Jakarta – Presiden Donald Trump menyuarakan kemarahannya pada Minggu (30/03/2025) kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas komentar yang dibuatnya tentang Ukraina dan presidennya Volodymyr Zelenskyy.
Mengutip dari AP News, dalam wawancara telepon dengan NBC News pada Minggu pagi, Trump merujuk pada komentar yang dibuat Putin pada Jumat tentang menempatkan Ukraina untuk sementara di bawah pemerintahan eksternal.
Trump mengatakan dia “marah, kesal” ketika Putin “mulai menyinggung kredibilitas Zelenskyy”.
Putin mengulangi klaimnya bahwa Zelenskyy, yang masa jabatannya berakhir tahun lalu, tidak memiliki legitimasi untuk menandatangani perjanjian damai. Berdasarkan konstitusi Ukraina, mengadakan pemilihan nasional saat berada di bawah darurat militer adalah tindakan ilegal.
“Jika kesepakatan tidak dibuat, dan jika saya pikir itu adalah kesalahan Rusia, saya akan memberikan sanksi sekunder pada Rusia,” kata Trump kepada Kristen Welker dari NBC, seraya menambahkan bahwa akan ada “tarif 25 hingga 50 poin untuk semua minyak”.
“Siapa pun yang membeli minyak dari Rusia tidak akan dapat menjual produk mereka, produk apa pun, bukan hanya minyak, ke Amerika Serikat,” katanya.
Meskipun demikian, Trump menegaskan kembali bahwa ia dan Putin memiliki “hubungan yang sangat baik.”
Berdasarkan laporan dari Le Monde, Zelenskyy dilantik menjadi Presiden Ukraina pada 20 Mei 2019. Masa jabatannya dijadwalkan berakhir pada Mei 2024, tetapi serangan Rusia yang masih berlangsung dan darurat militer yang diberlakukan mengakibatkan pemilihan presiden tidak dapat dilaksanakan.
Zelenskyy diperkirakan akan tetap menjabat sebagai presiden selama berlangsungnya Perang Rusia-Ukraina.
AS telah mendorong kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif antara Rusia dan Ukraina untuk scara damai mengakhiri perang mereka yang telah berlangsung selama 3 tahun.
Akan tetapi, Zelenskyy mengumumkan melalui kanal Telegramnya bahwa drone Rusia menyerang wilayah Cherkasy, Kherson, Donetsk, Zaporizhzhia, Dnipro, Sumy, dan Kharkiv. Dia menyebut Putin tidak peduli dengan diplomasi dan gencatan senjata tanpa syarat.
“Geografi dan kebrutalan serangan Rusia, tidak hanya sesekali, tetapi secara harfiah setiap siang dan malam, menunjukkan bahwa Putin tidak peduli dengan diplomasi. Selama beberapa minggu ini, telah ada usulan AS untuk gencatan senjata tanpa syarat. Dan hampir setiap hari, sebagai tanggapan atas usulan ini, ada pesawat tanpa awak, bom, penembakan artileri, dan serangan balistik Rusia,” katanya. [BP]