Catatan Cak AT:
Ada semacam penyakit sosial yang belakangan ini menyebar lebih cepat daripada flu musiman, lebih ganas ketimbang hoaks minyak goreng, dan lebih licin daripada belut sawah: penyakit gagal mengenali wajah orang dari foto.
Atau, kalau mau dibalik sedikit agar lebih adil, penyakit memaksa dua wajah berbeda agar terlihat sama. Gejalanya khas, berulang, dan anehnya kini bukan hanya menyerang warga media sosial, tapi juga merembet ke ruang-ruang resmi penegakan hukum.
Gejalanya hampir selalu sama. Orang-orang melihat dua gambar —entah hitam-putih atau berwarna, entah resolusi tinggi atau buram seperti ingatan tentang mantan yang tak sempat pamit— lalu berkata, “Lho, ini jelas bukan orang yang sama.”
Reaksi ini spontan, wajar, dan manusiawi, karena mata jutaan rakyat tidak bisa berbohong. Namun, anehnya, reaksi semacam itu justru bisa berujung masalah hukum. Seolah-olah mata rakyat harus tunduk pada satu versi penglihatan resmi.
Mari kita jujur sejak awal. Ambil contoh dua foto wajah yang saya jadikan ilustrasi. Sekedar ilustrasi saja, tanpa maksud aneh-aneh. Secara kasat mata —dan ini bukan perasaan, tapi pengamatan Anda yang jeli— hidung pada kedua foto itu berbeda postur.
Tak perlu mata melotot atau alat canggih. Cukup lihat dengan tenang. Hidung foto yang satu ujungnya sedikit menunduk ke bawah, berujung lancip dengan bibir lubang melengkung. Sementara hidung foto yang satu lagi ujungnya mendongak bulat, dengan bibir lubang rata.
Ini bukan soal besar-kecil hidung. Ini soal arah ujung hidung. Dalam anatomi wajah, ujung hidung bukan figuran. Ia penentu karakter. Betul, usia bisa membuat hidung tampak lebih panjang. Tapi jarang —amat jarang— usia membuat postur hidung banting setir dari menunduk ke mendongak, dari lancip ke bulat. Kecuali, tentu saja, hidung itu pernah menjalani operasi besar atau punya riwayat benturan fisik dengan pintu mobil.
Alis pun tak kalah cerewet bersaksi. Alis foto yang satu lurus, menipis ke samping dan kalem, seperti orang yang hidupnya relatif minim drama. Sementara alis foto yang lain melengkung tebal dan anggun, seolah selalu siap mengangkat satu alis sambil berkata, “Serius kamu nanya begitu?”
Rambut alis memang bisa dicukur, ditipiskan, atau dibentuk ulang oleh salon dan niat hidup baru. Tapi karakter lengkung dasarnya jarang berubah. Alis itu seperti logat daerah. Bisa coba ditutup-tutupi, tapi akan muncul juga saat emosi datang.
Lalu penampakan bibir. Ah, bibir. Di sinilah banyak orang tertipu oleh senyum. Padahal, dalam membaca wajah, senyum itu seperti filter Instagram: menipu, tapi disukai. Yang harus dilihat adalah bibir saat netral, saat ia tidak sedang berusaha menyenangkan siapa pun.
Bibir foto yang satu lurus dan tipis. Bibirnya foto yang lain lebih penuh dan melengkung. Sudut mulutnya pun berbeda. Ini bukan efek umur. Ini efek struktur bawaan. Usia boleh membuat bibir mengendur, tapi tidak mengubah arsitektur dasarnya —kecuali seseorang hidupnya terlalu sering tersenyum palsu atau bohong melulu.
Namun yang paling jujur dari semua yang ada di kepala adalah telinga. Telinga itu boleh dibilang saksi bisu. Jarang ikut drama, tidak pernah ikut filter, dan nyaris tidak peduli usia. Orang bisa memalsukan rambut, mengatur cahaya, mengencangkan kulit, tapi telinga tetap setia pada bentuk aslinya. Dalam banyak kajian forensik, telinga bahkan lebih dipercaya daripada mata. Mata bisa berbohong. Telinga tidak punya kepentingan.
Di ilmu identifikasi wajah, telinga justru sering dijadikan hakim terakhir ketika bagian wajah lain diperdebatkan. Alasannya sederhana: telinga hampir tidak berubah oleh usia, tidak ikut senyum, tidak ikut marah, tidak terpengaruh pencahayaan, dan jarang disentuh oleh industri kosmetik. Orang bisa mengubah rambut, alis, kulit, bahkan hidung, tapi jarang sekali ada yang mengurus telinga kecuali untuk tindik atau anting.
Ya, kalau difokuskan khusus ke telinga, perbedaannya justru makin telanjang, bahkan lebih “jujur” dibanding hidung atau bibir. Saya tulis agak detil, karena telinga adalah bagian wajah yang paling sulit “dipalsukan oleh waktu”, tapi justru sering diabaikan dalam perdebatan publik. Kita bedah pelan-pelan, tapi presisi.
Pertama, ujung telinga (apex). Ini yang paling mudah terlihat. Wajah kiri: ujung telinga tampak lebih runcing dan naik, seperti segitiga kecil yang tegas. Arah ujungnya cenderung menyudut ke atas. Wajah kanan: ujung telinga lebih tumpul dan membulat, arahnya jatuh ke samping–bawah, tidak membentuk sudut tajam.
Ujung telinga (apex auricula) adalah bagian yang sangat jarang berubah oleh usia. Penuaan bisa membuat telinga tampak sedikit lebih panjang, tetapi tidak mengubah karakter ujungnya dari runcing jadi tumpul atau sebaliknya. Perbedaan ini kuat dan struktural.
Kedua, daun telinga (auricle/pinna) secara keseluruhan. Bukan cuma ujungnya —watak daunnya juga beda. Wajah kiri: daun telinga tampak lebih ramping dan “ketarik ke belakang”, mengikuti garis kepala. Kesan visualnya ringan.
Wajah kanan: daun telinga lebih lebar dan terbuka, dengan volume yang terasa lebih “berisi”. Ini bukan efek kamera, karena proporsinya terhadap rahang dan pipi juga berbeda. Pada foto kanan, telinga tampak lebih dominan dibanding struktur wajah sekitarnya.
Ketiga, heliks telinga nyata berbeda. Wajah kiri: heliks tampak lebih tipis, tajam, dan menekuk ke dalam. Lengkungnya sempit dan rapat. Wajah kanan: heliks lebih tebal, landai, dan terbuka, dengan lengkung yang lebih lebar dan halus.
Mari saya jelaskan, heliks itu apa? Ini penting, karena sering disebut tapi jarang dipahami. Heliks _(helix)_ adalah tepi luar telinga yang melengkung, mulai dari atas, memutar ke belakang, lalu turun ke bawah. Ibarat pagar, heliks adalah bingkai utama telinga.
Ini bukan detail remeh. Ini detail yang dalam praktik forensik justru sering dipakai untuk membatalkan dugaan kesamaan, bukan menguatkannya. Telinga tidak mengenal kompromi narasi. Ia tidak peduli jabatan, tidak tahu kepentingan, dan tidak bisa dipaksa ikut cerita.
Dalam kajian identifikasi wajah, bentuk heliks dianggap salah satu ciri paling stabil seumur hidup. Ia hampir tidak terpengaruh ekspresi, emosi, pencahayaan, atau kosmetik.
Keempat, perlekatan telinga ke kepala. Ini detail kecil tapi menentukan. Wajah kiri: telinga tampak lebih menempel ke sisi kepala. Wajah kanan: telinga lebih menonjol keluar, ada jarak yang jelas antara daun telinga dan kepala. Perbedaan ini bukan soal sudut foto semata, karena arah wajah dan kamera relatif sebanding.
Jika kita rangkum, kita bisa bikin kesimpulan anatomi telinga (tanpa drama). Ujung telinga: runcing vs tumpul; daun telinga: ramping vs lebar; heliks: tajam–rapat vs tebal–landai; perlekatan: menempel vs terbuka. Maka secara ilmu anatomi wajah, telinga kedua wajah ini menunjukkan pola individu yang berbeda, bukan variasi usia dari orang yang sama.




