Di Indonesia, terdapat sosok-sosok visioner yang tidak hanya berkarya, tetapi juga membawa perubahan besar dalam dunia seni, khususnya perkembangan seni rupa modern. Salah satu nama yang tidak bisa dilewatkan adalah Mochtar Apin, seorang maestro yang kiprahnya melampaui kanvas dan ruang pameran.
Dengan perjalanan panjang yang penuh dedikasi, baik sebagai seniman maupun pendidik, ia turut membentuk arah seni rupa Indonesia. Siapakah Mochtar Apin, dan bagaimana jejaknya dalam sejarah seni rupa? Dirangkum dari laman Ensiklopedia Sejarah Indonesia, mari kita telusuri lebih jauh perjalanan hidup dan karya-karyanya.
Mochtar Apin adalah salah satu pelukis Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan seni rupa modern di tanah air. Lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 23 Desember 1923, ia merupakan sosok seniman yang tidak hanya aktif berkarya, tetapi juga berperan dalam perkembangan seni grafis dan pendidikan seni di Indonesia.
Mochtar Apin menempuh pendidikan di Universitas Indonesia pada tahun 1948, sebelum kemudian melanjutkan studi seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di ITB, ia berkenalan dengan Ries Mulder, seorang pelukis asal Belanda yang turut memengaruhi pemikirannya dalam seni rupa.
Pada tahun 1951, Mochtar mendapatkan beasiswa dari Stichting voor Culturele Samenwerking (STICUSA) untuk belajar di Belanda, tempat ia bekerja dan berpameran selama dua tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di École Nationale Supérieure des Beaux-Arts di Paris selama empat tahun (1953-1957), kemudian belajar selama satu tahun di Deutsche Akademie der Kunste, Berlin, Jerman.
Setelah menimba ilmu di luar negeri, Mochtar Apin kembali ke Indonesia pada Mei 1958 dan bergabung sebagai staf pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada tahun 1966, ia diangkat menjadi kepala Bagian Grafis dari Departemen Seni Rupa ITB, menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan seni grafis di Indonesia.
Kiprah di Dunia Seni
Sejak kecil, Mochtar Apin sudah menunjukkan minat besar dalam seni lukis. Pada awal 1940-an, ia menjadi anggota termuda Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI), sebuah organisasi seni rupa yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan seni lukis modern di Indonesia. Saat pendudukan Jepang, ia juga bergabung dengan Keimin Bunka Shidoso, sebuah pusat kebudayaan yang bertujuan mengembangkan seni dan budaya di Indonesia.
Pada masa revolusi, Mochtar Apin bersama tokoh-tokoh sastra dan seni lainnya seperti Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani, dan Baharuddin Mara Sutan mendirikan Grup Gelanggang. Pada tahun 1946, kelompok ini mengeluarkan manifesto terkenal berjudul Surat Kepercayaan Gelanggang, yang menegaskan bahwa mereka adalah pewaris sah budaya dunia dan akan melanjutkannya dengan cara mereka sendiri.
Selain berkarya dalam seni rupa, Mochtar juga aktif di bidang jurnalistik. Ia pernah menjadi editor di jurnal Nusantara (1946), serta bekerja di majalah Pembangunan dan Gema Suasana (1947). Ia juga membuat ilustrasi untuk Balai Pustaka, memperlihatkan minatnya yang luas dalam seni visual.
Karya dan Gaya Lukisan
Mochtar Apin dikenal sebagai seniman yang mengeksplorasi berbagai medium dan gaya dalam berkarya. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Figur 3 Wanita (1946-1978), M.H. Thamrin (1946-1994), Women and Sun (1966), Woman (1963), Dua Sosok Wanita (1965), Wanita Duduk di Kursi (1957), Fishing (1970), Berdiri (1967), Ambang Pintu (1976), Wanita Duduk (1978), dan Gadis di Pantai (1953).
Lukisan-lukisan Mochtar menampilkan ketertarikannya pada komposisi unsur rupa yang esensial melalui garis, bentuk, dan warna. Meskipun ia juga menciptakan karya-karya bertema nude pada tahun 1990-an yang sempat menuai kontroversi, banyak pihak menganggapnya sebagai bentuk eksplorasi artistik dan ekspresi kebebasan diri.
Karya-karya Mochtar Apin pertama kali dipamerkan di Singapura pada tahun 1978. Sejak saat itu, ia terus mengadakan pameran di berbagai negara di Asia. Pameran terakhir yang diikutinya adalah Kubisme di Asia: Dialog Tanpa Batas pada tahun 2004, yang diselenggarakan oleh Japan Foundation. Pameran ini membahas pendekatan seniman Asia terhadap konsep modernisme dalam seni.
Setelah wafat, karya-karya Mochtar Apin tetap tersimpan dengan baik di rumahnya di Jalan Tamansari, Bandung. Koleksi ini mencakup berbagai lukisan, cetakan, serta benda-benda seni dan kerajinan tradisional yang ia kumpulkan selama hidupnya. Buku-buku seni, desain, fotografi, film, sastra, dan politik yang dikumpulkannya sejak 1950-an juga masih dirawat sebagai bagian dari warisan intelektualnya.
Sebagai seorang pelukis, pendidik, dan pemikir seni, Mochtar Apin telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan seni rupa modern Indonesia. Karyanya yang terus dikenang dan dipamerkan hingga kini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang tidak hanya menciptakan seni, tetapi juga membentuk wajah seni rupa Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. [UN]