Sejarah Pohon Natal yang Jarang Diketahui

Pohon natal. (Foto: Unsplash)

Bulan Desember selalu membawa suasana yang khas. Jalanan mulai dihiasi lampu warna-warni, aroma kue panggang menyeruak dari dapur-dapur rumah, banyak mall berhias nuansa natal tidak lupa dengan diskon natalnya.

Bagi umat Kristiani di berbagai belahan dunia, bulan ini bukan sekadar penanda akhir tahun, melainkan waktu yang sarat makna, tradisi, dan perayaan. Di antara beragam simbol Natal, satu yang paling mudah dikenali adalah pohon Natal.

Pohon Natal, yang umumnya berupa pohon cemara, bukan sekadar hiasan musiman. Ia menyimpan sejarah panjang dan makna simbolik yang telah bertahan lintas abad. Meski kini banyak orang menggunakan pohon Natal buatan dari plastik atau bahan sintetis lainnya, esensi dan nilai yang dikandungnya tetap sama yaitu tentang harapan, kehidupan, dan terang.

Tradisi pohon Natal, setidaknya dalam bentuk yang kita kenal hari ini, bermula pada abad ke-16 di Jerman. Mengutip laman Monster Tree Service, pada masa itu, masyarakat mulai meletakkan pohon cemara di samping pintu masuk rumah atau di dalam ruangan. Seiring waktu, praktik ini berkembang.

Sebuah drama populer yang dipentaskan pada tanggal 24 Desember, dalam rangka perayaan Adam dan Hawa, menampilkan pohon yang dihiasi apel sebagai dekorasi panggung. Dari sinilah muncul kebiasaan menghias pohon cemara dengan berbagai ornamen. Pohon Natal awal dihiasi benda-benda sederhana, mulai dari kue hingga lilin yang menyala sebuah tradisi yang kemudian ditinggalkan karena risiko kebakaran.

Pada periode yang sama, berkembang pula tradisi lain yang berjalan paralel, yakni piramida Natal atau Weihnachtspyramide. Struktur kayu bertingkat ini dihiasi patung-patung bernuansa Kristen, lilin, ranting cemara, serta sebuah bintang di puncaknya. Dua tradisi ini akhirnya menyatu pada abad ke-16, melahirkan bentuk awal pohon Natal dalam ruangan yang dihias sebagaimana dikenal sekarang.

Dari Eropa, tradisi pohon Natal kemudian menyeberang ke Amerika. Imigran Jerman membawa kebiasaan ini sejak awal tahun 1600-an. Namun, pohon Natal baru benar-benar populer di Amerika Serikat pada abad ke-19.

Momen pentingnya terjadi pada tahun 1846, ketika Pangeran Albert suami Ratu Victoria yang berdarah Jerman memperkenalkan pohon Natal ke Inggris. Apa yang menjadi tren di Inggris kemudian menyebar luas hingga Amerika. Pada awal abad ke-20, kemajuan teknologi listrik memungkinkan penggunaan lampu listrik sebagai pengganti lilin, dan pohon-pohon Natal bercahaya mulai menghiasi alun-alun kota.

Inovasi juga terjadi pada bentuk pohonnya. Jerman memperkenalkan pohon Natal buatan pertama ke Amerika Serikat pada tahun 1920, terbuat dari bulu yang diwarnai hijau. Pada tahun 1930, Addis Housewares Company di Inggris memproduksi pohon Natal buatan dari sikat bulu dan mengekspor gagasan tersebut ke Amerika.

Era 1950-an dan 1960-an menandai popularitas pohon Natal aluminium, sekaligus memunculkan perdebatan yang bertahan hingga kini: memilih pohon Natal asli atau buatan.

Perkembangan pohon Natal tidak bisa dilepaskan dari evolusi dekorasinya. Pada awalnya, hiasan dibuat secara sederhana dan sebagian besar bernuansa religius, terinspirasi dari piramida Natal Jerman abad pertengahan. Memasuki awal 1900-an, produksi massal ornamen kaca dan timah mulai berkembang. Manik-manik, rumbai, hingga “salju” dari kapas membuat dekorasi pohon Natal semakin beragam dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

Ketika pohon Natal mulai menjadi tren di akhir abad ke-19, toko-toko besar seperti FW Woolworth mulai menjual ornamen kaca tiup yang halus. Meski demikian, pada awal 1900-an, banyak hiasan pohon Natal masih dibuat sendiri di rumah.

Makanan menjadi ornamen favorit seperti untaian beri, kacang-kacangan, dan popcorn digantung di cabang-cabang cemara, bersanding dengan kue, marzipan, dan apel. Tradisi ini mencerminkan kedekatan Natal dengan kebersamaan dan kesederhanaan.

Lampu pohon Natal pun memiliki kisah tersendiri. Sebelum listrik dikenal luas, lilin menjadi sumber cahaya utama. Lilin-lilin ini melambangkan terang Kristus serta kembalinya cahaya ke dunia. Ada pula kisah tentang Martin Luther, tokoh Reformasi Protestan abad ke-16, yang konon menempatkan lilin di pohon Natalnya untuk menirukan gemerlap bintang di langit malam agar dapat dinikmati keluarganya.

Pada tahun 1890, lampu listrik mulai diperkenalkan sebagai alternatif yang jauh lebih aman. Hingga kini, teknologi lampu terus berkembang, dengan LED sebagai pilihan modern yang hemat energi, tahan lama, dan memiliki risiko kebakaran yang jauh lebih rendah.

Melalui perjalanan panjang tersebut, pohon Natal menjelma menjadi simbol yang melampaui fungsi dekoratif. Ia adalah penanda sejarah, cermin perubahan zaman, sekaligus pengikat tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Apapun bentuknya baik itu pohon asli atau buatan, pohon Natal tetap berdiri sebagai lambang harapan, terang, dan kehidupan yang terus tumbuh di tengah dinginnya akhir tahun. [UN]