.
10. Pendidikan
Mitos: Komunisme ingin mengambil alih pendidikan anak sepenuhnya dari keluarga.
Fakta:Manifesto Komunis memasukkan pendidikan publik dan gratis untuk semua anak sebagai salah satu langkah yang mereka usulkan dalam program politik kaum komunis.
Namun, gagasan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks program politik yang dibahas Marx dan Engels.
Dalam tulisan-tulisan mereka, pendidikan dikaitkan dengan perubahan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
11. Agama
Mitos: Marx mengajarkan bahwa komunisme berarti semua agama harus langsung dilarang.
Fakta: Marx memang memberikan kritik yang mendalam terhadap agama, tetapi ia tidak merumuskan komunisme sebagai perintah sederhana untuk langsung melarang semua agama.
Ungkapan Marx yang terkenal, “agama adalah candu masyarakat”, juga sering dipisahkan dari konteks aslinya.
Dalam A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, Marx menyebut agama sebagai ekspresi penderitaan sekaligus protes terhadap penderitaan tersebut.
Kritiknya berkaitan dengan kondisi sosial yang menurutnya membuat agama diperlukan sebagai bentuk penghiburan.
Ketika Marx berbicara mengenai “penghapusan agama”, pembahasannya berkaitan dengan penghapusan kondisi sosial yang menurutnya membuat agama diperlukan sebagai bentuk kebahagiaan ilusif.
Karena itu, ungkapan tersebut tidak tepat jika langsung disamakan dengan perintah untuk melarang seluruh praktik keagamaan.
12. Negara
Mitos: Komunisme berarti masyarakat tanpa negara sejak hari pertama revolusi.
Fakta: Dalam teori Marx dan Engels yang kemudian dikembangkan Lenin, terdapat periode transisi sebelum tercapainya masyarakat komunis.
Negara tidak digambarkan langsung menghilang setelah revolusi.
Lenin dalam State and Revolution menjelaskan bahwa kekuasaan politik proletariat merupakan bagian dari periode transisi.
Dia juga membedakan penghapusan negara borjuis melalui revolusi dari proses “withering away”, yaitu menghilangnya negara sebagai kekuasaan politik setelah antagonisme kelas berakhir.
13. Kediktatoran Proletariat
Mitos: “Kediktatoran proletariat” berarti Marx mengusulkan pemerintahan diktator oleh satu orang.
Fakta: Istilah dictatorship of the proletariat dalam tradisi Marx merujuk pada kekuasaan politik proletariat sebagai kelas dalam periode transisi.
Istilah tersebut tidak secara khusus berarti pemerintahan yang dipimpin oleh satu orang diktator.
Lenin kemudian mengembangkan konsep tersebut dalam State and Revolution, dengan menghubungkannya pada kekuasaan politik proletariat dan penindasan terhadap kelas yang sebelumnya berkuasa.
14. Asal-usul Gagasan Komunisme
Mitos: Marx menciptakan seluruh gagasan komunisme dari nol.
Fakta: Marx dan Engels sendiri mengakui bahwa berbagai gagasan sosialisme dan komunisme telah berkembang sebelum mereka.
Dalam Manifesto Komunis, mereka membahas sejumlah aliran sosialisme yang berkembang pada abad ke-19, termasuk pemikiran Saint-Simon, Fourier, dan Owen.
Engels kemudian membahas perkembangan sosialisme dari gagasan-gagasan sebelumnya dalam Socialism: Utopian and Scientific.
Dengan demikian, pemikiran Marx dan Engels berkembang dalam tradisi pemikiran yang sudah lebih dahulu ada.
15. Marxisme-Leninisme
Mitos: Semua gagasan yang kemudian disebut “Marxisme-Leninisme” sudah dirumuskan oleh Marx secara lengkap.
Fakta: Marx, Engels, dan Lenin memiliki kesinambungan pemikiran, tetapi Lenin menulis dalam kondisi sejarah yang berbeda beberapa dekade setelah Marx meninggal.
Dalam State and Revolution pada 1917, Lenin memberikan penafsiran dan pengembangan terhadap tulisan Marx dan Engels mengenai negara, revolusi, kediktatoran proletariat, serta transisi menuju komunisme.
Karena itu, gagasan Lenin perlu ditempatkan sebagai perkembangan teori setelah Marx, bukan langsung dianggap sebagai pernyataan Marx.
16. Tahap Perkembangan Masyarakat
Mitos: Marx mengatakan semua masyarakat di dunia pasti melewati tahap sejarah yang sama persis.
Fakta: Dalam pengantar A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), Marx membahas sejumlah bentuk perkembangan ekonomi masyarakat, termasuk bentuk produksi Asia, kuno, feodal, dan borjuis modern.
Namun, teks tersebut tidak memberikan dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa setiap masyarakat di dunia pasti menjalani seluruh tahap tersebut dalam urutan yang identik.
Konsep perkembangan sejarah dalam pemikiran Marx karena itu perlu dibaca bersama karya dan konteks lainnya, bukan sebagai jadwal universal yang harus dilalui semua masyarakat.
17. Keruntuhan Kapitalisme
Mitos: Marx meramalkan bahwa kapitalisme pasti runtuh pada tanggal atau tahun tertentu
Fakta: Marx menganalisis perkembangan dan kontradiksi internal kapitalisme dalam karya-karyanya, terutama Capital.
Dia membahas proses akumulasi kapital, produksi nilai lebih, hubungan antara kapital dan tenaga kerja, serta perkembangan sistem produksi kapitalis.
Marx tidak menetapkan tanggal tertentu sebagai waktu berakhirnya kapitalisme.
Karena itu, analisisnya mengenai perkembangan kapitalisme tidak tepat jika dipahami sebagai ramalan dengan jadwal waktu tertentu.
Memahami komunisme dari tulisan para tokohnya memerlukan perhatian terhadap istilah, konteks, dan tahap masyarakat yang sedang mereka bahas.
Marx, Engels, dan Lenin juga menulis pada periode sejarah yang berbeda sehingga gagasan mereka perlu ditempatkan sesuai karya dan zamannya.
Membaca sumber primer dapat membantu melihat bagaimana berbagai istilah komunisme digunakan. [BP]
Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia agar tidak ketinggalan artikel lainnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I





