John Cabot mendarat di pantai Labrador, ukiran berwarna karya seniman tak dikenal, abad ke-19. (Britannica)

Berbagai peristiwa bersejarah tercatat dalam perjalanan umat manusia dan terus dikenang hingga kini. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 24 Juni 1497, ketika penjelajah Italia John Cabot diyakini mencapai pesisir Amerika Utara dalam sebuah pelayaran yang didanai Kerajaan Inggris. Perjalanan tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah eksplorasi dunia karena menandai penjelajahan Eropa paling awal yang diketahui di pantai Amerika Utara sejak kedatangan bangsa Viking berabad-abad sebelumnya.

John Cabot, yang dalam bahasa Italia dikenal sebagai Giovanni Caboto, merupakan seorang navigator dan penjelajah kelahiran sekitar tahun 1450 di Gaeta, wilayah Republik Genoa, Italia. Namanya kemudian dikenang sebagai tokoh yang memimpin pelayaran bersejarah pada tahun 1497 dan mencapai daratan yang diperkirakan berada di wilayah Newfoundland atau Nova Scotia, Kanada saat ini.

Mengutip berbagai catatan sejarah, termasuk History dan Britannica, ekspedisi Cabot dilakukan atas perintah Raja Henry VII dari Inggris. Pelayaran tersebut tidak hanya menghasilkan klaim wilayah baru bagi Inggris, tetapi juga membuktikan adanya jalur yang lebih pendek melintasi Samudra Atlantik Utara. Penemuan rute ini kemudian menjadi salah satu faktor yang mempermudah pembentukan koloni-koloni Inggris di Amerika Utara pada masa berikutnya.

Dari Italia ke Venesia

Masa muda John Cabot tidak banyak terdokumentasi secara rinci. Ia dikenal dengan beberapa nama, di antaranya Giovanni Caboto, Zuan Caboto, dan Jean Cabot. Pada tahun 1461, ia pindah ke Venesia, salah satu pusat perdagangan maritim terpenting di Eropa saat itu.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1471, Cabot diterima sebagai anggota Scuola Grande di San Giovanni Evangelista, sebuah organisasi gereja yang sangat bergengsi di Venesia. Keanggotaannya menunjukkan bahwa ia termasuk kalangan masyarakat yang cukup dihormati.

Pada tahun 1476, Cabot resmi memperoleh kewarganegaraan Venesia. Status tersebut memberinya hak untuk terlibat dalam perdagangan maritim, termasuk aktivitas dagang ke kawasan Mediterania Timur yang saat itu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia.

Pada tahun 1484, ia menikahi seorang perempuan bernama Mattea. Dari pernikahan tersebut lahir tiga anak, yakni Ludovico, Sebastian, dan Sancto.

Sejumlah bukti sejarah menunjukkan bahwa Cabot bekerja sebagai pedagang rempah-rempah di wilayah Mediterania Timur. Bahkan, terdapat dugaan bahwa ia pernah melakukan perjalanan dagang hingga ke Mekkah.

Melalui aktivitas perdagangan tersebut, Cabot mempelajari navigasi dan pembuatan peta. Pengalaman itu memunculkan ketertarikannya untuk menemukan jalur menuju Asia, wilayah yang saat itu dikenal sebagai sumber utama rempah-rempah bernilai tinggi.

Namun, kehidupan Cabot tidak selalu berjalan mulus. Pada akhir 1480-an, ia mengalami kesulitan keuangan yang cukup serius. Kondisi tersebut memaksanya meninggalkan Venesia pada 5 November 1488 dan berpindah ke Valencia, Spanyol.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1494, ia menetap di Seville. Di kota tersebut, Cabot memperoleh kontrak pekerjaan untuk membangun sebuah jembatan selama lima bulan.

Setelah pekerjaannya selesai, ia kembali berupaya mewujudkan impiannya untuk melakukan pelayaran menuju Asia. Cabot mencari dukungan dan pendanaan di Seville maupun Lisbon, tetapi belum berhasil memperoleh sponsor yang dibutuhkan. Ia kemudian memutuskan berangkat ke London guna mencari dukungan politik dan finansial dari Kerajaan Inggris.

Ekspedisi Bersejarah Tahun 1497

John Cabot diperkirakan tiba di Inggris pada pertengahan tahun 1495. Tidak lama setelah itu, ia mulai mengajukan proposal kepada pihak kerajaan mengenai rencana pelayaran menuju Asia melalui jalur Atlantik Utara.

Usahanya membuahkan hasil. Raja Henry VII memberikan izin sekaligus dukungan kepada Cabot untuk mencari rute pelayaran baru menuju Asia.

Pada Mei 1497, Cabot berlayar dari pelabuhan Bristol menggunakan kapal kecil bernama Matthew. Kapal tersebut membawa sekitar 18 awak.

Perjalanan itu mencapai puncaknya pada 24 Juni 1497 ketika Cabot tiba di daratan Amerika Utara. Hingga kini, lokasi pasti pendaratannya masih menjadi perdebatan para sejarawan. Beberapa kemungkinan yang sering disebut adalah Labrador bagian selatan, Pulau Newfoundland, atau Pulau Cape Breton.

Setibanya di daratan tersebut, Cabot mengklaim wilayah itu atas nama Raja Henry VII. Ia mengibarkan bendera Inggris dan Venesia sebagai simbol penguasaan wilayah yang baru ditemukan.

Seperti halnya Christopher Columbus, Cabot meyakini bahwa dirinya telah mencapai bagian timur laut Asia. Dengan keyakinan tersebut, ia kembali ke Bristol pada Agustus 1497 dan melaporkan hasil ekspedisinya.

Meskipun tidak menemukan Asia sebagaimana yang dibayangkannya, pelayaran tersebut memiliki arti yang sangat besar. Selain memperkuat klaim Inggris atas wilayah Kanada, ekspedisi Cabot menjadi salah satu fondasi awal bagi keterlibatan Inggris dalam eksplorasi dan kolonisasi Amerika Utara.

Ekspedisi Kedua yang Penuh Misteri

Keberhasilan pelayaran pertama membuat Cabot semakin berambisi melanjutkan eksplorasi. Pada akhir tahun 1497, ia kembali menghadap Raja Henry VII untuk meminta dukungan bagi ekspedisi kedua melintasi Atlantik Utara.

Cabot menyampaikan rencananya untuk terus berlayar ke arah barat dari titik pendaratan sebelumnya hingga mencapai Cipangu, nama yang digunakan bangsa Eropa pada masa itu untuk menyebut Jepang.

Raja Henry VII menyetujui permintaan tersebut. Pada Februari 1498, kerajaan mengeluarkan surat resmi yang mendukung pelayaran kedua Cabot.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Mei 1498, Cabot kembali berangkat dari Bristol. Kali ini ia memimpin armada yang jauh lebih besar, terdiri atas sekitar lima kapal dengan kurang lebih 200 awak.

Namun, perjalanan kedua ini justru menjadi bagian paling misterius dalam kehidupan Cabot.

Pada Juli 1498, salah satu kapal ekspedisinya diketahui mengalami kerusakan dan terpaksa mencari tempat berlabuh di Irlandia. Setelah peristiwa itu, catatan sejarah menjadi sangat minim dan tidak ada kepastian mengenai nasib empat kapal lainnya.

Banyak sejarawan meyakini armada tersebut terjebak dalam badai besar di Atlantik Utara. Pada tahun 1499, Cabot secara umum dianggap telah meninggal di laut bersama sebagian besar awaknya.

Misteri Kematian yang Belum Terpecahkan

Meski banyak pihak percaya bahwa John Cabot meninggal sekitar tahun 1499 atau 1500, nasib sebenarnya masih menjadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Setelah salah satu kapalnya rusak dan berlabuh di Irlandia, empat kapal lainnya diduga tetap melanjutkan pelayaran. Akan tetapi, tidak ada catatan yang mampu menjelaskan secara pasti apa yang terjadi selanjutnya.

Sebagian sejarawan menduga kapal-kapal tersebut hilang di tengah lautan dan tidak pernah kembali ke Eropa. Namun, terdapat pula sejumlah dokumen yang memunculkan kemungkinan berbeda.

Beberapa catatan menyebutkan bahwa Cabot mungkin masih hidup dan berada di Inggris pada tahun 1500. Selain itu, terdapat bukti yang mengindikasikan bahwa ekspedisi keduanya kemungkinan berhasil mencapai pantai timur Kanada.

Salah satu petunjuk yang sering dikemukakan adalah dugaan bahwa seorang pendeta yang ikut dalam pelayaran kedua Cabot mungkin mendirikan sebuah pemukiman Kristen di Newfoundland. Jika dugaan tersebut benar, maka ekspedisi kedua Cabot mungkin mencapai daratan Amerika Utara sebelum akhirnya menghilang dari catatan sejarah.

Hingga kini, misteri mengenai akhir kehidupan John Cabot masih menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam sejarah eksplorasi dunia. Namun, terlepas dari berbagai ketidakpastian tersebut, pelayarannya pada 24 Juni 1497 tetap dikenang sebagai peristiwa penting yang membuka babak baru dalam hubungan Inggris dengan benua Amerika dan mengubah arah sejarah dunia untuk selamanya. [UN]