dok. Come and See Pictures
dok. Come and See Pictures

Pengepungan di Bukit Duri adalah film terbaru garapan sutradara kenamaan Joko Anwar, diproduksi oleh Come & See Pictures bekerja sama dengan Amazon MGM Studios. Film bergenre aksi dan thriller ini ditujukan untuk penonton usia 17 tahun ke atas. Sejak tayang perdana pada 17 April 2025, film ini telah ditonton lebih dari satu juta orang dan meraih rating 8.0 di IMDb.

Deretan pemeran utamanya antara lain: Morgan Oey (Edwin, guru dan wali kelas), Omara N. Esteghlal (Jefri), Hana Malasan (Diana, guru BK), Landung Simatupang (Darmo Sumitra, kepala sekolah), Kiki Narendra (Abduh), Endy Arfian (Kristo), dan Fatih Unru (Rangga).

Cerita bermula dari peristiwa kerusuhan berujung rasial tahun 2009 yang menimpa dua kakak beradik keturunan Tionghoa. Edwin kecil menyaksikan kakaknya menjadi korban rudapaksa. Tujuh belas tahun berselang, Edwin  menjalani profesi sebagai guru, ia berpindah-pindah dari satu sekolah ke sekolah lain, membawa serta trauma kelam masa silam dan sebuah agenda tersembunyi.

Tibalah Edwin di SMA Duri, Jakarta Timur, sebagai guru pengganti sekaligus wali kelas 3F. Namun, kehadirannya tidak disambut baik oleh para siswa, terutama oleh Jefri, tokoh antagonis yang memendam kebencian terhadap etnis Tionghoa. Ketegangan antara guru dan murid semakin mencuat. Alih-alih mendidik, Edwin justru memicu konflik. Film ini memotret karut-marut dunia pendidikan kita yang masih kerap diwarnai kekerasan, baik verbal maupun seksual.

Judul film ini terkesan bombastis. Pengepungan di Bukit Duri terasa berlebihan. Menurut KBBI, pengepungan berarti proses, cara, perbuatan mengepung; mengelilingi sesuatu sehingga yang dikelilingi atau yang ada di dalamnya tidak dapat meloloskan diri. Padahal, dalam film ini tidak ada adegan pengepungan seperti itu. Yang terjadi adalah persembunyian—Edwin, Diana, dan dua siswa mengunci diri di sebuah ruangan kosong untuk menghindari sekelompok remaja bersenjata. Tidak ada adegan mengelilingi gedung atau serangan dari segala penjuru. Hanya ada satu pintu yang dijaga.

Alur cerita terasa membosankan, terutama pada adegan penyelamatan orang tua Rangga yang disandera. Setelah berhasil diselamatkan, mereka justru kembali dibawa keluar. Pengulangan adegan negosiasi hanya memperlambat cerita dan mengurangi ketegangan. Plot twist yang dihadirkan pun terasa lelah dan tidak menggugah.

Latar waktu yang diambil adalah Jakarta tahun 2027. Namun, keberadaan bajaj oranye yang seharusnya sudah tidak beroperasi sejak 2017, masih terlihat jelas. Penataan ruang kelas yang masih menggunakan kapur dan papan tulis klasik juga terasa tidak relevan, mengingat banyak sekolah saat ini sudah menggunakan whiteboard dan spidol. Ironisnya, toilet di sekolah tersebut justru tampak modern lengkap dengan kloset duduk dan urinoir. Pilihan artistik yang tidak estetik ini mengganggu keutuhan visual film.
Karakter Diana sebagai guru BK cukup potensial, namun sayangnya tidak digarap dengan maksimal. Perannya terasa hanya sebagai pemanis, meskipun pemeranan Hana Malasan tampil kuat.

Andai saja adegan “pengepungan” benar terjadi di perpustakaan, bukan di ruang kosong, cerita akan lebih dramatis. Bayangkan buku-buku terbakar akibat lemparan molotov dari luar gedung, pasti menambah intensitas ketegangan.

Pesan moral film ini cukup kuat:
Jangan lupakan peristiwa kelam 1998 yang menyasar etnis Tionghoa.
Menjadi guru haruslah siap mental, mengayomi siswa tanpa agenda tersembunyi.
Jangan menilai seseorang dari tampilan luar.
Benih yang buruk hanya akan menghasilkan buah yang busuk. [gem]

Artikel ini ditulis oleh Gemi Mohawk, Pesyair dan karyawan tuhan.