Trump dan Zelenskyy Bahas Gencatan Senjata Saat Menghadiri Pemakaman Paus Fransiskus

Trump dan Zelenskyy berdiskusi (kiri) dan Zelenskyy menempati kursi di barisan depan bersama istrinya, Olena, selama prosesi pemakaman Paus Fransiskus (kanan). Zelenskyy membagikan kedua foto ini di kanal Telegramnya. (Sumber: Sulindo/Benedict Pietersz)

Jakarta – Presiden AS Donald Trump dan presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membahas kemungkinan gencatan senjata dengan Rusia saat mereka menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus pada Sabtu (26/04/2025).

Video dan foto yang beredar menunjukkan kedua pemimpin negara tersebut duduk di kursi secara berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Mereka berbicara selama sekitar 15 menit.

Zelenskyy mengatakan diskusi itu berjalan dengan baik: ia dan Trump berhasil membahas banyak hal.

“Pertemuan yang baik. Secara pribadi, kami berhasil membahas banyak hal. Kami berharap ada hasil dari semua hal yang disampaikan. Perlindungan terhadap kehidupan rakyat kami. Gencatan senjata yang lengkap dan tanpa syarat,” ujarnya, dikutip dari kanal Telegramnya.

Zelenskyy juga menyebut pertemuan itu sangat simbolis dan berpotensi menjadi bersejarah, jika Ukraina dan mitra-mitranya mencapai hasil bersama.

Melansir dari Al Jazeera, Kepala staf Zelensky, Andriy Yermak, menggambarkan pertemuan 15 menit itu bersifat “konstruktif”, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Sementara itu, Gedung Putih menggambarkan pertemuan itu sebagai “sangat produktif”, dikutip dari The Guardian.

Itu adalah pertama kalinya Zelenskyy dan Trump bertemu lagi secara langsung, setelah perdebatan panas di Gedung Putih pada Februari lalu.

Selama prosesi pemakaman Paus Fransiskus, Trump menempati kursi barisan depan dekat peti jenazah Paus Fransiskus. Zelensky berada di barisan yang sama, hanya berjarak 11 kursi dari Trump.

Surat Wasiat Paus Fransiskus

Paus Fransiskus dimakamkan Santa Maria Maggiore, salah satu dari empat Basilika Kepausan di Roma, yang terletak di puncak Bukit Esquiline.

Mengutip dari situs Papal Basilica of Saint Mary Mayor, Perawan Maria diyakini menunjukkan dan mengilhami pembangunan baitya di Bukit Esquiline.

Ia menampakkan diri dalam mimpi kepada bangsawan, Giovanni, dan Paus Liberius, meminta pembangunan Gereja untuk menghormatinya. Di tempat itulah akan Ia akan muncul secara ajaib.

Sebelum kematiannya, Paus Fransiskus menulis sebuah surat wasiat, yang berisi permintaannya untuk dimakamkan di Santa Maria Maggiore. Berikut ini adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Dalam Nama Tritunggal Mahakudus. Amin

Ketika aku merasakan senja kehidupan duniawiku semakin mendekat, dan dengan harapan teguh akan kehidupan kekal, aku ingin menyampaikan wasiat terakhirku–khususnya mengenai tempat peristirahatan terakhirku.

Sepanjang hidupku, dan selama pelayananku sebagai imam dan uskup, aku selalu menyerahkan diriku kepada Bunda Tuhan kita, Santa Perawan Maria yang Terberkati. Karena itu, aku memohon agar jenazahku beristirahat–sambil menanti Hari Kebangkitan–di Basilika Kepausan Santa Maria Maggiore.

Aku ingin perjalanan akhirku di dunia ini berakhir di tempat suci Maria yang kuno ini, tempat di mana aku selalu berhenti untuk berdoa setiap kali memulai dan mengakhiri Perjalanan Apostolik, dengan penuh keyakinan menyerahkan niat-niatku kepada Bunda Tak Bernoda, dan mengucap syukur atas kasih sayangnya yang lembut dan keibuannya yang penuh perhatian.

Aku memohon agar makamku dipersiapkan di relung pemakaman yang terletak di lorong samping, antara Kapel Paulus (Kapel Salus Populi Romani) dan Kapel Sforza dalam Basilika ini, sesuai dengan rencana yang terlampir.

Makam tersebut hendaknya berada di tanah; sederhana, tanpa ornamen khusus, hanya memuat tulisan: Franciscus.

Biaya persiapan makam akan ditanggung oleh seorang dermawan, yang telah aku atur agar dananya disalurkan ke Basilika Kepausan Santa Maria Maggiore. Aku telah memberikan instruksi yang diperlukan terkait hal ini kepada Kardinal Rolandas Makrickas, Komisaris Luar Biasa Basilika Liberia.

Semoga Tuhan menganugerahkan balasan yang layak bagi semua yang telah mengasihiku dan yang terus mendoakanku. Segala penderitaan yang mewarnai bagian akhir hidupku ini, aku persembahkan kepada Tuhan–demi perdamaian dunia dan persaudaraan antarmanusia. [BP]