Seorang pengunjuk rasa mengenakan Rompi Kuning berdiri di lampu lalu lintas di Champs-Elysee di Paris. Foto: Benoît Tessier / Reuters

Koran Sulindo – Aksi protes di Prancis yang diinisiasi The Gilets Jaunes atau rompi kuning kini berada di titik balik gerakan. Menghadapi radikalisme yang sekarang mengancam kelangsungan hidup pemerintahnya.

Emmanuel Macron menjanjikan ‘penangguhan’ kenaikan pajak bahan bakar yang memprovokasi gerakan itu. Langkah mundur pemerintah ini terjadi setelah kerusuhan meledak di jalanan akhir pekan lalu dan menyebabkan ratusan orang terluka.

Kelas pekerja terorganisir turun ke jalan menggelar protes menunjukkan kemarahan dan frustasi mereka di tengah tahun-tahun penghematan dan ketidaksetaraan ekonomi.

Peristiwa akhir pekan lalu menjadi akhir pekan ketiga kerusuhan di ibu kota Prancis dengan ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalanan di Paris dan seluruh negeri.

Meski protes digelar dengan jumlah massa lebih sedikit, namun suasana hati mereka yang turun ke jalan jauh lebih radikal dibuktikan dengan tuntutan gerakan yang melampaui soal bahan bakar.

Di antara lapisan-lapisan tertentu juga mengemuka suasana insureksioner dan revolusioner ketika 5.000 yang berbaris menuju Champs Élysées pada hari Sabtu mengusung slogan ‘Kekuasaan untuk Rakyat!’ dan ‘Macron mengundurkan diri!’.

Kita semua tahu bagaimana akhir dari protes itu.

Gerakan rompi kuning bermula dari kota-kota pinggiran dan daerah pedesaan di seluruh Prancis, tempat di mana penduduk sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja. Banyak dari mereka adalah wanita dan single parent dan mereka adalah kelompok yang paling menderita jika penghematan Macron diterapkan.

Sebagian besar mereka merupakan pekerja berpendapatan rendah, termasuk sekretaris, pekerja IT, pekerja pabrik, pekerja pengiriman dan pekerja perawatan. Singkatnya, mereka adalah orang-orang yang paling terpengaruh oleh kenaikan biaya dan kebijakan upah yang stagnan.

Kelas Pekerja

Kelas pekerja dan lapisan kelas menengah miskin ini jelas sangat kesal setelah bertahun-tahun diperas melalui penghematan sementara biaya hidup terus meningkat. Kebencian mendalam itulah yang kemudian diekspresikan terhadap orang kaya dan Macron yang dianggap mewakili mereka.

“Kami memiliki gaji rendah dan membayar terlalu banyak pajak dan kombinasi ini menciptakan lebih banyak kemiskinan … Di sisi lain, ada menteri-menteri pemerintah dan Presiden dengan gaji mereka yang luar biasa, ” kata Idir Ghanes, seorang teknisi komputer yang menganggur dari Paris kepada The Guardian.

Pemrotes lain, seperti Marie Lemoine seorang guru berusia 62 tahun dengan jitu menunjukkan sifat pro-kapitalis dan munafiknya kebijakan Macron. “Kami menjadi sasaran, bukannya maskapai penerbangan, jalur pelayaran dan mereka perusahaan yang mengotori lebih banyak tetapi tidak membayar pajak . Macron adalah Louis XVI kami, dan kami tahu apa yang terjadi padanya.”

Kebencian gerakan rompi kuning kepada golongan kaya menjadi makin jelas selama demonstrasi di Paris pada hari Sabtu pekan lalu. Dengan vandalisme menonjol di bagian barat dan tengah Paris yang kaya, etalase toko hancur dan dijarah, puluhan mobil mahal dibakar dan Arc de Triomphe ditutupi grafiti anti-pemerintah.

Mereka juga menghancurkan jendela Toko Apple yang baru dibuka sekaligus merangsek ke butik-butik mewah seperti Chanel dan Dior dan mencorat-coret ‘Merry Mayhem’ di papan kayu dan menyematkannya ke fasad.

Meski beberapa elemen kriminal memanfaatkan situasi, tindakan itu jelas itu bukan karakter utama gerakan.

Simpati

Sementara gambar kehancuran segera terpampang pada seluruh dunia untuk mendeskritkan rompi kuning, jajak pendapat Harris Interactive menunjukkan 72 persen responden mendukungan gerakan itu. Angka tersebut tak berubah sejak dua minggu lalu.

Di Paris sendiri simpati meluas ditujukan pada para demonstran dan ekspresi kemarahan diangap sah. “Saya benar-benar di belakang ‘Gilets Jaunes’,”  kata George Dupont, seorang penduduk Paris seperti dikutip dari Reuters. “Negara telah mencuri uang dari orang-orang Prancis. Sudah waktunya untuk mengembalikannya.”

Sandrine Lemoussu, seorang asisten guru berusia 45 tahun yang sengaja melakukan perjalanan dari Burgundy untuk mengikuti protes, mengatakan orang muak dengan Macron. “Rakyat sedang memberontak. Kemarahan semakin meningkat, dan presiden membenci Prancis. Kami di sini bukan untuk menghancurkan barang-barang.”

Sementara kemarahan pemrotes mencapai ubun-ubun, aparat berwenang di Paris jelas tampak tak pernah siap dengan skala kerusuhannya saat pecah kerushan di Champs-Elysees dan beberapa situs termasuk Place de la Bastille.

Meski menggotong meriam air, stungun, gas air mata, dan merangsek dengan pentungan ke kerumunan massa, polisi pada akhirnya kewalahan dan pada beberapa kejadian dipukul mundur dengan telak.

Dalam beberapa kasus, polisi bahkan menolak untuk melibas para pemrotes, seperti yang bisa dilihat dalam video viral dari kota Pau di barat daya Prancis. Video itu menunjukkan barisan polisi anti huru hara justru melepaskan helm mereka untuk memberi isyarat tak akan menyerang. Aksi itu disambut sorak dan bertepuk tangan dari kerumunan.

Meski diduga aksi itu bukan penampilan simpati yang tulus dan hasil kesepakatan kepala polisi setempat dan rompi kuning, rekaman itu membuktikan kepercayaan gerakan, dan kelemahan polisi.

Dengan skala gerakan itu, tak mengherankan jika kelas kapitalis ngeri. Bukan hanya buruk untuk bisnis menjelang periode Natal, mereka jelas khawatir gerakan ini bisa berkembang menjadi ancaman terhadap rezim secara keseluruhan.

Jeanne d’Hauteserre, walikota di distrik kota-8 Paris dekat Arc de Triomphe kepada BFM TV mengatakan, “Kami berada dalam keadaan pemberontakan, saya belum pernah melihat yang seperti ini.”

Beberapa perwakilan daerah berbicara anonim kepada Le Mondesituasi  menyebut suasana benar-benar eksplosif atau ‘pra-revolusioner’.

Macron yang saat protes berada ribuan mil jauhnya di Argentina mengikuti pertemuan G20, menanggapi peristiwa itu dengan ancaman untuk menyatakan keadaan darurat sekaligus mengutuk kerusakan yang ditimbulkan dengan menyebut “tidak akan pernah menoleransi kekerasan.”

Kepemimpinan

Secara umum, pemerintah mencoba untuk menciptakan perpecahan dalam gerakan rompi kuning dengan membedakan antara ‘keluhan yang sah’ dengan ‘damai’ oleh para demonstran, dengan ‘kelompok radikal kekerasan’ yang menyusup.

“Apa yang terjadi di Paris tak ada hubungannya dengan ekspresi damai dari yang sah kemarahan,” kata Macron di akhir KTT G20. “Tidak ada alasan membenarkan polisi diserang, bisnis dijarah, orang yang lewat atau wartawan terancam dan mengotori Arc de Triomphe.”

Mengamini Macron, Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner menyebut tentang kelompok ultra dan mengatakan  “orang-orang yang baru saja datang ke Paris untuk membuat kekacauan.”

Meskibenar bahwa terdapat elemen-elemen kanan-jauh dalam demonstrasi selama akhir pekan, jumlhanya sangat marjinal.

Sejak awal, rompi kuning telah merambah ke berbagai lapisan masyarakat yang mencakup basis pemilih Front Nasional sementara elemen-elemen kelas menengah mengambil bagian di samping kelas buruh dan serikat buruh.

Gerakan menjadi radikal dengan jejak kelas pekerja yang meningkat, segera sampah-sampah dari elemen kanan terbuang sementara kontradiksi kelas di dalamnya makin lebih jelas. Contoh paling kongkret adalah sebuah video yang menunjukkan Yvan Benedetti, bekas presiden kelompok ultranasionalis diserang dan diusir kaum anti-fasis di dalam rompi kuning.

Di sisi lain, kurangnya organisasi dan kepemimpinan pada gerakan membuka diri justru membuka peluang elemen-elemen oportunis. Kelemahan yang sebenarnya bisa dituntaskan dengan partisipasi gerakan buruh Prancis.[TGU]