Bandanaira di Jazz Goes To Campus November 2014 [Foto: Irvan Sjafari]

Meski budaya global terus merangsek, ternyata masih banyak anak muda kita yang punya nasionalisme tinggi. Dunia musik lebih berdegup.

Koran Sulindo – BOLEH jadi budaya popular asing begitu dominan di negeri ini. Silih berganti, hilir-mudik di layar kaca (termasuk di media-media online Tanah Air), mulai dari K-pop (Korea), J-pop (Jepang), Bollywood (India), British Pop, American Pop, sampai Yesilcam (sinema Turki). Boleh jadi, para remaja dan kalangan muda  Indonesia menyambut baik diadakan event berkaitan dengan popular art dari negara lain, seperti kontes cosplay yang diadopsi dari Jepang, Japonoize Revival, di auditorium Universitas Pasundan, Jalan Setiabudhi, Bandung, pada Juni 2015 lalu. Acara tersebut dikunjungi ribuan remaja. Pada Oktober 2016 ini, di Jakarta juga setidaknya ada dua lomba cosplay.

Setiap kontes pencarian bakat yang kebanyakan diikuti kaum muda—sayangnya juga formatnya diadopsi dari luar negeri—didominasi lagu-lagu dari penyanyi Barat. Di satu sisi, remaja kita digiring untuk  menjadikan Ketty Peri, Beyonce, Celine Dion, dan lain-lain sebagai idolanya, di sisi lain industri  musik (global) menghendaki demikian, karena katanya menyanyikan lagu berbahasa Inggris itu tingkat kesulitannya lebih tinggi.

Apakah lagu nasional dari Cornel Simanjuntak, L. Manik, Ismail Marzuki, dan lagu-lagu daerah hanya menjadi arsip audio di perpustakaan alias tidak dikenal lagi secara luas?

Ternyata tidak juga. Ketika JKT 48 (kelompok penyanyi yang diadopsi dari Jepang) mengikuti upacara peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, mereka menyanyikan lagu “Hari Merdeka” dan para remaja penggemar mereka ikut menyanyikannya dengan bangga. Begitu juga dengan lagu “Bendera” yang diciptakan Eross dan dipopulerkan grup musik Cokelat.

Awalnya, lagu “Bendera” adalah lagu soundtrack dari film Langitku Rumahku. Filmnya sendiri hanya bertahan dua hari di layar lebar bioskop, tetapi lagu “Bendera” yang liriknya sarat dengan kecintaan terhadap Tanah Air sempat ngetop cukup lama dan kemudian menjadi lagu “wajib” di banyak acara kebangsaan dan terutama di peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus yang dibawakan anak-anak muda.

Duo Bandanaira, pianis Irsa Destiwi dan Lea Simanjuntak, juga mampu membuat lagu “Desaku”, “Indonesia Pusaka”,  “Nyiur Hijau”, “Sersan Mayorku”, dan “Cik-cik Periuk” menjadi lagu masa kini dengan sentuhan jazz. Demikian pula Danilla Riyadi, mampu membawakan “Rayuan Pulau Kelapa” dan “Sepasang Mata Bola” dari Ismail Marzuki  bernuansa jazz.  Para penggemar mereka juga para remaja, yang senantiasa ikut bernyanyi dengan penuh semangat.

Bahkan, kelompok musik Cokelat dengan vokalis barunya, Jaquelin Nulik, tetap berada di jalur idealismenya. Pada peringatan Hari Keluarga Nasional tahun lalu, misalnya, Cokelat membawakan mars “Keluarga Berencana” dengan aransemen yang lebih segar, yang lebih mudah diterima anak-anak muda penggemarnya.

Kikan Namara yang tak lagi menjadi vokalis Cokelat juga memperbanyak deretan musisi yang membawa semangat nasionalisme dalam karya-karyanya atau penampilannya. Dalam penampilannya di berbagai acara, Kikan antara lain kerap membawakan lagu “Gebyar-Gebyar”, “Bangun Pemuda-pemudi”, dan “Tanah Air”.

Tak boleh dilupakan adalah grup musik Netral, yang ikut menanamkan semangat nasionalisme di generasi muda dengan lagu “Garuda di Dadaku”, yang kemudian menjadi hit dan kerap dibawakan para penyemangat tim sepakbola Indoensia bila berlaga melawan tim dair luar negeri.

Upacara peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2016 lalu juga mampu menyedot perhatian anak-anak muda. Padahal, biasanya, acara itu dianggap “terlalu serius” dan “membosankan” oleh banyak anak muda.

Jadi, kita boleh bergembira, karena nasionalisme pada masa kini masih terus hidup di kalangan anak muda, meski dengan “gaya gue”—meminjam slogan anak muda sekarang. Nasionalisme juga bisa menjadi popular art, bahkan menjadi “nasionalisme gaul”—meminjam istilah pengamat budaya Ekky Imanjaya.

Warna lokal atau lagu-lagu daerah juga tak ditinggalkan anak-anak muda kita, meski teknologi informatika telah menjebol batas-batas wilayah, daerah, dan negara. Lihat saja sejumlah musisi di Bandung, yang mampu menjadikan lagu Sunda dengan keemasan baru, seperti  “Mojang Priyangan” dengan cara jazz.  Pendatang baru jebolan The Indonesian Voice, Yura Yunita, mampu menciptakan lagu berbahasa Sunda, “Kataji”, menjadi populer. Padahal, anak didik Glenn Fredy ini bergerak secara indie alias tak bernaung di bawah label atau perusahaan rekaman besar. Komunitas musisi metal di Ujungberung, Bandung, juga membuat alat musik karinding yang khas Sunda digemari anak-anak muda di Bandung. Lalu ada juga kelompok musik Saratus Persen dari Bandung, yang membawakan world music dengan dasar lagu-lagu daerah, terutama Sunda.

Dari kelompok yang lebih senior juga masih bertaburan musisi-musisi yang terus menggemakan rasa cintanya kepada negeri ini. Kita bisa sebut Iwan Fals, Purwacaraka, dan Ubiet dengan Keroncong Tenggara sebagai contoh. Di kelompok-kelompok musik underground pun banyak yang menyuarakan hal yang sama.

Aransemen Masa Kini  
Kuncinya, menurut Idhar Resmadi, pengamat budaya di Kota Bandung dalam tulisannya yang dimuat di  Pikiran Rakyat  edisi 1  Oktober 2015, terletak pada penata lagunya, yaitu bagaimana mengemas lagu-lagu nasional dan lagu daerah dengan konteks kekinian.

Apa yang diungkapkan Idhar Resmadi diamini oleh vokalis Duo Bandanaira, Lea Simanjuntak. Menurut Lea, memang, cara untuk mengenalkan kembali lagu-lagu nasional dan daerah ke generasi sekarang adalah dengan mengubah aransemen lagu itu sesuai dengan apa pun yang  berbau kekinian. “Lagu nasional masa dulu umumnya lagu mars atau keroncong memang sesuai dengan semangat perjuangan. Namun sekarang agar bisa diterima telinga anak muda dibuat lebih dinamis, misalnya dengan sentuhan jazz. Khusus untuk Bandanaira yang semi-jazz, kami juga berikan sentuhan akustik,” ungkap Lea.

Salah satu lagu yang paling berkesan menurut Lea ialah “Sersan Mayorku”. Lea meminta Irsa Destiwi, pianis Bandanaira, untuk mengaransemen lagu ini agar menjadi “lebih liar”, hingga ada kesan progresif dan “nakal” seperti umumnya semangat anak-anak muda. Hasilnya memang tidak mengecewakan: lagu itu seolah diciptakan pada masa sekarang, bukan lagu yang telah ada sejak tahun 1950-an.

Selain mendaur ulang  lagu-lagu perjuangan dan lagu daerah,  Lea juga menciptakan lagu sendiri yang bertema nasionalisme.  Misalnya soal siapa yang bisa dikategorikan sebagai pahlawan. Menurut dia, pahlawan bukan hanya berjasa di medan pertempuran, tetapi juga mengharumkan nama bangsa di dunia olahraga, seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, dan Elias Pical.

“Pada album ketiga kami yang akan keluar Januari 2017 mendatang akan ada lagu-lagu daerah dari Indonesia Timur. Lagu-lagu  diaransemen ulang oleh Bandanaira, antara lain ‘Sajojo dari Papua, ‘Anging Mamiri’ dari Sulawesi Selatan, dan ‘Ie’ dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Kami ingin mengingatkan kembali ke generasi muda mengenai keberagaman bangsa ini, beragam namun tetap satu tujuan, Bhinneka Tunggal Ika,” kata Lea. [Irvan Sjafari]