Hadirin,
4 Januari 2025, Pak Mentan, kami menghubungi Pak Wamen, Pak Sudarono, untuk mendapatkan paparan dan arahan tentang program pemerintah terkait ketahanan pangan ini. Guna mendengar, melihat, mengamati, apa yang sekiranya dari kami para ulama, masyarakat, bisa memberikan pendampingan, penguatan, dan kebersamaan untuk mewujudkan apa yang diharapkan itu.

Dari hasil paparan dimaksud, kami berkomunikasi dengan kolega ulama seluruh Indonesia, dengan kolega masyarakat-masyarakat sampai ke ujung daerah, Pak Presiden, dari mulai di Aceh sampai dengan Papua.

Maka terumuskanlah: mari kita membuat satu gerakan yang memberikan kesadaran tentang ketahanan pangan. Sehingga semua punya kesadaran dan keinginan untuk menanam.
Maka dibuatlah, diluncurkanlah, Gerakan Indonesia Menanam.
Kita singkat dengan: Gerina, Pak Presiden.

Gerakan ini harus memiliki instrumen. Karena bila hanya disampaikan saja, diingatkan saja, tidak ada instrumennya, tidak ada buktinya, maka tidak mudah kemudian kita untuk bisa menanam.

Kami melihat, alhamdulillah, kita punya orang-orang baik, saudagar-saudagar baik. Bila di timur ada Pak Haji Isam mulai menanam, saya berpikir, kami berpikir, di barat kita harus ada juga, supaya kita lipat dari barat ke timur—se-Indonesia bisa menanam.

Maka kami memohon kesediaan Haji Setiawan Ikhlas, UKP Presiden, untuk minta agar lahan di barat itu bisa kami gunakan sebagai riset.
Alhamdulillah, Pak Presiden, kami hanya minta pinjam —tapi beliau berikan ini utuh, untuk digunakan sebagai riset demi kepentingan bangsa dan negara.

Maka kami berangkat ke Korea, kami berangkat ke Jepang, kami berangkat ke Mesir. Menyusun naskah akademik, bagaimana kemudian itu bisa ditanam dengan baik, terdapat landasan dengan baik, dan secara akademik, secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

Maka, Pak Mentan, dapatlah lahan ini. Tidak mudah mengolah lahan ini, karena ternyata ini PMK —lahan yang mustahil dan sulit bisa ditanam.
Maka, apa yang kami lakukan? Setelah merenung, kita duduk.

Bapak boleh cek ke dinas, bagaimana status lahan ini, apakah punya potensi untuk ditanam?

Pak Mentan dari kemarin tanya: “Pak Ustadz, ini pupuknya pupuk apa?”
Karena ini anomali: lahan yang tak mungkin bisa ditanam, tiba-tiba bisa tumbuh, Pak, di lahan 7.200 m².

Maka saya katakan, saya buka hari ini: Metode dan pupuknya adalah Pupuk Pancasila, yang berdasarkan pada Asta Cita. Sila pertamanya, Pak: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Maka kita implementasikan. Kami undang juga saudara-saudari kami yang saudara dari Kristen, yang saudara dari Hindu, saudara dari Buddha, juga yang lain-lainnya. Supaya kita bersatu padu dalam konsep menanam ini secara universal dalam nilai keislaman.

Tadi Bapak mendengarkan ayat Al-Qur’an di Surah Yusuf ayat 44, yang kurang lebih maknanya: mestilah di satu negeri itu, kalau ingin kokoh, harus kokoh ketahanan pangannya, harus mulai menanam, supaya rakyatnya tidak lapar, dapat makan, dan punya visi ke depan yang jauh.

Maka kami berkumpul, berdoa, minta. Kami kumpulkan ahli Qur’an yang orang Islam. Hari Minggu kemarin kami kumpulkan lagi di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin.

Maka, dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, Pasal 29 Ayat 1:
“Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” Pasal 29 Ayat 2: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.”

Pembukaan, Preambul Undang-Undang Dasar 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”

Pupuknya, Pak Mentan, pupuk biasa. Olahannya, tanah biasa.

Tapi langit yang biru—warna biru kesukaan presiden.
Karpetnya merah, bajunya putih, dimulai dengan merah-putih, melahirkan naungan langit yang biru, menghadirkan tanaman.
Tanah terolah dengan tumbuhan yang hijau dan membumi, Pak.

Tiga bulan, Pak—alhamdulillah—padi tumbuh, singkong berbuah manis.
Kemudian juga jagung berbuah manis.

Tapi tidak cukup dengan itu. Kalau cuma tanam singkong, tanam jagung, tanam padi —semua orang bisa melakukan dengan lahan yang luas.

Maka yang kedua, kita hadirkan novelty, kebaruan-kebaruannya yang dilakukan untuk memenuhi rasa keadilan, dilakukan dengan adab, sehingga menimbulkan nilai kemanusiaan yang baik.

Maka, Pak Presiden, izin: Ini ada program Si Opung—Solusi Olah Padi Terapung. Maka ini kami hadirkan contoh, Pak. Dalam 3 bulan ini sudah bisa dipanen, insyaallah.

Jadi kalau nanti yang tidak punya lahan, yang tidak punya area yang luas, insyaallah, di sampingnya bisa dibuat.

Yang punya kolam, di atasnya padi, di bawahnya ikan. Kalau ada pesantren-pesantren punya empang, atasnya padi, lahannya bisa ikan.

Program MBG bahkan bisa di-support dari ketahanan pangan yang kita buat inovasinya. Jadi kalau di sana: Makan Bergizi Gratis, MBG. Di sini: MBG —Menanam Bersama Gerina.