Di tangan Kiai Syukron, mimbar keagamaan berubah menjadi tempat menguji tanggung jawab pemimpin, mengingatkan pejabat, dan membela kepentingan rakyat. Dari mimbar yang satu ke mimbar yang lain, ia berbicara konsisten. Selalu begitu.
Enam tahun lalu, misalnya, Kiai Syukron menyampaikan ceramah dalam acara haul KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar di Pesantren Salafiyah, Pasuruan. Di hadapan ribuan jamaah, ia mengingatkan pemerintah dan pejabat agar tidak mempersulit kehidupan rakyat.
Ia juga menyampaikan pesan yang penting bagi kehidupan demokrasi. Baginya, kiai mengkritik pemerintah justru cinta Indonesia. Karena itu, masyarakat dan penguasa tidak semestinya menganggap kritik sebagai permusuhan.
Pesan itu sederhana, tetapi menghantam kebiasaan buruk politik kita. Sebagian pejabat senang menerima pujian, tetapi cepat meradang ketika seseorang menunjukkan kesalahan mereka. Mereka menghendaki ulama menjadi pemberi restu, bukan pengingat.
Padahal, ketika seorang pemimpin menyimpang, siapa yang lebih berkepentingan mengingatkannya selain orang yang masih mempunyai keberanian moral? Kiai Syukron mengembalikan kritik ke tempatnya: sebagai bagian dari tanggung jawab mencintai negeri.
Logikanya terang. Jika seorang pejabat membuat kebijakan yang menyulitkan rakyat, orang yang mencintai Indonesia harus berani menyatakannya. Membiarkan kesalahan terus berjalan demi menjaga hubungan baik dengan penguasa justru merugikan bangsa.
Ia juga mengingatkan, kritik terhadap pemerintah tidak otomatis menjadikan seseorang musuh negara. Demokrasi membutuhkan perbedaan pendapat, sementara kekuasaan membutuhkan pengawasan. Tanpa itu, pemerintahan mudah berubah menjadi ruangan tertutup.
Kiai Syukron mempunyai gaya komunikasi yang khas. Ia tidak selalu membungkus kritik dengan metafora panjang. Ia cenderung menyampaikan persoalan secara langsung, dengan intonasi kuat dan argumentasi keagamaan yang tegas.
Sikap itu tampak pula dalam keterlibatannya pada politik praktis. Ia ikut mendirikan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), yang dideklarasikan pada 5 Maret 2003, dan pernah memimpin partai tersebut.
Sebelumnya, ia telah berkecimpung dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), termasuk lama didapuk sebagai Ketua Umum Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama. Ia juga pernah menjadi penasihat Partai Persatuan Pembangunan.
Riwayat ini menunjukkan bahwa ia memahami politik dari dekat. Ia mengenal dunia dakwah, organisasi, dan persaingan partai. Pengalaman tersebut memberinya ruang melihat bagaimana kekuasaan bekerja dan kepentingan politik memengaruhi sikap tokoh agama.
Tentu, keterlibatan politik tidak otomatis membuat seseorang selalu benar. Ulama juga perlu menguji keputusan politiknya sendiri.
Justru karena itu, keberanian mengkritik pemerintah menjadi semakin berarti apabila seorang pengkritik bersedia menerapkan ukuran moral yang sama kepada kelompok dan kepentingannya sendiri.
Di sinilah warisan Kiai Syukron perlu kita baca secara utuh. Kita dapat menghargai keberaniannya tanpa menganggap setiap pilihan politiknya kebal dari penilaian.
Salah satu kesaksian yang menyentuh datang dari Ray Rangkuti, pengamat politik sekaligus mantan santri Daarur Rahman. Dalam kenangannya, Ray menceritakan perhatian khusus yang diterimanya dari sang kiai.
Kiai Syukron mengetahui bahwa Ray membaca buku-buku yang ketika itu tidak lazim dikonsumsi sebagian besar santri. Rak bukunya menyimpan karya Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, Muhammad Abduh, Hamka, dan sejumlah pemikir lain.
Suatu sore, ketika Kiai Syukron memberikan pengajaran umum kepada santri kelas enam, Ray mengajukan tiga pertanyaan sekaligus mengenai dinul Islam.
Sang kiai merespons dengan suara keras, dengan tujuan menarik perhatian santri lain agar menyimak jawaban serius atas pertanyaan serius. Di akhir pengajaran, Kiai Syukron bahkan mempersilakan Ray mengunjungi perpustakaan pribadinya.
Ray memang tak sempat memenuhi undangan itu, tetapi ia menangkap pesan penting dari pengalaman tersebut. Sang guru memberi ruang bagi santri yang ingin membaca dan berpikir lebih jauh.
Dalam kenangan yang sama, Ray menyebut bahwa dari Kiai Syukron ia belajar menjaga independensi, memegang prinsip, bersabar, dan menolak kompromi terhadap kekuasaan yang menindas.
Kesaksian itu penting. Kita sering mengukur keberhasilan pesantren dari banyaknya hafalan, ketertiban ibadah, atau jumlah alumninya. Semua itu bernilai.
Namun, pendidikan juga harus menghasilkan manusia yang mampu berpikir mandiri, menguji pendapat, dan mempertahankan kebenaran ketika berhadapan dengan tekanan.
Ray kemudian dikenal sebagai pengamat politik dan aktivis yang kritis. Pengalaman pendidikannya memperlihatkan bagaimana pesantren dapat menyediakan ruang bagi tumbuhnya keberanian intelektual.
Kiai yang baik tidak merasa terancam ketika santrinya membaca buku yang berbeda. Ia justru membantu mereka memahami perbedaan dengan ilmu dan akal sehat.
Kiai Syukron kini telah tiada. Keluarga dan para penerus Daarur Rahman mempunyai tanggung jawab besar menjaga keberlanjutan pendidikan yang telah ia bangun.
Mereka perlu merawat tradisi keilmuan, memperkuat mutu pengajaran, membuka ruang dialog, dan memastikan alumni tetap memiliki hubungan yang sehat dengan masyarakat.
Para ulama lain juga dapat mengambil pelajaran dari ketegasan Kiai Syukron. Mimbar keagamaan mempunyai tanggung jawab sosial. Dari sana, ulama perlu membantu masyarakat memahami persoalan sekaligus mengingatkan penguasa dengan argumentasi yang kuat.
Keberanian itu perlu berjalan bersama ketelitian. Kritik harus bertumpu pada fakta. Tuduhan harus mempunyai bukti. Perbedaan politik tidak boleh menghapus adab. Dengan cara itu, suara ulama dapat menjadi penuntun masyarakat.
Kiai Syukron, si Singa Podium itu kini telah pergi. Namun, suara yang berani membela kepentingan rakyat tidak boleh ikut terkubur. Kita membutuhkan lebih banyak ulama yang menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan.
Semoga Allah SWT mengampuni KH Syukron Ma’mun, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan memberikan ketabahan kepada keluarga, santri, serta seluruh pihak yang berduka.
Selamat jalan, Pak Kiai. Semoga ilmu dan keberanian yang engkau wariskan terus hidup dalam generasi yang engkau didik.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




