ilustrari tentara pada masa Jepang (Ist)

Tanggal 14 Februari kerap identik dengan perayaan Hari Valentine. Namun, di balik hiruk-pikuk perayaan tersebut, sejarah Indonesia mencatat sebuah peristiwa penting yang menjadi salah satu penanda tumbuhnya kesadaran perlawanan bersenjata terhadap pendudukan Jepang, yaitu Pemberontakan PETA. Di Blitar, pada 14 Februari 1945, pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang dipimpin oleh Soeprijadi melancarkan pemberontakan yang mengguncang kekuasaan militer Dai Nippon di Jawa.

Peristiwa itu bukan sekadar insiden lokal. Ia menjadi penanda berubahnya sikap prajurit pribumi terhadap Jepang, sekaligus memperlihatkan bahwa kesadaran kemerdekaan telah tumbuh di dalam tubuh organisasi militer bentukan penjajah sendiri. Dari sana, bara perlawanan menyebar, memupuk keberanian yang kelak berujung pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Melansir laman Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Lamongan, berikut kisah terjadinya Pemberontakan PETA.

Awal Pendudukan Jepang dan Lahirnya PETA

Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia melalui Tarakan pada 11 Januari 1942. Dalam waktu singkat, wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai Belanda jatuh ke tangan bala tentara Dai Nippon. Puncaknya terjadi pada 8 Maret 1942, ketika Belanda menyerah tanpa syarat melalui Perjanjian Kalijati. Sejak saat itu, Hindia Belanda resmi berada di bawah kekuasaan Jepang.

Pada awal kedatangannya, Jepang disambut sebagian rakyat sebagai “saudara tua” yang membebaskan Indonesia dari kolonialisme Barat. Propaganda digencarkan. Bendera Merah Putih bahkan diizinkan berkibar berdampingan dengan Hinomaru untuk menarik simpati.

Namun situasi berubah ketika Jepang mulai mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik. Kebutuhan akan dukungan militer semakin mendesak. Dalam Sidang Parlemen Jepang ke-82 pada 16 Juni 1943, Perdana Menteri Jepang Tojo Hideki menyampaikan rencana pelibatan penduduk lokal dalam urusan pemerintahan dan pertahanan di Jawa.

Gagasan pembentukan satuan militer lokal kemudian diwujudkan melalui langkah yang terkesan partisipatif. Atas dorongan Dinas Intelijen Angkatan Darat Jepang (Beppan), tokoh nasionalis Gatot Mangkupradja mengirim surat kepada Gunseikan pada 7 September 1943 untuk memohon agar bangsa Indonesia diizinkan membantu usaha militer Jepang.

Dukungan mengalir dari berbagai tokoh pergerakan. Melalui Osamu Seirei No. 44 yang diumumkan Panglima Angkatan Darat ke-16 Jepang, Letjen Harada Kumakichi, Pembela Tanah Air (PETA) resmi dibentuk pada 3 Oktober 1943.

Bagi banyak pemuda Indonesia, PETA menjadi ruang belajar militer, seperti disiplin, strategi, penggunaan senjata, hingga kepemimpinan. Bekal inilah yang kelak memainkan peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Di Blitar, seorang shodancho (komandan peleton) bernama Soeprijadi mulai menyimpan kegelisahan. Ia menyaksikan langsung penderitaan rakyat di bawah pendudukan Jepang. Romusha tenaga kerja paksa banyak yang tewas akibat kelaparan, penyakit, dan kelelahan.

Pengalaman peletonnya berhadapan dengan para romusha menjadi titik balik yang mengubah pandangannya terhadap Jepang. Diskriminasi juga memperparah situasi. Prajurit pribumi diwajibkan memberi hormat kepada tentara Jepang, bahkan yang berpangkat lebih rendah.

Tekad Soeprijadi semakin menguat ketika ayahnya, R. Darmadi, pulang dari Jakarta dalam kondisi menyedihkan usai mengikuti kursus administrasi bagi pangreh praja. Pengalaman pribadi dan penderitaan kolektif itu menyatu menjadi bara perlawanan.

Tanggal 14 Februari 1945 dipilih sebagai momentum. Saat itu dijadwalkan pertemuan antara anggota dan komandan PETA di Blitar. Soeprijadi berharap perlawanan bisa meluas dan menggerakkan kesatuan lain.

Pada pukul 03.00 dini hari, pasukan PETA melancarkan serangan. Mortir ditembakkan ke Hotel Sakura, tempat para perwira Jepang bermukim. Markas Kempeitai diberondong senapan mesin. Persenjataan dan logistik telah disiapkan.

Namun Jepang bergerak cepat. Rencana pemberontakan rupanya telah terendus, terlihat dari sejumlah gedung yang sudah dikosongkan. Prajurit lokal juga dikerahkan untuk meredam perlawanan. Soeprijadi memerintahkan agar hanya tentara Jepang yang menjadi sasaran, sehingga ketika berhadapan dengan prajurit pribumi, gerakan pasukan PETA menjadi terhambat.

Pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan. Sebanyak 68 orang diadili di Mahkamah Militer Jepang di Jakarta. Beberapa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, sementara lainnya dihukum mati, di antaranya dr. Ismail, Muradi, Halir Mankudijoyo, Sunanto, dan Sudarmo. Nama Soeprijadi tidak tercantum dalam daftar terhukum.

Nasib Soeprijadi sendiri menjadi misteri. Tidak ada kepastian apakah ia gugur dalam pertempuran atau dieksekusi secara diam-diam. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Presiden Sukarno sempat mengumumkannya sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Namun Soeprijadi tak pernah muncul. Jabatan tersebut kemudian diisi oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo.

Dampak dan Gaung Perlawanan

Secara militer, pemberontakan di Blitar memang gagal. Tetapi secara psikologis dan politik, peristiwa itu meninggalkan dampak besar. Ia menunjukkan bahwa loyalitas prajurit Indonesia kepada Jepang tidaklah mutlak.

Sejarawan Benedict Anderson mencatat bahwa peristiwa tersebut menimbulkan kecemasan di kalangan tentara Jepang di Jawa. Tidak adanya kecaman keras dan adanya keringanan hukuman terhadap sebagian prajurit PETA menunjukkan kegelisahan pihak Jepang menghadapi potensi pembangkangan lebih luas.

Semangat perlawanan itu menjalar. Di Rengasdengklok, kabar pemberontakan Blitar mendorong para prajurit PETA setempat untuk mengambil langkah berani. Pada 16 Agustus 1945, mereka menculik Sukarno dan Mohammad Hatta untuk mendesak percepatan proklamasi. Sehari kemudian, 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Pemberontakan PETA di Blitar menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan. Ia membuktikan bahwa di tengah tekanan, propaganda, dan kekerasan pendudukan, kesadaran nasional terus tumbuh bahkan di dalam barisan militer yang dibentuk penjajah sendiri.

Maka, ketika 14 Februari tiba setiap tahun, sejarah Indonesia mengingatkan bahwa di tanggal yang sama, pernah menyala api perlawanan yang turut mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan. [UN]