Profesor Jiang meramal tiga hal: Trump menang, AS menyerang Iran, dan AS kalah. Dua sudah terjadi. Yang ketiga? (Cak AT)

Catatan Cak AT:

Di zaman ketika orang lebih percaya ramalan zodiak daripada laporan intelijen, tiba-tiba muncul seorang profesor yang membuat dunia geopolitik terasa seperti papan catur raksasa. Namanya Prof. Jiang Xueqin, pendidik, penulis, dan YouTuber berkewarganegaraan Kanada.

Sosok kelahiran Guangdong, China (1976) ini bukan pembaca masa depan lewat kopi hitam tanpa gula, melainkan seorang akademisi yang mengaku menggunakan game theory untuk membaca arah sejarah. Ramalannya tentang naiknya Trump jadi Presiden dan perang AS dengan Iran sudah terbukti, membuatnya dijuluki nostradamus.

Kini dunia menatap ramalan ketiga lulusan Yale College pada 1999 dengan gelar sastra Inggris itu dengan ekspresi campuran antara penasaran, cemas, dan sedikit rasa ingin tahu yang nakal: benarkah Amerika Serikat, imperium terbesar abad ini akan kalah perang melawan negara yang selama ini dianggap “sanksi ekonomi berjalan”?

Jiang Xueqin lama berkutat di dunia pendidikan elite di China. Ia pernah menjadi Deputy Principal di Shenzhen Middle School, Program Director di Peking University High School International Division, serta Deputy Principal di sekolah afiliasi Tsinghua University.

Sejak mengajar di Moonshot Academy di Beijing (2022), ia dikenal luas melalui kanal YouTube “Predictive History”, tempat ia menggabungkan analisis sejarah, game theory, dan pola struktural untuk membaca arah geopolitik dunia. Salah satu kuliahnya pada 2024 menjadi viral karena memprediksi Amerika akan kalah dalam perang dengan Iran.

Metode ramalan Jiang terdengar sederhana namun agak menakutkan bagi para pemuja slogan. Ia membaca konflik sebagai permainan strategi jangka panjang, bukan sebagai drama televisi yang bergantung pada pidato presiden atau trending topic media sosial.

Dalam analisanya, perang Amerika melawan Iran bukan duel teknologi canggih versus negara berkembang. Ia melihatnya sebagai perang kelelahan — war of attrition — di mana keunggulan bukan ditentukan oleh siapa punya senjata paling mahal, tapi siapa yang mampu bertahan paling lama.

Ironinya, di sinilah paradoks modern muncul. Sistem militer Amerika dirancang untuk memenangkan perang teknologi tinggi dengan biaya luar biasa. Satu peluru interceptor bisa bernilai puluhan juta dolar, sementara drone lawan hanya puluhan ribu. Itu seperti mencoba memukul nyamuk dengan martil emas. Nyamuknya mungkin mati, tetapi dompet yang lebih dulu pingsan.

Dalam analisis Jiang, Iran justru bermain di level strategi yang berbeda. Kalkulasi mereka tak berhenti di aspek militer, tapi menyeluruh. Mereka tidak sekadar menghadapi militer Amerika, tetapi menekan sistem ekonomi global yang menopang kekuatan Amerika, terutama modal yang berasal dari negeri-negeri Muslim.

Jika infrastruktur energi Teluk terganggu, jika jalur minyak terhambat, jika investasi petro-dollar melemah, maka bukan hanya peluru yang habis, tapi juga fondasi ekonomi yang mulai retak. Dari sinilah ia berani mengatakan sesuatu yang hampir terdengar seperti bid’ah geopolitik: kekalahan Amerika bukan hanya militer, tetapi sistemik.

Namun, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah ramalan itu akan benar, dan yang tanda-tandanya sudah dibaca itu akan benar. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana seorang profesor berani membuat ramalan sejarah seperti itu.

Di sinilah bayang-bayang Ibnu Khaldun muncul dari abad ke-14, seolah tersenyum dari balik halaman Muqaddimah. Sang sejarawan besar itu sejak lama menjelaskan bahwa kekuasaan tidak jatuh karena satu pertempuran, tapi karena hukum sosial yang berulang.

Ibnu Khaldun mencatat, setiap imperium lahir dari solidaritas kuat — yang ia sebut ‘asabiyyah — lalu menjadi makmur, kemudian nyaman, lalu malas, lalu rapuh. Ia bahkan menjelaskan lebih rinci penyebab keruntuhan itu.

Menurutnya, ketika sebuah dinasti sudah lama berkuasa, generasi penerus tidak lagi hidup dalam kesederhanaan para pendirinya. Mereka tumbuh di dalam istana, terbiasa dengan kemewahan, dan perlahan kehilangan daya tahan moral yang dahulu melahirkan kekuasaan itu.

Tahap awal sebuah kekuasaan biasanya lahir dari solidaritas sosial yang kuat. Para pemimpinnya hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan siap berkorban. Kekuasaan seperti ini biasanya tangguh karena energi moralnya besar.

Namun setelah kemenangan datang dan kekuasaan stabil, perubahan perlahan terjadi. Generasi berikutnya mulai menikmati hasil kekuasaan itu. Istana menjadi semakin mewah, birokrasi makin gemuk, dan penguasa semakin jauh dari kehidupan rakyatnya.

Kemewahan tidak hanya mengubah gaya hidup, tetapi juga cara berpikir: kehati-hatian berubah menjadi kesombongan, keberanian berubah menjadi rasa kebal terhadap sejarah. Di titik inilah Ibnu Khaldun mengatakan kehancuran sebenarnya sudah dimulai, meskipun dari luar kekuasaan itu tampak masih sangat kuat.

Relevansinya dengan analisis Prof. Jiang cukup menarik. Jiang melihat kelemahan Amerika bukan pada teknologi atau kekuatan militernya semata, tetapi pada struktur sistem yang terlalu mahal, terlalu kompleks, dan terlalu bergantung pada kemakmuran finansial global.

Dalam istilah sederhana: kekuatan itu menjadi terlalu mewah untuk perang yang murah. Satu drone bernilai puluhan ribu dolar dapat memaksa sistem pertahanan bernilai jutaan dolar untuk merespons. Bahkan ada yang bilang dengan bercanda, drone Iran dibuat dari mesin pemotong rumput.

Ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal struktur kekuasaan yang telah terbiasa beroperasi dalam skala kemewahan yang mahal. Sistem yang terlalu mahal sering kali menjadi kaku dan sulit beradaptasi.

Jika memakai kacamata Ibnu Khaldun, kondisi ini menyerupai tahap akhir siklus kekuasaan: ketika negara sudah begitu makmur sehingga cara bertahannya menjadi sangat mahal, sementara lawannya justru bertahan dengan kesederhanaan dan ketahanan jangka panjang.

Ibnu Khaldun juga mengingatkan bahwa pada tahap ini para penguasa sering tidak lagi benar-benar mendengar rakyatnya. Mereka lebih sibuk menjaga kemewahan sistem kekuasaan yang telah dibangun. Akibatnya, keputusan strategis sering lahir bukan dari kebutuhan rakyat, tetapi dari kepentingan elit politik dan ekonomi.

Menariknya, Prof. Jiang juga menyentuh sisi ini ketika ia menjelaskan bahwa keputusan perang tidak selalu lahir dari kepentingan nasional yang rasional, melainkan dari kalkulasi politik elit, kepentingan sekutu. Bahkan, ambisi pribadi para pemimpin, seperti Trump yang mengumumkan perang secara pribadi dalam empat menit di media sosial, bukan di Istana Oval Gedung Putih.

Dengan kata lain, yang dibaca Jiang melalui game theory sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hukum sosial yang dibaca Ibnu Khaldun melalui sejarah panjang kerajaan-kerajaan dan imperium dunia.

Perbedaannya hanya pada bahasa. Ibnu Khaldun berbicara tentang ‘asabiyyah, kemewahan, dan siklus dinasti. Jiang berbicara tentang geopolitik, sistem ekonomi global, dan biaya militer. Tetapi keduanya menunjuk pada pola yang sama: kekuasaan yang terlalu lama berjaya sering kali runtuh bukan karena musuhnya tiba-tiba menjadi sangat kuat, melainkan karena dirinya sendiri menjadi terlalu nyaman.

Dan sejarah selalu punya selera humor yang halus. Ia jarang merobohkan imperium dengan dentuman dramatis. Lebih sering ia hanya menunggu sampai para penguasa mulai percaya bahwa kemewahan mereka adalah tanda keabadian.

Padahal, bagi Ibnu Khaldun, kemewahan justru sering menjadi tanda bahwa jam sejarah sedang berdetak menuju akhir sebuah kekuasaan.

Jika ramalan Jiang benar, maka dunia mungkin sedang menyaksikan bab lain dari siklus lama yang sudah dibaca Ibnu Khaldun berabad-abad lalu. Tetapi bahkan jika ramalan itu meleset, satu hal tetap pasti: imperium tidak runtuh karena musuhnya kuat, melainkan karena dirinya sendiri mulai percaya bahwa ia tidak mungkin runtuh.

Dan sejarah, seperti guru tua yang sabar tetapi sedikit sinis, selalu menunggu saat yang tepat untuk berkata: “Mari kita uji keyakinan itu.”

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis