Penghargaan Nobel sering menghadirkan tiga nama di panggung, padahal pengetahuan ilmiah tumbuh melalui jaringan panjang penelitian, perdebatan, kegagalan, dan kontribusi banyak orang.

Dalam perkembangan optogenetika, Edward Boyden dari Massachusetts Institute of Technology ikut berperan penting dalam penelitian awal yang memperlihatkan bagaimana teknik ini dapat mengendalikan neuron.

Gero Miesenböck dari Universitas Oxford juga mengembangkan pendekatan untuk mengendalikan perilaku hewan menggunakan cahaya.

Sejumlah ilmuwan lain memberikan sumbangan mendasar, termasuk peneliti yang menemukan dan mempelajari protein-protein peka cahaya sebelum penerapannya pada neuron.

Aturan Nobel membatasi jumlah penerima penghargaan pada tiga orang dan hanya mengizinkan penghargaan bagi ilmuwan yang masih hidup. Karena itu, daftar pemenang tidak selalu mencerminkan seluruh mata rantai kontribusi yang membentuk sebuah terobosan.

Namun, keterbatasan itu tidak mengurangi arti penemuan yang mereka hasilkan. Optogenetika memperlihatkan bagaimana penelitian dasar yang semula tampak jauh dari persoalan kesehatan dapat membuka jalan menuju pendekatan medis yang sama sekali baru.

Kita sering menuntut ilmu pengetahuan menghasilkan obat secepat mungkin. Ketika peneliti mempelajari ganggang bersel satu, orang mungkin bertanya apa gunanya penelitian semacam itu bagi pasien di rumah sakit.

Padahal, jawabannya kadang baru terlihat bertahun-tahun kemudian, setelah pengetahuan dasar bertemu dengan teknologi genetika, rekayasa cahaya, dan kedokteran klinis.

-000-

Di sinilah pelajaran penting bagi Indonesia. Dukungan terhadap riset tidak cukup berhenti pada seremoni, pemberian penghargaan, atau slogan tentang inovasi.

Perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga riset, dan industri perlu membangun kerja sama jangka panjang, menyediakan fasilitas eksperimen yang memadai, mendidik peneliti muda, serta menjaga pendanaan penelitian dasar yang hasilnya mungkin baru muncul jauh setelah satu periode anggaran berakhir.

Pemerintah juga perlu menilai penelitian melalui proses dan mutu ilmiahnya, bukan hanya menghitung jumlah publikasi atau mengejar peringkat internasional. Riset yang baik membutuhkan kebebasan untuk menguji hipotesis, keterbukaan terhadap hasil yang tidak sesuai harapan, dan mekanisme evaluasi yang menjaga integritas.

Optogenetika memberi kita gambaran tentang ilmu pengetahuan sebagai lampu yang menembus lorong gelap sedikit demi sedikit. Cahaya itu belum menerangi seluruh ruangan, apalagi langsung memperbaiki semua kerusakan. Namun, setiap bagian yang berhasil diterangi membantu manusia memahami di mana masalah bermula dan bagaimana mereka dapat mengatasinya.

Tiga penerima Nobel tahun ini memperoleh penghargaan karena membantu membuka pintu menuju pemahaman baru tentang otak. Perjalanan dari penemuan protein pada ganggang hingga percobaan pemulihan penglihatan menunjukkan bahwa rasa ingin tahu ilmiah dapat berkembang menjadi harapan medis yang nyata.

Bagi pasien, harapan itu tentu sangat berarti. Bagi masyarakat, penemuan ini mengingatkan bahwa kemajuan pengobatan sering bermula jauh sebelum seorang pasien memasuki ruang praktik dokter.

Ia bisa bermula dari mikroskop, organisme kecil, pertanyaan sederhana, dan ilmuwan yang bersedia mengikuti petunjuk alam sampai menemukan sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis