Bung Karno dan isterinya Hartini tengah melakukan tarian Lenso.(Istimewa)

Pada dekade 1950-an hingga 1960-an, dunia tengah dilanda gelombang budaya populer yang berasal dari Barat. Musik rock-n-roll dan pop berkembang pesat di negara-negara Barat dengan irama gitar yang enerjik, lirik tentang kisah cinta masa muda, serta gaya bermusik yang mengundang orang untuk berdansa. Gelombang musik ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, dan dengan cepat memikat hati generasi muda.

Di Indonesia, pengaruh musik Barat terasa sangat kuat. Lagu-lagu dari musisi seperti Elvis Presley dan band legendaris The Beatles menjadi favorit para remaja. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi selera musik, tetapi juga gaya hidup anak muda. Potongan rambut gondrong dengan poni khas personel The Beatles menjadi tren yang banyak ditiru oleh generasi muda Indonesia pada masa itu.

Popularitas musik Barat juga mendorong lahirnya berbagai festival musik serta band-band lokal yang membawakan lagu-lagu beraliran rock dengan nuansa The Beatles. Salah satu kelompok musik yang ikut memainkan lagu-lagu populer Barat adalah Koes Bersaudara, yang kemudian dikenal luas setelah bertransformasi menjadi Koes Plus.

Namun, pengaruh kuat musik Barat ini juga memunculkan kekhawatiran di kalangan pemimpin nasional, terutama Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ia menilai “demam” musik Barat di kalangan kaum muda sebagai ancaman terhadap kedaulatan identitas budaya bangsa. Dalam pandangannya, fenomena tersebut merupakan bagian dari pengaruh neo-kolonialisme dan imperialisme yang ia sebut sebagai Nekolim.

Kekhawatiran itu bahkan berujung pada kebijakan tegas terhadap musik yang dianggap terlalu kebarat-baratan. Pada masa itu, Soekarno sering menyebut musik rock Barat dengan istilah “ngak ngik ngok”, sebuah ungkapan yang merujuk pada irama gitar listrik khas musik rock yang dianggap tidak mencerminkan semangat nasionalisme.

Situasi tersebut pernah menimpa Koes Bersaudara. Grup musik yang saat itu populer di kalangan anak muda tersebut pernah membawakan lagu milik The Beatles berjudul I Saw Her Standing There. Tindakan tersebut dianggap melanggar kebijakan pemerintah yang melarang musik kebarat-baratan.

Akibatnya, para personel Koes Bersaudara ditahan di Penjara Glodok selama sekitar tiga bulan, dari Juni hingga September 1965. Penahanan tersebut menjadi salah satu peristiwa yang paling sering dikenang dalam sejarah musik Indonesia, sekaligus menggambarkan ketegangan antara arus budaya populer Barat dengan upaya pemerintah menjaga identitas budaya nasional pada masa itu.

Di tengah situasi tersebut, Soekarno berupaya menawarkan alternatif budaya yang dapat memperkuat identitas nasional. Salah satu cara yang ia tempuh adalah dengan menggemakan kembali tari Lenso.

Tarian ini sebenarnya memiliki sejarah panjang. Lenso diperkenalkan oleh bangsa Portugis ratusan tahun silam, kemudian kembali dipopulerkan pada masa penjajahan Belanda. Salah satu peristiwa penting yang membuat tari ini dikenal luas terjadi pada 31 Agustus 1612 di Ambon, ketika pemerintah kolonial Belanda menggelar pesta rakyat untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Pada masa itu, tari Lenso awalnya hanya dibawakan oleh masyarakat Desa Kilang. Namun dalam pesta rakyat tersebut, tarian ini ditampilkan secara terbuka di hadapan masyarakat luas. Sejak saat itu, Lenso mulai dikenal oleh publik yang lebih luas dan perlahan menjadi bagian dari tradisi hiburan masyarakat.

Pada era pascakemerdekaan, Soekarno melihat Lenso sebagai sarana yang tepat untuk memperkuat identitas budaya nasional. Ia menempatkan Lenso sebagai alternatif terhadap dominasi musik dan tari Barat yang tengah digemari generasi muda. Eksperimen musik populer pada dekade 1960-an sendiri memang banyak memadukan unsur irama Latin seperti cha-cha dan rumba, bahkan Lenso juga kerap dianggap sebagai versi musik Hawaii yang dimainkan dengan tempo lebih lambat.

Namun bagi Soekarno, Lenso bukan sekadar bentuk hiburan. Tarian dan irama musik ini dipandang sebagai bagian dari proses dekolonialisasi budaya di Indonesia. Melalui Lenso, ia berupaya menanggalkan sudut pandang Barat yang selama masa penjajahan mendominasi cara pandang terhadap seni tradisional Indonesia. Lenso kemudian dimaknai ulang sebagai simbol identitas nasional yang berakar dari tradisi lokal, tetapi tetap mampu mengikuti perkembangan zaman.

Dengan pendekatan tersebut, Soekarno tidak bermaksud menolak budaya Barat sepenuhnya. Lenso justru diposisikan sebagai alternatif, sebuah jawaban terhadap arus imperialisasi budaya yang deras pada masa itu. Dalam pandangannya, seni dan hiburan dapat menjadi bagian dari perjuangan bangsa, sama pentingnya dengan aspek politik dan ekonomi.

Salah satu sisi menarik dari kehidupan Soekarno yang tidak banyak diketahui adalah keterlibatannya langsung dalam dunia musik. Ia pernah menciptakan sebuah lagu berjudul “Bersuka Ria”. Lagu tersebut kemudian dinyanyikan oleh sejumlah musisi ternama Indonesia seperti Rita Zahara, Nien Lesmana, Titiek Puspa, serta Bing Slamet dengan iringan musik Lenso dari Orkes Irama pimpinan Jack Lesmana.

Lagu “Bersuka Ria” kemudian dimasukkan ke dalam album berjudul “Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso” yang diproduksi dan diedarkan oleh The Indonesia Music Company Irama pada tahun 1965. Album tersebut dirilis untuk memperingati satu dasawarsa Konferensi Asia-Afrika.

Selain lagu “Bersuka Ria”, album tersebut juga memuat lagu-lagu daerah seperti “Soleram”, “Malam Bainai”, dan “Gelang Sipaku Gelang”. Lagu-lagu tersebut diaransemen dengan nuansa Lenso melalui kolaborasi sejumlah musisi ternama Indonesia. Dalam catatan album yang ditulis oleh Syaiful Nawas dari grup musik Orkes Gumarang, Lenso tidak hanya dipahami sebagai irama baru untuk mengiringi tari, tetapi juga sebagai perwujudan identitas nasional yang berakar pada tradisi lokal.

Keseriusan Soekarno dalam mempopulerkan Lenso juga terlihat dari gagasannya membentuk kelompok musik bernama The Lensoist. Grup ini dihuni oleh para musisi dan penyanyi terkemuka Indonesia saat itu. Di antaranya adalah Bing Slamet, Titiek Puspa, Nien Lesmana, dan Munif A. Bahasuan sebagai pengisi vokal.

Formasi musiknya juga diperkuat oleh sejumlah musisi besar seperti Idris Sardi sebagai violinis dan basis, Bubi Chen sebagai pianis, Jack Lesmana dan Lody Item sebagai gitaris, Darmono sebagai vibrafonis, serta Benny Mustafa sebagai drummer.

The Lensoist kerap diajak mengikuti lawatan kenegaraan Soekarno ke berbagai negara. Dalam setiap kunjungan tersebut, mereka menggelar pertunjukan musik Lenso sebagai sarana memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia internasional. Selama kiprahnya, kelompok ini pernah tampil di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Thailand, Jepang, Belanda, Rumania, Hungaria, Aljazair, hingga Prancis.

Namun upaya besar untuk mengangkat Lenso sebagai simbol budaya nasional mulai meredup ketika Indonesia memasuki masa pemerintahan Soeharto pada era Orde Baru. Kebijakan de-Soekarnoisasi yang diterapkan pada masa itu berupaya menghapus berbagai hal yang berkaitan dengan Soekarno, termasuk gerakan budaya yang pernah ia gagas.

Meski demikian, kiprah Lenso pada masa kepemimpinan Soekarno tetap menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa tidak hanya berlangsung di ranah politik, ekonomi, atau pertahanan wilayah. Seni dan budaya juga memiliki peran penting sebagai instrumen perjuangan dalam apa yang oleh Soekarno disebut sebagai Revolusi Indonesia, sebuah upaya membangun bangsa yang merdeka tidak hanya secara politik, tetapi juga secara budaya. [UN]