Poster Film Time Hoppers: The Silk Road. (ist)

Catatan Cak AT:

Sejak menit pertama membaca judul Time Hoppers: The Silk Road, ada kesan bahwa film yang tayang nasional di AS ini ingin mengajak penonton berjalan-jalan santai di lorong sejarah. Tapi jangan salah, lorong yang satu ini bukan sekadar lorong museum dengan kaca tebal dan papan larangan menyentuh.

Ia lebih mirip pasar Jalur Sutra itu sendiri: riuh, lintas bahasa, penuh tawar-menawar gagasan, dan sesekali rawan penipuan epistemologis. Bahwa film ini dikemas sebagai animasi keluarga justru menarik, sebab di situlah ia bermain di wilayah yang selama ini jarang disentuh serius oleh narasi Muslim kontemporer: imajinasi anak-anak.

Film Time Hoppers: The Silk Road yang juga layak ditonton di bulan suci Ramadhan ini menampilkan empat anak dari tahun 2050 yang bisa melompat waktu bukan sekadar tokoh fiksi dengan bakat super. Mereka adalah metafora generasi Muslim masa depan yang idealnya tidak memutus hubungan dengan masa lalu.

Perjalanan waktu dalam film ini bukan nostalgia murahan, melainkan mekanisme naratif untuk menyatakan satu tesis penting: ilmu pengetahuan tidak pernah lahir di ruang hampa, dan masa depan sains modern berdiri di atas pundak para ilmuwan yang namanya terlalu sering dipinggirkan dalam buku teks populer.

Di sini, Jalur Sutra tampil bukan sebagai latar eksotis, tetapi sebagai tulang punggung peradaban global — jalur tempat matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan bahkan metode berpikir ilmiah saling bersilang. Namun, ia menjadi sensasi dan membangkitkan adrenalin ketika godaan dan tantangan datang.

Tokoh antagonis berupa “alkemis jahat” yang tampil di film terasa sederhana di permukaan, hampir klise. Namun jika dibaca lebih dalam, ia adalah personifikasi dari segala bentuk distorsi ilmu: pseudo-sains, manipulasi pengetahuan demi kekuasaan, dan obsesi menguasai masa depan dengan cara merusak fondasi masa lalu.

Ini bukan soal sihir versus sains, melainkan kritik halus terhadap kecenderungan manusia — termasuk umat beragama — yang ingin hasil instan tanpa menghormati proses intelektual panjang. Dalam konteks ini, konflik film justru relevan dengan dunia modern yang dijejali teori konspirasi, pengetahuan setengah matang, dan klaim kebenaran instan bermodal algoritma.

Keputusan kreatif untuk menghadirkan ilmuwan Muslim sebagai figur yang harus “dilindungi” oleh anak-anak adalah pembalikan peran yang menarik. Biasanya, sejarah digambarkan sebagai sesuatu yang melindungi identitas kita. Film ini membalik logika itu: justru kitalah yang bertanggung jawab menjaga sejarah agar tidak disabotase.

Pesannya jelas namun tidak menggurui — sebuah pilihan cerdas untuk audiens keluarga. Anak-anak tidak diajak menghafal nama tokoh dan tahun wafat, melainkan diajak menyadari bahwa hilangnya satu mata rantai pengetahuan bisa berdampak panjang pada masa depan peradaban.

Namun di titik inilah terasa bahwa film ini baru membuka pintu, belum sepenuhnya masuk ke rumah besar bernama peradaban Islam. Jalur Sutra yang begitu kaya sebenarnya menyimpan konflik intelektual yang jauh lebih kompleks: perdebatan rasio dan wahyu, tarik-menarik antara ilmu murni dan kepentingan politik, serta dinamika lintas agama dan budaya yang membentuk sains klasik.

Film ini memilih jalur aman — edutainment yang memancing rasa ingin tahu, bukan diskursus berat. Pilihan ini bisa dipahami secara strategis, tapi sekaligus menyisakan rasa “kurang kenyang” bagi penonton dewasa yang sadar betapa besarnya potensi cerita yang bisa dikembangkan.

Kekuatan lain film ini justru terletak di luar layar: model produksinya. Ia lahir dari komunitas, bukan dari pabrik IP raksasa. Pendekatan “kredibilitas komunitas” menggantikan kultus selebritas, seolah ingin berkata bahwa otoritas moral dan intelektual masih punya tempat dalam budaya populer. Ini selaras dengan pesan filmnya sendiri: pengetahuan tumbuh lewat jejaring kepercayaan, bukan lewat figur tunggal yang dielu-elukan tanpa kritik.

Dan di titik inilah penjelasan produsernya menjadi penting agar istilah “komunitas” tidak jatuh menjadi jargon manis tanpa isi. Bagi para penggerak Milo Productions, komunitas bukanlah massa anonim yang sekadar dijadikan target pasar, melainkan ekosistem hidup yang sejak awal ikut bernapas dalam proses kreatif: dari ide yang lahir di kanal animasi sederhana, berkembang menjadi gim edukatif yang diuji langsung oleh anak-anak Muslim, hingga akhirnya menjelma film layar lebar.

Produksi berbasis komunitas di sini berarti kepercayaan menggantikan sensasi, keterlibatan menggantikan endorsement, dan legitimasi sosial menggantikan kemewahan promosi. Para pendidik, tokoh masyarakat, dan cendekiawan tidak hanya diminta memberi restu simbolik, tetapi benar-benar dilibatkan sebagai pengisi suara, penguji naskah, hingga penggerak penonton di tingkat lokal.

Inilah model produksi yang mengingatkan kita pada tradisi klasik peradaban Islam sendiri: ilmu tumbuh bukan karena sponsor besar, melainkan karena jaringan murid, guru, wakaf, dan rasa memiliki bersama — sebuah gotong royong intelektual yang kini diterjemahkan ke dalam bahasa industri film modern, tanpa kehilangan ruhnya.

Yang paling menarik, mungkin, adalah keberanian film ini untuk mengklaim ruang bioskop sebagai ruang komunal Muslim modern. Menonton bersama menjadi bagian dari narasi bahwa sejarah tidak lagi dibaca sendirian, tetapi dirayakan kolektif.

Dalam konteks dunia yang semakin terfragmentasi oleh layar pribadi, gagasan ini terasa hampir politis. Ia menegaskan bahwa identitas dan memori kolektif masih membutuhkan ruang fisik, tawa bersama, dan percakapan setelah lampu menyala.

Akhirnya, Time Hoppers: The Silk Road bukan film yang merasa dirinya sudah selesai. Ia lebih mirip mukadimah panjang yang sopan, membuka kemungkinan sekuel, spin-off, atau bahkan genre baru dalam sinema Muslim: animasi sejarah-filosofis yang tidak malu mengakui akar peradabannya.

Ia mengingatkan bahwa kekayaan khazanah Islam terlalu besar untuk terus disimpan di rak kitab atau ruang akademik semata. Imajinasi adalah medan dakwah kultural yang sah, dan film ini baru saja memasang patok pertamanya.

Jika sejarah selama ini sering diperlakukan sebagai beban atau nostalgia defensif, film ini mencoba mengubahnya menjadi petualangan intelektual.

Dan mungkin di situlah pelajaran terbesarnya: peradaban tidak diwariskan lewat ceramah panjang, tetapi lewat cerita yang membuat generasi baru ingin ikut menjaga, melanjutkan, dan — siapa tahu — melompat lebih jauh ke masa depan.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis