Jakarta — Langkah penyesuaian keterampilan masa depan (the future skills) dengan dinamika dunia kerja serta kebutuhan sektor industri menjadi fokus pembahasan antara Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK). Kolaborasi ini berfokus pada penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), perluasan jangkauan pelatihan kerja, hingga peningkatan produktivitas nasional untuk membantu tenaga kerja lokal beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan para praktisi manajemen SDM guna memastikan program pengembangan kompetensi berjalan selaras dengan kebutuhan industri. Ia menyoroti bahwa prioritas pembangunan sektor ketenagakerjaan harus berorientasi pada peningkatan produktivitas, ketimbang hanya berfokus pada penyelesaian konflik hubungan industrial.
“Pembangunan ketenagakerjaan harus mampu menjawab tantangan riil di lapangan melalui perluasan ruang lingkup kerja sama, yang tidak sekadar menyelesaikan masalah hubungan industrial, melainkan berfokus pada peningkatan produktivitas,” ujar Yassierli dalam acara Brainstorming GNIK Academy bertema “Solusi Kolaboratif Membangun The Future Skills untuk Indonesia” di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Yassierli menerangkan bahwa munculnya teknologi informasi, kecerdasan buatan (AI), dan tren ekonomi hijau terus mengubah kualifikasi keterampilan yang dibutuhkan pasar. Oleh sebab itu, skema pelatihan harus terus disesuaikan. Selain gelar akademis, penguasaan keterampilan nyata kini menjadi kriteria utama dalam menilai kesiapan seseorang masuk ke dunia industri.
Ia juga menyarankan agar perusahaan memenuhi kebutuhan kualifikasi baru ini melalui kolaborasi pembelajaran dan penyebaran pengetahuan. Metode ini dinilai efektif karena memanfaatkan sumber daya serta pengalaman yang ada tanpa membebankan biaya besar untuk membangun sistem pelatihan mandiri.
“Isu keterampilan masa depan merupakan tantangan bersama lintas sektor. Alih-alih setiap perusahaan merintis platform mandiri berbiaya besar, mari satukan potensi dan pengetahuan yang ada ke dalam wadah pembelajaran kolektif,” katanya.
Sebagai langkah konkret dari pihak pemerintah, Kemnaker saat ini sedang menyelesaikan pengembangan sistem informasi pasar kerja terpadu. Platform ini dirancang untuk pemetaan pasokan tenaga kerja dan permintaan industri, yang nantinya menjadi acuan utama penyusunan kebijakan pelatihan dan pengembanan SDM.
Proyek pengembangan sistem ini meliputi:
1. Pembaruan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI).
2. Pemetaan daftar okupasi kritis atau jabatan strategis yang krusial bagi industri.
3. Integrasi portal SIAPKerja dengan basis data milik Badan Pusat Statistik (BPS).
Rangkaian pembaruan ini diharapkan memudahkan pemerintah mengidentifikasi secara presisi kebutuhan tenaga kerja dan jenis keterampilan yang perlu diasah.
Di akhir pengerjaannya, Yassierli menyatakan kesiapan pemerintah dalam menyediakan dukungan regulasi dan infrastruktur. Kerja sama dengan GNIK diharapkan dapat menyatukan keahlian para praktisi lapangan dengan fasilitasi pemerintah demi mencetak SDM yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Prinsip utama yang senantiasa kita pegang teguh adalah dari, oleh, dan untuk GNIK dan Bangsa. Pemerintah siap memfasilitasi infrastruktur serta regulasi pendukung agar kompetensi generasi muda dapat berkembang secara optimal,” pungkas Yassierli. [KS]





