Jakarta, koransulindo.com – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Yassierli, menyambut positif inisiatif dan kreativitas Serikat Pekerja Kreatif dan Film Indonesia dalam menyelenggarakan Festival MAD FEST Merah Putih 2026.
Dalam sambutannya pada acara peluncuran di Sinema Hall, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jakarta, Jumat (1/5), beliau menyatakan dukungan penuh terhadap ruang ekspresi tersebut.
“Saya selaku menteri ketenagakerjaan senang sekali dengan akan diselenggarakannya MAD FEST Merah Putih ini, karena akan memberi ruang bagi pekerja kreatif untuk menyalurkan talentanya,” ujar Menaker.
Menaker Yassierli menekankan bahwa kolaborasi serta inovasi adalah fondasi bagi masa depan industri kreatif. Beliau mengajak para pelaku industri untuk berani bermimpi, jeli membaca tren, serta menciptakan solusi baru, termasuk kemungkinan pengembangan marketplace khusus karya kreatif.
“Kita harus membayangkan, dan menciptakan sesuatu yang berbeda dari hari ini,” kata Menaker.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah menyiapkan langkah konkret berupa diskon 50 persen iuran jaminan sosial JKK dan JKM, serta optimalisasi balai pelatihan kerja sebagai pusat pengembangan talenta melalui program Talent and Innovation Hub.
Yassierli juga mengusulkan penyediaan “creative corner” di setiap balai sebagai wadah kolaborasi. Beliau berharap festival ini menjadi titik awal pembenahan industri, mulai dari pelatihan hingga sertifikasi berbasis SKKNI.
“Kolaborasi adalah kunci agar industri maju dan kesejahteraan pekerja meningkat,” tegas Yassierli.
Sementara itu, Sonny Pudjisasono, selaku inisiator dan Ketua Penyelenggara, menyampaikan bahwa MAD FEST Merah Putih hadir untuk memberikan panggung bagi suara-suara yang selama ini terabaikan di balik layar industri film. Sonny menegaskan bahwa festival film pendek ini membawa pesan mendalam mengenai keberagaman dan aspirasi para pekerja.
“Lebih atraktif dan estetis, tetapi misinya tetap tercapai, mangasoirasikan keberagaman para pekerja,” ungkapnya.
Festival ini direncanakan menjadi agenda tahunan yang diluncurkan setiap Hari Buruh Internasional dengan puncak acara pada 8 Agustus. Sonny menjelaskan bahwa inisiatif yang lahir bersama Citra Film School dan PPHUI ini dipicu oleh keprihatinan atas minimnya perlindungan sosial bagi pekerja film.
“Kami ingin sekali serikat ini menjadi jangkar perlindungan sosial bagi seluruh pekerja kreatif,” jelas Sonny.
Selain isu kesejahteraan, ia juga menyoroti lemahnya sistem pengarsipan karya sinema nasional.
“Kami tegaskan film bukan hanya hiburan, tetapi artefak budaya bangsa,” katanya.
Sebagai penutup, Sonny berharap pemerintah melalui Kemnaker dapat mewujudkan regulasi yang nyata bagi industri ini. [IQT]




