Negosiasi di Riyadh: Rusia Ingin Keringanan dari Sanksi Barat

Jalur pengiriman gandum dari Ukraina melalui Laut Hitam (area di atas Turki). Membuka kembali jalur ini akan memberikan keringanan bagi Rusia. (Sumber: The United Nations)

Jakarta – Putaran pembicaraan antara AS dan Rusia berakhir pada hari Senin (24/03/2025) di Riyadh, Arab Saudi. Pertemuan itu berlangsung selama 12 jam.

Melansir dari Sky News, agenda utama dalam pembicaraan itu adalah gencatan senjata di Laut Hitam.

Kedua pihak membahas upaya untuk menghidupkan kembali pengiriman jutaan ton gandum dan ekspor makanan lainnya dari pelabuhan Ukraina tanpa diserang. Ini dikenal sebagai Inisiatif Gandum Laut Hitam.

Pembahasan topik tersebut merupakan usulan presiden AS Donald Trump. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Putin menyetujuinya.

“Ini adalah usulan Presiden Trump dan Presiden Putin menyetujuinya. Dengan mandat inilah delegasi kami berangkat ke Riyadh,” kata Peskov, dikutip dari The Moscow Time.

Sebelumnya, Turki dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membantu memediasi Inisiatif Gandum Laut Hitam pada Juli 2022.

Negosiasi itu merupakan cara untuk memastikan bahwa Ukraina, salah satu lumbung pangan dunia, dapat terus mengekspor gandum melalui pelabuhan selatannya di tengah berkecamuknya perang.

Kesepakatan itu juga memungkinkan ekspor pertanian Rusia yang lebih besar. Namun, Moskow menarik diri pada bulan Juli 2023 setelah menuduh Barat gagal memenuhi komitmennya untuk meringankan sanksi terhadap ekspor produk pertanian dan pupuk Rusia.

Ini berarti Rusia berhenti memberikan jalur aman bagi kapal kargo yang pergi ke dan dari Ukraina. Akibatnya, ekspor gandum negara tersebut merosot.

Jika Inisiatif tersebut dihidupkan kembali, Rusia akan dapat mengekspor hasil pertanian dan pupuknya melalui Laut Hitam. Ini akan memberikan keringanan dari sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat.

Pernyataan bersama tentang hasil pertemuan AS-Rusia di Riyadh akan diterbitkan pada Selasa (25/03/2025).

Saat pembicaraan AS-Rusia berlangsung, presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melaporkan melalui kanal Telegramnya bahwa hampir 90 orang terluka dalam serangan rudal di Sumy, timur laut Ukraina. Angka itu termasuk 17 anak-anak.

“Setiap hari seperti ini, setiap malam di bawah rudal dan pesawat nirawak Rusia, setiap hari perang ini membawa kerugian, rasa sakit, dan kehancuran yang tidak pernah diinginkan Ukraina,” kata Zelenskyy.

“Perang ini dibawa dari Rusia, dan Rusia-lah yang harus menangkal perang ini. Merekalah yang harus dipaksa untuk berdamai. Merekalah yang harus ditekan untuk memastikan keamanan.” [BP]