Pengaruh Cina

Gagal menaklukkan Jawa di era Kubhilai Khan dengan senjata, Cina mengganti strateginya. Tahun 1405 wilayah di Kalimantan Barat direbut Cina, Palembang di tahun 1407 dan menyusul kemudian, Melayu, Malaka dan Brunei.

Wilayah-wilayah itu tumbuh menjadi bandar-bandar perdagangan yang ramai, merdeka dari Majapahit.

Mandala Dwipantara yang digagas Kertanagara dan dilanjutkan Gajah Mada dalam Sumpah Palapa runtuh. Pengaruh Cina tak terbendung di Nusantara.

Setelah Armada Cina merebut Palembang dari tangan Majapahit, daerah  itu diduduki orang-orang Cina Islam dari Yunan yang membentuk masyarakat Muslim di Palembang. Pada tahun itu juga mereka membentuk masyarakat muslim di Sambas.

Hampir semua negara-negara pantai di Asia Tenggara juga masuk dalam kekuasaan Cina di bawah kepemimpinan Laksamana Cheng Ho.

Di Campa ia menunjuk Bong Tak Keng sebagai penguasa penuh untuk mengawasi perkembangan masyarakat Cina Islam di seluruh Asia Tenggara.

Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara menyebut untuk mempercepat proses pembentukan masyarakat Cina Islam di Jawa, Bong Tak Keng memindahkan Gan Eng Cu dari Manila ke Tuban pada tahun 1419.

Kala itu Tuban sudah menjadi kota pelabuhan yang sangat penting karena menjadi pintu masuk dari laut lepas menuju Majapahit di pedalaman.

Swan Liong alias Arya Damar, kepala pabrik mesiu di Semarang yang dianggap sebagai keturunan Majapahit di pindahkan ke Palembang sebagai kapten Cina untuk memimpin masyarakat Cina Muslim di sana.

Ia dibantu Bong Swi Hoo yang datang dari Campa di tahun 1445. Orang inilah yang dua tahun kemudian diangkat menjadi Kapten Cina di Bangil, yang terletak di muara Kali Porong.

Demikianlah, hampir semua kota pelabuhan di seluruh penjuru Nusantara, khususnya pantai utara Jawa terbentuk masyarakat Muslim Cina yang mapan.

Semua kota-kota itu menjadi pusat perdagangan yang sesuai instruksi dari Cina harus mengadakan hubungan politik dan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan tempat di mana mereka menetap.

Sebelum kedatangan mereka, wilayah-wilayah ini mutlak dikuasai pedagang-pedagang yang tunduk kepada kekuasaan Majapahit di pedalaman. Pelabuhan-pelabuhan itu adalah tempat berdagang sekaligus urat nadi perekonomian Majapahit.

Bercokolnya pedagang-pedagang Cina Muslim di sepanjang pantai utara Jawa itu benar-benar mencekik sumber perekonomian Majapahit. Ya, Majapahit dikepung Cina Islam dari laut.

Klenteng Sam Po Kong di Semarang.

Jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa di Malaka, Yat Sun memang memendam cita-cita merebut kota Pelabuhan Malaka. Namun niatnya itu didahului Portugis yang menyerbu Malaka dari Goa.

Tak ada pilihan lain, Malaka harus direbut dari Portugis dan ia mengirimkan armada perang tahun 1512.

Baca juga Rempah, Penjelajahan untuk Menjajah

Ungul jangkauan meriam dan menempatkan banteng di atas bukit yang strategeis, Portugis berhasil mencegah kapal-kapal Demak mendekati pantai di Malaka.

Meski berhasil mengusir Portugis di sepanjang pantai Utara Jawa, dan mendirikan kasultanan di Banten sebagai pertahanan terdepan menghadapi Portugis dari Malaka, Demak gagal mencegah Portugis mencapai Maluku.

Akibatnya, perdagangan rempah-rempah yang sangat menguntungkan itu justru jatuh ke tangan orang-orang Portugis.

Meletakkan fokus utama merebut Malaka dari Portugis untuk menguasai jalur perdagangan penting, Demak justru mengabaikan membangun kehidupan rakyat di pedalaman.

Di sisi lain, bagaimanapun hebatnya, masyarakat Cina yang selalu menjadi andalan Demak hakikatnya tetap terlalu kecil jika dibanding kekuatan rakyat Jawa di pedalaman. Demak tetaplah menguasai beberapa kota pelabuhan yang terpecah-pecah di berbagai tempat.

Kelalaian Jimbun merangkul orang-orang di pedalaman bekas Majapahit dengan segera membuat Demak kehilangan simpati rakyat banyak.

Tenaga rakyat uang mestinya bisa digunakan untuk kepentingan negara, justru berbalik sikap dengan memusuhi Demak. Negara setengah koloni ini pada akhirnya runtuh gara-gara mengabaikan penduduk asli.(TGU)

 

(Tulisan ini pernah dimuat pada tanggal 17 Juni 2018)