Puisi tema sahabat. (Foto: Sulindo/Ulfa Nurfauziah)

Setiap tanggal 30 Juli, dunia memperingati Hari Persahabatan Internasional atau International Friendship Day sebuah inisiatif yang diresmikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk merayakan peran penting persahabatan dalam membangun perdamaian, mempererat solidaritas, serta menjembatani keberagaman budaya dan bangsa.

Persahabatan dipandang bukan sekadar hubungan personal, tetapi sebagai kekuatan sosial yang mampu mengatasi permusuhan dan mendorong kerja sama lintas batas.

Dalam semangat peringatan ini, Koran Sulindo menyiapkan tiga puisi tentang sahabat yang hadir dalam duka terdalam, sahabat yang terpisah oleh jarak, dan sahabat yang telah pergi untuk selamanya.

Setiap puisi membawa makna yang dalam, menjadi cermin dari segala perasaan yang meggambarkan sosok seorang sahabat. Berikut tiga puisi karya Ulfa Nurfauziah bertema sahabat:

1. Sahabat dalam Gelap

Kau tak datang dengan pelita

Atau ucapan yang meredakan duka

Kau hanya duduk di sampingku,

Diam dalam bahasa yang kupahami sebagai pelukan paling tulus

tanpa harus menyentuh

 

Waktu itu langit terasa runtuh dan tanah menolak menjadi pijakan

Namun kau tetap di situ,

Menemani retakku tanpa bertanya berapa dalam luka yang kusembunyikan.

Kau tak menawari jalan keluar

Tapi kau menjagaku agar tak menghilang

 

Tak semua orang bisa tinggal di tengah badai yang bukan miliknya

Tapi kau, sahabat,

Selalu memilih menjadi rumah

meski aku adalah reruntuhan.

Puisi ini menekankan bahwa sahabat sejati tidak selalu hadir dengan solusi, melainkan dengan keberadaan yang setia. Ia tidak menuntut penjelasan atau balasan, cukup hadir, diam tapi menyelamatkan. Sebuah makna kehadiran yang mendalam di tengah keterpurukan.

2. Antara Kita dan Kota

Kita pernah berbagi senja, tanpa tahu itu akan jadi yang terakhir

Dan kebiasaan yang dulu terasa abadi tak terpikir akan berakhir

Berjalan pulang tanpa arah

Tertawa di sudut warung kopi yang tidak mewah

Sesekali mengeluh tentang dunia dan berencana menaklukannya

Seolah kita punya waktu selamanya

 

Tapi mimpi memanggil kita ke arah berbeda

Kau menuju utara

Aku tertinggal di selatan

Dan jarak mulai mencuri kenangan yang tak sempat kita abadikan

 

Kini kita hanya nama dalam percakapan singkat dalam layar

Namun kenangan kita tetap utuh

Meskipun kita tak lagi bisa berbagi payung, tapi aku tahu

Kau masih menatap langit yang sama

Dan dalam tiap doa, kau tetap kusebut… sahabat.

Puisi kedua ini menyiratkan perasaan kehilangan yang bukan karena perpisahan selamanya, melainkan karena jarak dan waktu. Tentang sahabat yang kini jauh karena jalan hidup masing-masing, namun kenangan tetap erat, dan doa tetap menjadi jembatan antara keduanya.

3. Hadirmu Terganti Batu

Kau adalah bahu yang tak pernah lelah menerima runtuhku

Telinga yang mengerti bahasa tangis lebih dari suara

Kau adalah waktu yang tak pernah sibuk,

Dan tempat kembali saat semua tempat mengusir

 

Tapi kau pergi

Bukan karena kecewa

Bukan karena lelah

Kau pergi seperti cahaya yang berpulang pada keabadian

Meninggalkan dunia tanpa menunggu aku siap

 

Banyak kebaikanmu yang belum sempat kubalas

Dengan semua rencana kecil

Untuk membuatmu tertawa lebih lama

 

Aku belum sempat bilang

Bahwa aku kuat karena kau ada

Aku juga belum sempat bercerita

Tentang beban yang kini kupikul sendiri

 

Aku belum sempat memeluk

Belum sempat bilang, jangan pergi dulu

Tapi hidup tak menunggu perpisahan

dan kematian tak butuh izin

 

Kini aku hanya bisa bicara pada batu nisan

Seperti dulu bicara padamu,

Dalam sunyi yang tak membalas

Tapi entah kenapa, masih bisa menenangkan.

Dalam bait-bait terakhir puisi ini, menyuarakan kehilangan yang paling sunyi, tentang kematian seorang sahabat yang begitu berarti. Ia tak sempat berpamitan, namun rasa duka berubah menjadi untaian kata yang abadi. Puisi ini adalah rasa sayang dan pelukan terakhir yang tak sempat diberikan.

Puisi-puisi ini bukan sekadar karya sastra; ia adalah napas dari pengalaman yang tak asing bagi banyak orang. Ia menyingkap bahwa persahabatan sejati tetap hidup, meski jarak, waktu, atau maut sekalipun mencoba memisahkan.

Di Hari Persahabatan Internasional ini, mari kita rayakan dan kenang para sahabat yang selalu hadir dalam gelap, yang kini jauh dalam jarak, atau yang telah berpulang dalam damai. Karena dalam hati yang tulus, tak ada yang benar-benar berakhir. Dan sahabat selamanya tetap jadi sahabat. [UN]