Sejarah kolonialisme di Indonesia tidak pernah berjalan mulus bagi pemerintah Hindia Belanda. Di balik catatan administrasi, benteng pertahanan, dan pasukan bersenjata, tersimpan rasa cemas yang terus mengiringi kekuasaan kolonial.
Kecemasan itu bukan tanpa sebab. Di berbagai penjuru Nusantara, muncul tokoh-tokoh perlawanan yang bukan hanya mengangkat senjata, tetapi juga menggerakkan kesadaran rakyat untuk menolak tunduk pada penjajahan.
Belanda menyadari bahwa ancaman terbesar tidak selalu datang dari jumlah pasukan, melainkan dari figur-figur yang mampu menyatukan rakyat, memahami medan, serta memiliki keberanian untuk melawan sampai titik terakhir.
Dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Banten, Jambi, hingga pedalaman Kalimantan, perlawanan itu menjelma dalam bentuk perang besar, gerilya berkepanjangan, dan serangan-serangan mendadak yang membuat kekuasaan kolonial goyah.
Tokoh-tokoh ini tumbuh dari konteks daerah dan latar belakang yang berbeda. Ada bangsawan, ulama, pemimpin kerajaan, panglima perang, hingga pejuang rakyat. Namun satu hal yang menyatukan mereka yaitu semangat mempertahankan tanah air dan martabat bangsanya. Keberanian mereka bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi Belanda, tetapi juga menjadi sumber inspirasi perlawanan di wilayah lain.
Dalam pusaran sejarah itulah muncul nama-nama yang hingga kini dikenang sebagai tokoh-tokoh Indonesia yang paling ditakuti Belanda karena kegigihan, kecerdikan strategi, dan tekad yang tak pernah surut menghadapi penjajah. Mengutip berbagai sumber, berikut tokoh yang ditakuti Belanda pada masanya.
Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro menjadi simbol perlawanan besar rakyat Jawa melalui Perang Jawa yang berlangsung pada 1825–1830. Perang ini melibatkan wilayah luas dan dukungan rakyat yang masif. Dengan taktik gerilya yang memanfaatkan medan pedesaan dan jaringan keagamaan, Diponegoro membuat Belanda kewalahan. Perang tersebut menguras keuangan kolonial dan menelan korban besar, menjadikannya salah satu konflik paling mahal dalam sejarah penjajahan Belanda di Indonesia.
Cut Nyak Dhien
Di Aceh, Cut Nyak Dhien dikenal sebagai Srikandi yang menolak menyerah hingga akhir hayatnya. Ia memimpin perlawanan gerilya secara langsung, menyusuri hutan dan pegunungan untuk menyerang pos-pos Belanda. Bahkan ketika kondisi fisiknya melemah, Cut Nyak Dhien tetap teguh berada di garis depan perlawanan. Keteguhan dan militansinya menjadikan Aceh sebagai wilayah yang paling sulit ditaklukkan Belanda.
Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin, penguasa Kerajaan Gowa, dikenal dengan julukan “Ayam Jantan dari Timur”. Ia memimpin perlawanan rakyat Makassar terhadap VOC yang berusaha memaksakan monopoli perdagangan. Keberaniannya menentang kekuatan maritim Belanda menjadikan Makassar sebagai pusat perlawanan penting di kawasan timur Nusantara.
Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Imam Bonjol merupakan pemimpin utama dalam Perang Padri di Sumatera Barat. Perlawanan yang dipimpinnya melibatkan kekuatan besar dan berlangsung dalam waktu lama. Dengan semangat religius dan dukungan rakyat, Perang Padri menjadi konflik yang menyita banyak tenaga Belanda hingga akhirnya ia ditangkap melalui tipu daya.
Sultan Ageng Tirtayasa
Dari Banten, Sultan Ageng Tirtayasa tampil sebagai penguasa yang gigih mempertahankan kedaulatan kerajaannya. Ia menentang dominasi VOC yang berusaha menguasai jalur perdagangan strategis. Perlawanan Sultan Ageng secara langsung mengancam kepentingan ekonomi dan politik Belanda di Jawa bagian barat.
Raden Mattaher (Singo Kumpeh)
Raden Mattaher, atau Singo Kumpeh, merupakan panglima perang dari Jambi yang dikenal dengan taktik gerilya di wilayah sungai. Serangannya terhadap kapal-kapal perang Belanda membuat kekuatan kolonial tidak pernah benar-benar merasa aman di jalur perairan.
Mohammad Ali Anyang
Di Kalimantan, Mohammad Ali Anyang dikenal sebagai pejuang Dayak yang begitu ditakuti hingga Belanda menetapkan hadiah besar bagi penangkapannya. Keberhasilannya menyerang pos-pos militer kolonial menunjukkan bahwa perlawanan juga mengakar kuat di pedalaman Indonesia.
Tokoh-tokoh tersebut menjadi bukti bahwa keberanian rakyat Indonesia, di mana pun berada, selalu menemukan jalannya untuk melawan dan mempertahankan martabat bangsa. [UN]




