Sejarah permainan catur. (Foto: Pexels)

Setiap 20 Juli, dunia memperingati Hari Catur Sedunia (World Chess Day). Peringatan ini menjadi momentum untuk merayakan salah satu permainan strategi tertua di dunia yang hingga kini tetap bertahan dan berkembang, mulai dari papan catur konvensional hingga platform digital.

Uniknya, kini permainan catur bukan lagi sekadar permainan di atas papan hitam putih. Berkat perkembangan teknologi, masyarakat kini dapat memainkan catur secara daring melalui komputer maupun telepon genggam, sehingga olahraga strategi ini semakin mudah diakses oleh siapa saja.

Hari Catur Sedunia menjadi momentum untuk merayakan salah satu permainan strategi tertua di dunia yang hingga kini tetap relevan sebagai olahraga otak sekaligus sarana membangun persahabatan lintas negara.

Lantas, bagaimana sejarah Hari Catur Sedunia dan bagaimana perjalanan permainan catur hingga menjadi salah satu olahraga otak paling populer di dunia?

Alasan Hari Catur Sedunia diperingati setiap 20 Juli

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Hari Catur Sedunia melalui resolusi Majelis Umum pada 12 Desember 2019.

Meski baru diakui secara resmi oleh PBB pada 2019, tanggal 20 Juli sebenarnya telah diperingati sejak 1966 atas prakarsa FIDE sebagai International Chess Day.

PBB menilai catur bukan sekadar permainan, melainkan aktivitas yang memadukan unsur intelektual, olahraga, budaya, ilmu pengetahuan, dan seni.

Selain itu, catur dapat dimainkan oleh siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, bahasa, kondisi fisik, maupun latar belakang sosial. Karena sifatnya yang inklusif, permainan ini dinilai mampu mendorong nilai-nilai keadilan, toleransi, saling menghormati, dan dialog antarbangsa.

Sejarah Catur

Asal-usul catur masih menjadi bahan kajian para sejarawan. Salah satu teori yang paling banyak diterima menyebut permainan ini berasal dari Chaturanga, permainan strategi yang berkembang di India Utara pada masa Kekaisaran Gupta sekitar abad ke-4 hingga ke-6 Masehi.

Dari India, permainan tersebut menyebar ke Persia melalui Jalur Sutra dan dikenal sebagai Chatrang, kemudian berkembang menjadi Shatranj pada masa Kekaisaran Sassaniyah sekitar abad ke-6.

Dokumen Persia kuno mencatat bahwa permainan itu diperkenalkan kepada Raja Khosrow I melalui utusan dari India. Selanjutnya, catur menyebar ke wilayah Arab, Bizantium, hingga Eropa.

Pada abad ke-10, dua ahli catur dari Kekhalifahan Abbasiyah, Al-Suli dan Al-Lajlaj, mulai menulis berbagai teori dan strategi permainan. Memasuki abad ke-11, catur semakin populer di Eropa dan Rusia.

Perkembangan penting lainnya terjadi pada abad ke-13 melalui naskah Libro de los Juegos yang mendokumentasikan aturan permainan yang menjadi cikal bakal catur modern.

Pada abad pertengahan, catur dikenal sebagai permainan kaum bangsawan dan keluarga kerajaan. Raja-raja seperti Henry I, Henry II, Richard I dari Inggris, Philip II dan Alfonso X dari Spanyol, hingga Ivan IV dari Rusia dikenal gemar memainkan catur.

Namun, popularitas permainan ini juga sempat memicu larangan di sejumlah wilayah. Pada 1252, Raja Louis IX melarang permainan catur di Prancis.

Seiring perkembangan zaman, aturan permainan terus mengalami perubahan. Papan catur mulai menggunakan pola hitam dan putih seperti yang dikenal sekarang. Bidak pion diperbolehkan melangkah dua kotak pada langkah pertama, sedangkan ratu memperoleh keleluasaan bergerak ke segala arah.

Perubahan-perubahan tersebut kemudian dibukukan oleh Luis Ramírez de Lucena dalam karya Repetición de Amores y Arte de Ajedrez pada akhir abad ke-15 yang menjadi salah satu tonggak teori catur modern.

Melalui kolonial Belanda, permainan catur kemudian masuk ke Nusantara dan mulai berkembang pada abad ke-19.

Kini, catur telah berkembang menjadi olahraga internasional dengan ribuan turnamen setiap tahun. Bahkan, lebih dari 2.000 variasi permainan catur telah diidentifikasi di seluruh dunia.

Pecatur Terbaik Sepanjang Masa

Sepanjang sejarahnya, dunia catur melahirkan sejumlah grandmaster legendaris yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan permainan ini.

1. Garry Kasparov

Nama Garry Kasparov hampir selalu menempati daftar pecatur terbaik sepanjang masa.

Pecatur asal Rusia tersebut menjadi juara dunia termuda pada 1985 dan mempertahankan gelarnya hingga tahun 2000. Selama bertahun-tahun, Kasparov mendominasi peringkat dunia berkat gaya bermain agresif, tajam, dan penuh perhitungan.

Ia juga dikenal lewat pertandingan bersejarah melawan superkomputer Deep Blue milik IBM pada akhir 1990-an. Duel tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Setelah pensiun dari kompetisi profesional, Kasparov tetap aktif mempromosikan catur melalui pelatihan pemain muda serta menulis sejumlah buku, termasuk seri My Great Predecessors.

2. Magnus Carlsen

Magnus Carlsen merupakan grandmaster asal Norwegia yang dianggap sebagai ikon catur modern.

Bakat luar biasanya mulai terlihat sejak usia 13 tahun ketika berhasil bermain imbang melawan Garry Kasparov dan mengalahkan Anatoly Karpov dalam turnamen yang sama.

Carlsen menjadi juara dunia pada 2013 dan sukses mempertahankan gelarnya pada 2014, 2016, 2018, serta 2021.

Selain mendominasi catur klasik, Carlsen juga dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dalam catur cepat dan catur kilat. Pada 2019, ia mencetak sejarah sebagai pemain pertama yang secara bersamaan memegang gelar juara dunia di tiga kategori waktu tersebut.

3. Bobby Fischer

Bobby Fischer merupakan salah satu pecatur paling berbakat sekaligus paling kontroversial dalam sejarah.

Grandmaster asal Amerika Serikat itu menjadi grandmaster termuda pada masanya ketika baru berusia 15 tahun.

Prestasi paling dikenang terjadi pada Kejuaraan Dunia 1972 saat Fischer mengalahkan Boris Spassky. Pertandingan tersebut berlangsung di tengah Perang Dingin sehingga dianggap sebagai simbol persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Selain dikenal memiliki kemampuan strategi yang luar biasa, Fischer juga memberikan banyak gagasan mengenai pengembangan aturan permainan yang memengaruhi dunia catur modern hingga sekarang.

Perkembangan teknologi membuat catur semakin mudah dimainkan melalui berbagai platform digital. Turnamen daring, aplikasi pembelajaran, hingga analisis berbasis kecerdasan buatan memungkinkan pemain dari berbagai negara saling berkompetisi tanpa harus bertemu secara langsung. [UN]