Tak Hanya Mesir, Papua Juga Menyimpan Mumi Berusia Ratusan Tahun

Mumi Papua. (Wikipedia)

Selama ini, pembahasan tentang mumi kerap identik dengan peradaban Mesir Kuno. Padahal, tradisi pengawetan jasad juga hidup dan berkembang jauh di Indonesia, tepatnya di Tanah Papua.

Di wilayah pegunungan Papua, mumi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari sistem adat, kepercayaan, dan penghormatan terhadap tokoh-tokoh penting dalam komunitas. Salah satu mumi yang paling dikenal adalah Mumi Aikima.

Mumi Aikima berada di Desa Aikima, sebuah kampung di Distrik Pisugi yang letaknya tidak jauh dari Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya. Dari Kota Wamena, lokasi ini berada di arah utara dengan jarak sekitar 14 kilometer. Mumi ini merupakan jasad Kepala Suku Perang yang memiliki nama asli Weropak Elosak.

Ia diketahui masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Mumi Agatmamente Mabel, yang juga dikenal dengan sebutan Humomumi Wo’ogi. Meski usia pastinya belum dapat dipastikan secara ilmiah, perhitungan adat memperkirakan umur Mumi Aikima telah mencapai kurang lebih 250 tahun.

Weropak Elosak termasuk dalam deretan kepala suku perang yang jasadnya diawetkan menggunakan ramuan tradisional khas masyarakat Papua pegunungan. Proses mumifikasi dilakukan melalui pengasapan dan pembalseman yang berlangsung secara terus-menerus selama kurang lebih tiga bulan. Cara ini dilakukan dengan penuh ketelitian dan ritual adat, karena jasad yang diawetkan dianggap tetap memiliki hubungan spiritual dengan kehidupan masyarakat yang ditinggalkan.

Tradisi perawatan mumi tidak berhenti setelah proses pengawetan selesai. Setiap lima tahun sekali, masyarakat adat menggelar upacara khusus untuk memoleskan lemak babi sebagai balsam pada tubuh mumi, sekaligus memasangkan gelang atau tipar di lehernya. Jumlah kalung yang terpasang di leher mumi bahkan digunakan sebagai penanda untuk memperkirakan usianya. Namun, seiring waktu dan kurangnya perawatan, kondisi Mumi Aikima sempat mengalami kerusakan.

Pada tahun 2012, upaya penyelamatan dilakukan melalui kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua. Konservasi dan perbaikan dilakukan untuk menjaga keutuhan jasad mumi agar tidak semakin rusak. Saat ini, tubuh Weropak Elosak ditempatkan di dalam kotak kaca atau semacam akuarium pengawetan guna melindunginya dari pengaruh lingkungan sekaligus memudahkan pengawasan.

Keberadaan Mumi Aikima mencerminkan nilai penting seorang tokoh adat dalam kehidupan masyarakat Papua. Tidak semua orang dapat melalui proses pemumian. Hanya mereka yang dianggap berjasa besar, seperti kepala suku, panglima perang, atau pemimpin masyarakat, yang mendapatkan kehormatan ini. Dalam beberapa kasus, para tokoh adat bahkan telah berpesan sebelum wafat agar jasadnya diawetkan sebagai simbol kehormatan dan pengabdian kepada komunitasnya.

Bagi masyarakat Papua, mumi tidak pernah dipandang sebagai benda mati semata. Ia diyakini sebagai penghubung dengan leluhur, kehadiran roh yang senantiasa menjaga keturunan dan kampung halaman. Kehadiran mumi juga dipercaya membawa keberkahan, ketentraman, serta kekuatan bagi masyarakat sekitar. Di sisi lain, tradisi ini menjadi identitas budaya yang menegaskan panjangnya sejarah masyarakat pegunungan Papua, lengkap dengan sistem sosial, kepercayaan, dan simbol-simbol adat yang kaya makna.

Selain Mumi Aikima, Papua masih menyimpan sejumlah mumi lain yang telah didokumentasikan dan dikenal luas. Salah satunya adalah Mumi Wim Motok Mabel yang berada di wilayah Kurulu atau Jiwika. Mumi ini diperkirakan berusia lebih dari 350 tahun dan berasal dari kawasan Wamena, Jayawijaya, serta dikenal sebagai salah satu mumi paling terkenal di Papua.

Ada pula Mumi Pumo, yang juga dikenal sebagai Agatma Mente Mabel, yang berada di kawasan Lembah Baliem dan menjadi daya tarik wisata budaya. Mumi Araboda yang terletak di Asologaima juga termasuk mumi penting, dengan perawatan khusus di dalam kotak penyimpanan tersendiri.

Di luar itu, beberapa mumi dari Suku Yali dan Moni diketahui disimpan di dalam gua-gua dan keberadaannya masih dirahasiakan oleh keluarga adat. Bahkan, beredar cerita tentang mumi-mumi lain yang tersebar di daerah pedalaman Papua yang sulit dijangkau, menandakan bahwa tradisi pemumian ini masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya terungkap.

Mumi-mumi Papua, termasuk Mumi Aikima, menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang unik dan sarat makna. Tradisi ini tidak hanya menunjukkan cara masyarakat menghormati pemimpin mereka, tetapi juga menggambarkan hubungan mendalam antara manusia, leluhur, dan alam dalam kehidupan adat Papua yang terus bertahan hingga kini. [UN]