Setiap tanggal 16 Maret, dunia memperingati Hari Panda Nasional, sebuah momen yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian panda serta habitat alaminya. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa satwa yang selama ini dikenal sebagai simbol kehangatan dan kedamaian tersebut tengah menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan hidupnya. Informasi mengenai peringatan ini salah satunya tercatat dalam situs Day of The Year yang menyebutkan bahwa Hari Panda Nasional didedikasikan untuk melindungi seluruh populasi panda di dunia.
Panda raksasa merupakan salah satu spesies beruang tertua yang berasal dari Tiongkok. Para ilmuwan memperkirakan bahwa garis keturunan panda telah ada sejak sekitar 20 juta tahun lalu. Meski memiliki sejarah evolusi yang sangat panjang, populasi panda saat ini justru berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), jumlah panda raksasa di alam liar diperkirakan hanya sekitar 1.800 ekor. Sementara itu, sekitar 300 ekor lainnya hidup di penangkaran yang tersebar di berbagai pusat konservasi. Dengan jumlah tersebut, panda raksasa masih masuk dalam kategori satwa yang terancam punah dan membutuhkan upaya perlindungan yang serius.
Di balik statusnya sebagai spesies yang rentan, panda juga menyimpan berbagai fakta unik yang menarik untuk diketahui. Salah satunya berkaitan dengan asal-usul nenek moyangnya. Fosil hewan tertua yang masih memiliki hubungan dengan panda diketahui bernama Agriarctos beatrix. Fosil ini diperkirakan berusia sekitar 11 juta tahun dan ditemukan di Spanyol, bukan di Tiongkok seperti yang banyak diduga. Ukurannya lebih kecil dibandingkan panda modern, dengan berat sekitar 60 kilogram. Temuan tersebut membuat sebagian peneliti berpendapat bahwa nenek moyang panda kemungkinan pernah hidup di wilayah Eropa sebelum akhirnya bermigrasi ke Asia.
Perkembangan panda sejak usia dini juga terbilang cukup cepat. Anak panda sudah mulai berjalan ketika berumur sekitar tiga bulan. Pada usia yang sama, mereka juga sudah mampu mengonsumsi makanan padat, termasuk bambu yang menjadi makanan utamanya. Hal ini berbeda dengan manusia yang umumnya baru mulai mengonsumsi makanan padat setelah berusia sekitar sembilan bulan. Pada fase tersebut, anak panda mulai mengalami pertumbuhan yang cukup pesat.
Menariknya, meskipun dikenal sebagai pemakan bambu, panda sebenarnya memiliki sistem pencernaan yang mirip dengan hewan karnivora. Hal ini terjadi karena panda masih termasuk dalam keluarga beruang yang secara biologis merupakan pemangsa. Namun seiring proses evolusi, sistem pencernaan panda menyesuaikan diri dengan pola makan yang didominasi oleh tumbuhan. Dalam satu hari, seekor panda bahkan dapat mengonsumsi hingga sekitar 38 kilogram bambu untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Di Tiongkok, panda memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar satwa liar. Hewan ini sering dianggap sebagai simbol persahabatan dan perdamaian. Masyarakat setempat juga dikenal sangat peduli terhadap keberadaan panda. Jika menemukan panda yang terluka di alam liar, mereka biasanya segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani dengan cepat. Selain itu, panda juga kerap dikaitkan dengan konsep keseimbangan Yin dan Yang dalam filosofi Tiongkok.
Keunikan panda juga terlihat dari cara mereka berkomunikasi. Tidak seperti kebanyakan beruang yang dapat meraung, panda justru tidak memiliki kemampuan tersebut. Meski demikian, panda tetap mampu menghasilkan berbagai suara lain. Para peneliti mencatat setidaknya terdapat sekitar 13 jenis suara yang dapat dihasilkan oleh panda, seperti menggeram, menggonggong, hingga suara menyerupai klakson.
Dari segi ukuran tubuh, panda raksasa memang pantas menyandang kata “giant” dalam nama Inggrisnya. Panda dewasa dapat tumbuh hingga panjang sekitar 150 sentimeter dengan berat mencapai 150 kilogram. Panda jantan umumnya memiliki tubuh yang lebih besar, sekitar 10 hingga 20 persen lebih berat dibandingkan panda betina.
Walaupun tampak menggemaskan dan sering dianggap jinak, panda tetap merupakan hewan liar yang bisa berbahaya jika merasa terganggu. Salah satu contoh pernah terjadi di Kebun Binatang Beijing ketika seekor panda bernama Gu Gu menggigit pengunjung yang masuk ke area kandangnya. Peristiwa tersebut terjadi dua kali dan menjadi pengingat bahwa panda tetap memiliki naluri untuk mempertahankan diri.
Tingkat kelahiran panda juga menjadi salah satu alasan mengapa populasinya sulit meningkat dengan cepat. Panda betina hanya mengalami masa subur satu kali dalam setahun. Dalam satu kali kelahiran, biasanya anak panda yang lahir maksimal hanya dua ekor. Menariknya, beberapa panda betina sering menghasilkan hormon kehamilan meskipun tidak benar-benar hamil. Kondisi ini membuat mereka terkadang membangun sarang dan tidur lebih lama seolah-olah sedang menunggu kelahiran.
Dalam sejarahnya, pernah pula ditemukan panda dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan panda pada umumnya. Sekitar 150 tahun yang lalu, seekor panda raksasa ditangkap oleh seorang misionaris asal Prancis yang berniat membawanya ke negaranya. Namun sayangnya, panda tersebut meninggal dalam perjalanan sebelum mencapai tujuan.
Keunikan lain dari panda adalah kebiasaannya yang tidak melakukan hibernasi seperti kebanyakan beruang. Ketika musim dingin tiba, panda tidak tidur panjang untuk menghemat energi. Sebaliknya, mereka justru berpindah ke daerah pegunungan yang masih memiliki persediaan bambu untuk dimakan. Saat suhu menjadi sangat dingin, panda biasanya berlindung di gua, pohon berlubang, atau di antara dedaunan lebat.
Pola makan bambu yang terus menerus membuat sistem metabolisme panda berjalan relatif lambat. Kondisi ini membantu mereka menghemat energi tanpa harus melakukan hibernasi. Panda juga dikenal sebagai hewan yang jarang bermigrasi jauh. Mereka biasanya hanya melakukan perpindahan jarak pendek ketika persediaan bambu di wilayah tempat tinggalnya mulai menipis.
Melalui peringatan Hari Panda Nasional, berbagai pihak diharapkan semakin menyadari pentingnya menjaga keseimbangan alam dan melindungi habitat satwa liar. Kelestarian panda bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga ekosistem hutan bambu yang menjadi rumah bagi banyak makhluk hidup lainnya. [UN]