Cirebon – Pergeseran sarana transportasi dari mulai konvensional sampai digital membawa pengaruh yang cukup besar bagi para penyedia layanan.
Bagi mereka yang masih mengandalkan suara teriakan untuk memanggil pelanggan, adanya digitalisasi menjadi momok yang nyata.
Bapak Rasimun (bukan nama sebenarnya) pengayuh becak di stasiun Kejaksan Cirebon mengeluhkan peralihan digitalisasi pada moda transportasi umum yang ada saat ini.
Ia bercerita sulitnya mendapat pelanggan untuk sekedar menikmati sesuap nasi karena kalah saing dengan aplikasi online.
Usia senja bukan untuk menikmati jerih payah saat muda tetapi masih meratapi kerasnya bersaing dalam mencari pundi-pundi untuk membeli sesuap nasi.
Ia juga mengungkapkan alasan kenapa becak yang sehari-hari menjadi senjata untuk melawan kerasnya hidup, kini sudah tak diminati.
Selain harga yang tak pasti, efisiensi waktu juga Ia katakan menjadi penghalang minat para pelanggannya untuk menunggangi kereta tak berkuda ini.
Meski harga kerap kali Ia kurangi dari harga transportasi online, namun balik lagi, waktu tempuh yang berjarak lumayan, menjadikan penumpang lebih memilih transportasi yang bisa diakses dari gawai disakunya untuk memesan.
Dulu, katanya, hanya bermodal sarapan dari rumah, datang ke stasiun melawan teriknya matahari dengan becak tempur andalannya dan kerongkongan yang mulai mengering serta kerasnya lantunan kata ‘becak mba/mas’ atau ‘becak Bu/Pak’ pundi-pundi rupiah cukup mudah mengisi kantong celana yang sedikit terlihat robekan dibagian pantat karena terlalu sering bergesekan dengan sadel becak yang tidak ada kata nyaman untuk diduduki.
Berbeda dengan sekarang, meski kerongkongan kering, dibasahi dengan teh manis yang Ia siapkan di botol bekas air mineral kemasan dari rumah, suara lantang sampai lemas, memanggil penumpang, satu pun tak ada yang meng ‘iya’ kan panggilannya. Bahkan ada yang seolah tak mendengar panggilan tersebut seolah Ia hanya suara kenistaan yang entah datang dari mana, tak perlu digubris apalagi di tanggapi.
Miris? Memang iya, tapi apa daya, gaya hidup berubah, pola masyarakat dalam menggunakan transportasi pun berubah. Tak dipungkiri hal ini menjadi pemandangan yang sedikit menyayat dimana ekonomi yang katanya terus bertumbuh, masih ada disekitar kita masyarakat yang memang tak mampu untuk bisa mengikuti perubahan itu apalagi sampai bersaing.
Teknologi pun mungkin Ia amat sangat kurang memahami apalagi untuk menggunakan itu dalam persaingan mencari nafkah.
Sekedar sesuap nasi sering kali tak Ia dapati meski sudah melewati panas terik dan dinginya hujan.
Lantas kemana perginya perhatian pemerintah akan hal ini? Apakah bantuan yang seringkali digembor-gemborkan sudah sampai ke telinga mereka?
Entahlah mungkin informasi itu hanya sekedar penggelitik layaknya cotton bud yang memberikan kenikmatan sesaat. [IQT]
Sunyi di Tengah Digitalisasi
Stasiun Kejaksan Cirebon. (Foto: Sulindo/Iqyanut Taufik)