Radiohead Mengalahkan Industri

radiohead 2016

Mari kita memutar waktu ke tahun 1997, ketika Internet masih menjadi barang asing untuk sebagian besar orang. Pada masa itu, efek samping menyedihkan dari ‘kenyamanan mekanistis (mechanistic convenience)’ yang didapat dari kemajuan teknologi sudah dibayangkan Radiohead: hiburan tanpa pikiran, penyesuaian selera, dan pemaksaan untuk mengikuti.

Meski secara teknis album itu adalah album ketiga Radiohead, OK Computer (1997) lebih mirip draft pertama untuk episode percontohan film seri antologi fiksi sains British-American televisi karya Charlie Brooker, Black Mirror. Lebih mendekati film seri televisi yang sedang terkenal sekarang, visi album tersebut menjadi distopia imajiner hasil dari perpanjangan logis pada masanya—pembayangan masa depan yang mencemaskan.

Tanpa penjelasan eksplisit untuk “komputer”, album OK Computer pada akhirnya menjadi soal bagaimana teknologi memberi jalan kepada dunia untuk otomatisasi. Kebahagian lebih dikejar sebagai tujuan dibanding sebuah proses.

Tentu saja, Ok Computer bukan ramalan seperti bola kristal yang setengah kabur-setengah jelas. Lirik-lirik lagunya benar-benar menjadi nyata pada kehidupan sekarang: konsumerisme yang tak terkekang, ketergantungan pada teknologi, pedotnya hubungan sosial, atau paranoia yang mendorong lahirnya seorang presiden di Amerika Serikat, Donald Trump.

Bagi orang Barat, tahun 1990-an adalah masa-masa damai penuh kemakmuran—dengan Perang Dingin, holocaust nuklir yang menyertainya, telah menjadi sekadar kenangan yang menjauh. Namun, dengan kode peluncuran nuklir berada di tangan orang tua labil dan sensi serta terus-menerus mengobarkan permusuhan, Perang Dunia berikutnya terasa sekali lagi menjadi keniscayaan.

“Airbag, lagu pembuka Ok Computer, dapat menjadi penyelamat dari kemarahan akut seperti yang dilakukan Presiden Trump: “In the next World War, In a jackknifed juggernaut, I am born again, in the neon sign….”

Thom Yorke yang vokalis Radiohead menyebut “Airbag” adalah tentang situasi bencana sekaligus segala potensinya. “Anda merasa seribu kali lebih hidup terlepas dari apa itu. Ini lebih tentang itu,” kata Thom Yorke. “Posisi” teknologi menjadi semakin tidak jelas: jalan keluar atau justru sebuah kutukan.

Sebenarnya, dibanding Ok Computer yang merayakan ulang tahun ke-20 rilisnya, Hail to the Thief terasa lebih baik sebagai album protes yang unik dan menjadi hantu laten pendengarnya. Tahun 2003 ketika album ini dirilis, Radiohead berusaha membentuk kebenaran versi mereka di tengah era yang sangat memusingkan.

Diwawancarai Toronto Star di awal 2003, Thom Yorke mengatakan, ia setiap harinya hidup di bawah ketakutan “teror mengerikan” dan Hail to the Thief itu seperti mengambil alih rasa takut dirinya. Praktis, album itu menjadi kumpulan lagu kelam yang membahas kacaunya politik, masyarakat, dan lingkungan.

Di sisi lain, meski sukses secara komersial dan mendapat resensi positif, Radiohead justru malu terhadap album ini. Mereka mengatakan album tersebut sebagai “kesalahan” karena dibuat terlalu diburu-buru dan harusnya dipermak sana-sini.

Kesalahan itulah yang mencoba diperbaiki dalam album In Rainbows (2007), yang menawarkan kehangatan dan keramahan. Album ini juga menuai resensi bagus dan sukses secara komersial berkat strategi penjualan digital, dengan hanya membayar lagu yang diunduh (download) saja, tidak harus satu album.

Tersesat di antara dua dua album yang lebih sukses, Hail to the Thief seperti menjadi semacam anak hilang dalam diskografi Radiohead. Terasa susah untuk menghargai album bernuansa uang gelap ini, namun bukankah dunia bergantung pada perspektif?

OK Computer adalah album abadi yang memengaruhi band rock lain dan menjadi obsesi semua kutu buku atas narasi distopia teknologi. Tidak seperti OK Computer yang menjadi monumen, Hail to the Thief jelas minim penggemar.

Namun, Hail to the Thief menjadi alternatif untuk memahami Radiohead sekaligus menikmati distopia yang kelam. Tak cuma menjadi ilustrasi detailnya penderitaan, the Thief sesungguhnya merupakan album rock yang menyenangkan.SEJAK KADER hippies merobek pagar di Isle of Wight pada Festival 1970, penggemar rock bergerak ke pendulum anarkis dan menuntut “musik menjadi lebih bebas”. Idenya, musik dan industri secara politis bakal membahayakan estetika dan arah politiknya: kebebasan.

Ketika Radiohead merilis sendiri album In Rainbows pada tahun 2007 secara digital, ambisi revolusioner itu diserahkan kepada publik. Ironisnya, inisiasi itu bukan dipicu hippies atau label indie, namun oleh salah satu band terbesar di dunia di bawah label EMI.

Radiohead juga jauh dari kebebasan estetika dan politik yang dikompromikan itu. Mereka benar-benar bertualang dengan setiap albumnya, sekaligus menjadi salah satu tindakan industri yang paling banyak terlibat secara politis.

Sementara itu, mengunduh lagu digital secara gratis dalam satu dekade terakhir telah menghancurkan penjualan ritel cara lama. Cara ini mengejutkan, karena Napster (situs web yang menggagas akses musik secara cuma-cuma melalui file sharing) yang baru hadir pada tahun 1999 telah memiliki basis pengguna lebih dari 26 juta penggemar di seluruh dunia. Napster menjarah musik apa pun yang bisa mereka temukan.

Industri mainstream yang mengandalkan penjualan “perangkat” keras segera terbengkalai oleh ledakan file sharing. Alih-alih mencari celah mengakomodasi perkembangan baru, mereka justru bereaksi dengan mengkriminalisasi Napster seperti yang dilakukan kelompok musik Metallica dan Dr Dre.

Asosiasi Industri Rekaman Amerika atau RIAA segera mengerek bendera perang melawan individu-individu dan yang terlibat “penidasan” para korban, termasuk seorang gadis berusia 12 tahun, seorang wanita berusia 66 tahun, dan lebih dari 20.000 kasus serupa.

Masalahnya, tak semua orang percaya Napster benar-benar merusak pasar label. Dalam beberapa kasus, mereka justru merasa file sharing merangsang penjualan. Ini langsung dibuktikan Radiohead ketika tahun 2000 memasang Kid A di Napster sejak tiga bulan sebelum peluncuran.

Sebagai album eksperimental, Kid A bukan album yang mencolok. Album ini memiliki perbedaan secara signifikan dengan gaya OK Computer.

Dari segi pemasaran, album tersebut menjadi karya yang menantang. Hasilnya: meski diunduh gratis, jutaan kali album Kid A meraih sukses komersial. Napster tidak merusak prospek penjualan Kids A, tapi justru menggelontorkan promosi yang tak ternilai harganya.

Radiohead membuka mata-industri musik, yang segera sadar bahwa perang besar menghilang dan mereka harus mengembangkan hubungan baik dengan layanan download “legal” seperti iTunes milik Apple.

Merilis album debut mereka pada tahun 1993, Pablo Honey, singel pertama Radiohead (“Creep”) menjadi penyangkalan diri yang ironis, mencerminkan kekaguman mereka terhadap Pixies. Namun, lagu itu menuai kegagalan komersial di Inggris. Radio-radio menganggap “Creep” terlalu menyedihkan untuk dimainkan.

Berbanding terbalik dengan Inggris, pendengar Amerika justru terpukau oleh paduan suara dinamis dan katarsis “Creep” yang membara. Mirip estetika grunge yang memang punya penggemar tetap.

Album kedua, The Bends (1995), justru menampilkan jenis artistik yang membuat bos label menggigil. Album ini menunjukkan kemampuan Radiohead menyuntikkan konten emosional yang kuat ke dalam struktur musik yang kompleks. Lima lagu itu masuk dalam daftar Top 30 Hits.

Toh, penghargaan terbesar tetap diberikan ke OK Computer. Album ini dianggap sebagai karya Radiohead yang paling kompleks.

Tanggapan positif juga dituai film dokumenter Meet People Is Easy (1998), yang mengungkapkan kebencian Radiohead ke bisnis musik yang melelahkan. Pada tahun-tahun itu, mereka hanya mau tampil untuk konser amal, seperti yang diselenggarakan Amnesty International dan Gerakan Kebebasan Tibet. Ini menunjukkan meningkatnya pandangan politik Yorke. [Teguh Usia]

Atikel ini pernah dimuat pada 15 Desember 2017