Nah, teknologi kedua, automated food waste upcycling, mungkin lebih dekat ke dapur rumah tangga. Ini soal bagaimana sisa makanan —nasi basi, kulit pisang, roti kedaluwarsa— tidak lagi jadi sampah, tapi bahan baku baru. Jumlahnya luar biasa besar, diproduksi manusia tiap hari.
Dengan bantuan AI dan sensor otomatis, limbah makanan yang jutaan ton diproduksi manusia tiap hari bisa disortir, kemudian dikeringkan, serta diolah ulang jadi bahan pupuk organik, energi biogas, sumber listrik, atau pangan bergizi. Ini bisa dibuat dalam skala rumahan hingga korporat.
Di Korea Selatan, mesin pengolah sisa makanan kini ada di apartemen. Di Eropa, restoran-restoran tinggi harga tinggi pula kesadarannya: mereka pakai sistem otomatisasi yang menghitung dan mengatur ulang stok agar tak ada yang terbuang. Di kampus-kampus, para mahasiswa teknik dan gizi berkolaborasi mengubah limbah kantin jadi pakan ikan, bahan sabun, bahkan plastik biodegradable.
Bayangkan kalau teknologi semacam itu masuk ke sekolah-sekolah kita. Nasi sisa di kantin jadi kompos untuk taman, kulit jeruk jadi bahan pembersih alami, dan siswa belajar langsung tentang siklus kehidupan dari sisa makan siang. Tidak perlu khotbah panjang soal “jangan mubazir”, karena teknologi sendiri akan mempermalukan pemborosan.
Tapi tentu saja, bukan alatnya yang ajaib. Yang menentukan tetap manusianya. Karena sebagaimana diingatkan oleh para ilmuwan di WEF–Frontiers, teknologi hanyalah enabler —penggerak, bukan pengganti kesadaran.
Fermentasi presisi tidak akan berarti kalau kita tetap rakus. Mesin daur ulang makanan tidak akan berguna kalau kita masih menganggap sisa makanan itu dosa yang bisa disembunyikan di tempat sampah.
-000-
Seorang teman pernah berseloroh, “Bumi ini rusak bukan karena manusia tidak punya teknologi, tapi karena manusia tidak punya rasa cukup.” Nah, mungkin dua teknologi ini sedang menuntun kita ke arah itu: agar kita makan secukupnya, tapi dengan cara yang tidak merusak apa pun.
Jika dulu revolusi industri lahir dari arang dan uap, maka revolusi pangan lahir dari mikroba dan kesadaran. Bukan lagi soal menanam, tapi menciptakan; bukan lagi tentang menghasilkan banyak, tapi menghasilkan cukup—tanpa merampas.
Dan jika itu terjadi, mungkin kelak anak-anak kita akan menulis buku sejarah berjudul “Zaman Ketika Daging tidak Lagi Membunuh Sapi.”
Teknologi bisa menggantikan pabrik, tapi tidak bisa menggantikan hati. Makan tanpa membunuh bumi memerlukan bukan hanya inovasi, tapi juga empati. Karena di balik setiap butir nasi atau burger sintetis, ada doa lama yang tetap sama: semoga yang kita makan menjadi berkah, bukan bala.
Dan barangkali, di situlah letak revolusinya — bukan pada tabung fermentasi atau robot daur ulang, tapi pada kesediaan manusia untuk menundukkan diri di hadapan bumi, dan berkata: “Maaf, aku sudah kenyang.”
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



