15 Desember 1945, Kemenangan di Ambarawa dan Lahirnya Hari Juang Kartika

Pasukan Belanda di Ambarawa. (Wikipedia)

Tanggal 15 Desember 2025 menjadi penanda penting bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Pada hari inilah TNI AD memperingati Hari Juang Kartika, sebuah momentum historis yang berakar pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa-masa awal berdirinya republik.

Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi mendalam atas Palagan Ambarawa, peristiwa heroik yang menegaskan lahirnya kekuatan Angkatan Darat yang menyatu erat dengan rakyat.

Hari Juang Kartika berakar dari Pertempuran Ambarawa yang berlangsung sejak 20 Oktober hingga 15 Desember 1945. Konflik bersenjata ini melibatkan pasukan Tentara Keamanan Rakyat dengan tentara Sekutu, terutama Inggris, yang berupaya menguasai wilayah strategis di Jawa Tengah.

Kemenangan pada 15 Desember 1945 menjadi simbol keberhasilan perjuangan kolektif tentara dan rakyat, sekaligus menegaskan eksistensi Angkatan Darat sebagai kekuatan utama pertahanan negara yang baru merdeka.

Tokoh Penting

Dalam Palagan Ambarawa terdapat banyak tokoh yang berperan penting, salah satunya Jenderal Besar Soedirman yang tampil sebagai figur sentral. Ia memimpin langsung pasukan Tentara Keamanan Rakyat dalam menghadapi kekuatan militer Sekutu. Kepemimpinannya tidak hanya ditandai oleh keberanian, tetapi juga kecerdikan strategi.

Dalam pertempuran tersebut, Soedirman menerapkan taktik supit udang, sebuah manuver pengepungan dari berbagai arah yang mampu menekan dan melumpuhkan pergerakan musuh. Taktik ini terbukti efektif, komunikasi antarpasukan Sekutu berhasil diputus, sistem pertahanan mereka dirusak, dan pada akhirnya pasukan Sekutu terpaksa mundur dari Ambarawa. Kemenangan itu dipastikan pada 15 Desember 1945, sebuah tanggal yang kemudian diabadikan sebagai Hari Juang Kartika TNI AD.

Di bawah komando Kolonel Soedirman, terdapat sosok Letnan Kolonel Isdiman, perwira terbaik yang dipercaya memimpin pasukan di Ambarawa. Isdiman dikenal sebagai pemimpin lapangan yang tangguh dan memiliki kemampuan komando yang mumpuni.

Namun, perjuangannya harus terhenti secara tragis ketika Desa Kalurahan diserang musuh melalui jalur udara pada 26 November 1945. Gugurnya Letkol Isdiman menjadi kehilangan besar bagi perjuangan Indonesia, terutama karena terjadi pada fase kritis pertempuran.

Meski demikian, semangat perlawanan tidak surut. Prinsip “patah tumbuh hilang berganti” menjadi pegangan untuk terus melanjutkan perjuangan. Untuk mengisi kekosongan pimpinan Komando Pertempuran, Gatot Soebroto ditunjuk berdasarkan surat perintah dari Urip Sumohardjo.

Gatot Soebroto kemudian tampil sebagai pemimpin pasukan Indonesia di Ambarawa, menggantikan Letkol Isdiman. Sejak 20 Oktober 1945, ia berperan sebagai ahli siasat yang tidak hanya piawai dalam strategi militer, tetapi juga memiliki empati terhadap pasukan dan rakyat. Ia terlibat aktif dalam perencanaan strategi dan pengelolaan situasi di medan pertempuran Ambarawa.

Ketika Kolonel Soetirto menjabat sebagai Panglima Besar, Gatot Soebroto ditugaskan sebagai ajudan, sekaligus menjalankan peran sebagai Perwira Siasat dan Penyelidik. Dalam kondisi yang serba terbatas, termasuk terputusnya bantuan udara setelah jatuhnya pesawat di Kalibanteng, Semarang, pada 9 Desember 1945, Gatot Soebroto tetap mampu mengoordinasikan serangan dari berbagai arah.

Kepemimpinan strategisnya menjadi salah satu kunci keberhasilan pasukan Indonesia mendorong musuh keluar dari Ambarawa pada 15 Desember 1945.

Di jajaran perwira yang terlibat, terdapat pula Kapten Surono Reksodimejo yang berada di bawah komando Letnan Kolonel Gatot Soebroto. Meski perannya dalam Palagan Ambarawa tidak banyak tercatat secara rinci dalam sumber-sumber sejarah, Surono dikenal memiliki karier cemerlang setelah perang.

Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia. Minimnya catatan sejarah tentang kiprahnya di medan Ambarawa menjadi catatan tersendiri dalam historiografi perjuangan bangsa.

Tokoh penting lainnya adalah Letnan Kolonel Sarbini Martodiharjo. H. M. Sarbini, yang kelak dikenal sebagai Letnan Jenderal TNI Purnawirawan, terlibat langsung dalam peristiwa Palagan Ambarawa sejak 20 Oktober 1945. Ia memimpin pasukan Tentara Keamanan Rakyat Resimen Kedu Tengah. Peristiwa ini diawali dengan pendaratan pasukan Sekutu di Semarang, yang kemudian bergerak ke wilayah Magelang dan Ambarawa.

Di bawah kepemimpinan Sarbini, pasukan Indonesia berhasil mengepung dan mengusir Sekutu dari Magelang dan Ambarawa. Ia terlibat dalam pengejaran dan pertempuran intens hingga berhasil menggagalkan upaya Sekutu menjadikan Ambarawa sebagai pangkalan militer.

Setelah Palagan Ambarawa usai, Sarbini Martodiharjo melanjutkan pengabdiannya kepada negara dan sempat menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Dwikora II di era pemerintahan Bung Karno.

Perjuangan di Ambarawa tidak hanya melibatkan tentara reguler, tetapi juga unsur ulama dan laskar rakyat. Salah satu tokoh sentral dari kalangan ulama adalah KH Saifuddin Zuhri, Komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah. Mengutip keterangan dari laman resmi NU Online, KH Saifuddin Zuhri memimpin laskar Hizbullah bersama Tentara Keamanan Rakyat dan rakyat Indonesia di bawah pimpinan Kolonel Soedirman.

Selama sekitar 20 hari pertempuran yang dikenal sebagai Palagan Ambarawa, pasukan gabungan ini berhasil memukul mundur tentara Sekutu. Sebelumnya, KH Saifuddin Zuhri juga berperan dalam penyusunan strategi serangan bersama Letkol M. Sarbini dan Letkol Ahmad Yani di Magelang. Dalam operasinya, ia menggunakan semboyan jaga seperti “Menoreh” dan “Meteseh” sebagai kode pengenal antarpejuang.

Tokoh penting lainnya adalah G.P.H. Djatikusumo yang bertindak sebagai pemimpin Divisi IV. Divisi ini memiliki tugas utama mengidentifikasi serta mengepung pasukan asing. Dalam pertempuran yang berlangsung sengit di Ambarawa, Kolonel G.P.H. Djatikusumo menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang menonjol. Ia mampu menjaga agar pergerakan pasukan tetap terkoordinasi dan berjalan sesuai rencana, meskipun situasi medan perang sangat dinamis dan penuh tekanan.

Palagan Ambarawa bukan hanya kisah kemenangan militer, melainkan juga cerminan persatuan antara tentara, ulama, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Hari Juang Kartika yang diperingati setiap 15 Desember menjadi pengingat bahwa kekuatan Angkatan Darat Indonesia lahir dari perjuangan, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah. [UN]