Maclyn Musser, teknisi keamanan Departemen Luar Negeri yang pertama kali mengidentifikasi Moscow Signal pada awal tahun 1960-an (kiri) dan gambar yang menunjukkan arah datangnya pancaran gelombang mikro yang mengarah ke gedung Kedutaan Besar AS di Moskow (kanan). Pemerintah AS mencurigai Badan intelijen Soviet menggunakan Moscow Signal untuk mengaktifkan, memberi daya, dan/atau menginterpretasikan perangkat penyadap di dinding gedung Kedutaan Besar. (Sumber: Suluh Indonesia/National Security Archive)

Moscow Signal merupakan salah satu kasus intelijen yang menarik perhatian selama Perang Dingin.

Sejak 1953, pemerintah Amerika Serikat mendeteksi pancaran gelombang mikro yang mengarah ke gedung Kedutaan Besar AS di Moskow.

Aktivitas tersebut memicu penyelidikan mengenai kemungkinan dampak kesehatan dan serangkaian protes diplomatik terhadap Uni Soviet.

Apa Itu Moscow Signal?

Moscow Signal adalah sebutan untuk pancaran gelombang mikro yang diarahkan ke gedung Kedutaan Besar AS di Moskow selama Perang Dingin.

Menurut tinjauan ilmiah J. Mark Elwood yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health pada 2012, gelombang tersebut berada pada rentang frekuensi sekitar 2,5–4,0 gigahertz (GHz).

Sinyal itu terdeteksi sejak 1953 dan menjadi perhatian pemerintah AS karena memiliki arah tertentu menuju gedung kedutaan.

Washington menyelidiki sumber serta kemungkinan tujuan aktivitas tersebut.

Namun, dokumen yang tersedia belum memastikan apakah pancaran itu dimaksudkan untuk mengganggu perangkat elektronik, mendukung operasi penyadapan, atau menjalankan tujuan lain.

Pada 1964, gedung kedutaan lama dibongkar dan puluhan mikrofon ditemukan tertanam di dindingnya.

Penemuan ini memperlihatkan adanya perangkat penyadap di fasilitas diplomatik AS pada masa itu.

Namun, belum ada bukti yang memastikan bahwa gelombang mikro Moscow Signal digunakan untuk mengaktifkan mikrofon tersebut.

Protes Diplomatik Amerika Serikat terhadap Uni Soviet

Pada 25 Juni 1967, Menteri Luar Negeri AS Dean Rusk dan Duta Besar AS Llewellyn Thompson mengangkat persoalan gelombang mikro dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Soviet Andrei Gromyko dan Duta Besar Soviet Anatoly Dobrynin di Glassboro, New Jersey.

Thompson menjelaskan arah pancaran menggunakan diagram, sedangkan Rusk meminta agar aktivitas tersebut dihentikan.

Pihak Soviet menyatakan keraguan dan berjanji memeriksa persoalan itu, tetapi pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

Pada 1969, pejabat Soviet kembali menyangkal adanya penyinaran khusus yang diarahkan ke kedutaan.

Mereka menyatakan bahwa medan elektromagnetik di kawasan tersebut berasal dari aktivitas industri dan laboratorium di sekitarnya.

Pemerintah AS mempertahankan keberatannya berdasarkan hasil pengukuran yang menunjukkan adanya pancaran terarah.

Perselisihan tersebut berlanjut selama beberapa tahun.

Washington berulang kali meminta penghentian sinyal, sementara Moskow menolak mengakui bahwa aktivitas tersebut merupakan persoalan yang perlu diselesaikan sesuai tuntutan AS.

Project PANDORA dan Penelitian Efek Gelombang Mikro

Keberadaan Moscow Signal mendorong pemerintah AS menyelidiki kemungkinan efek biologis radiasi gelombang mikro.

Salah satu program yang berkaitan dengan penyelidikan tersebut adalah Project PANDORA, yang dikembangkan pada 1960-an dalam konteks kekhawatiran keamanan nasional.

Penelitian ini berupaya mengetahui apakah paparan gelombang mikro dapat menimbulkan perubahan biologis atau perilaku yang relevan bagi keselamatan personel dan kepentingan intelijen.

Project BIZARRE juga muncul dalam dokumen pertahanan yang kemudian dideklasifikasi.

Koleksi dokumen National Security Archive yang diterbitkan pada September 2022 mengungkap pembahasan mengenai pengujian radiasi pada monyet dan rencana eksperimen rahasia terhadap manusia.

Penelitian-penelitian itu tidak membuktikan bahwa Uni Soviet telah menggunakan Moscow Signal untuk mengendalikan pikiran diplomat AS.

Peningkatan Intensitas Moscow Signal pada 1975

Moscow Signal kembali menjadi perhatian serius pada 1975 ketika sinyal baru yang dikenal sebagai Moscow Unidentified Technical Signal (MUTS) terdeteksi secara persisten.

Duta Besar AS Walter Stoessel mendorong pemerintahnya mengambil tindakan diplomatik lebih tegas.

Lembar fakta Departemen Luar Negeri AS mencatat bahwa sinyal MUTS beroperasi hingga 14 jam sehari.

Pengukuran tertentu menunjukkan kerapatan daya sekitar 13 mikrowatt per sentimeter persegi.

Angka tersebut merupakan nilai maksimum yang dilaporkan untuk sinyal tertentu, bukan tingkat paparan yang seragam di seluruh gedung kedutaan.

Pada 9 Desember 1975, Menteri Luar Negeri Henry Kissinger menghubungi Duta Besar Soviet Anatoly Dobrynin untuk membahas pancaran gelombang mikro tersebut.

Kissinger berusaha menjaga kerahasiaan masalah itu sambil mendorong pihak Soviet menghentikan aktivitasnya.

Pada 17 Desember 1975, Presiden Gerald Ford mengirim surat kepada pemimpin Soviet Leonid Brezhnev.

Ford menyampaikan kekhawatiran bahwa tingkat radiasi di gedung kedutaan berpotensi membahayakan kesehatan pegawai dan keluarga mereka.

Brezhnev menyangkal adanya niat Soviet untuk membahayakan personel AS dan menyatakan bahwa medan elektromagnetik di kawasan tersebut berasal dari kegiatan industri.

Dia juga mengusulkan pertemuan untuk membandingkan hasil pengukuran kedua negara.

Pengarahan Rahasia dan Perlindungan Staf Kedutaan

Pada 6 Februari 1976, Departemen Luar Negeri AS memberikan pengarahan resmi kepada staf kedutaan mengenai Moscow Signal.

Sebelumnya, banyak personel belum menerima penjelasan resmi mengenai paparan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Informasi tersebut awalnya dibatasi kepada staf kedutaan.

Pasangan dan warga AS lain yang tidak berstatus staf resmi tidak langsung memperoleh akses yang sama.

Pada pertengahan 1976, Departemen Luar Negeri menyediakan lembar fakta yang dapat diakses secara terbatas oleh anggota keluarga.

Pemerintah AS juga menyiapkan pelindung jendela untuk mengurangi paparan di dalam gedung.

Pengukuran setelah pembicaraan diplomatik menunjukkan penurunan kekuatan sinyal.

Namun, penurunan intensitas tidak berarti seluruh pancaran telah berhenti.

Kebijakan kerahasiaan pemerintah AS kemudian menjadi persoalan tersendiri.

Washington berusaha menghindari krisis diplomatik yang lebih besar, sementara staf kedutaan dan keluarga mereka membutuhkan informasi untuk memahami kemungkinan risiko kesehatan.

Negosiasi AS–Soviet dan Sinyal yang Kembali Meningkat

Pada awal 1976, William Hyland, pejabat senior di lingkungan penasihat keamanan nasional AS, membahas kemungkinan kesepakatan dengan diplomat Soviet Yuli Vorontsov.

Salah satu usulnya adalah AS membongkar fasilitas intelijen elektronik di atap kedutaan di Moskow apabila Uni Soviet menghentikan pancaran gelombang mikro, termasuk pancaran dari fasilitas Soviet di Washington.

Negosiasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan menyeluruh.

Persoalan Moscow Signal kembali mencuat pada Oktober 1977 ketika Kedutaan AS melaporkan peningkatan intensitas pancaran.

Telegram diplomatik tertanggal 4 Oktober 1977 mencatat kerapatan daya sekitar 3,15–5,70 mikrowatt per sentimeter persegi pada lantai sembilan, lantai sepuluh, dan atap gedung.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa sinyal masih terukur setelah berbagai upaya diplomatik pada 1975–1976.

Pemerintahan Presiden Jimmy Carter kembali mengangkat persoalan tersebut kepada Brezhnev pada November 1977. Pihak Soviet menolak keberatan AS.

Dokumen diplomatik yang tersedia menunjukkan bahwa perselisihan berlanjut pada masa pemerintahan Carter, tetapi tidak memastikan kapan seluruh pancaran akhirnya dihentikan.

Apakah Moscow Signal Menyebabkan Penyakit?

Pada 1976, Departemen Luar Negeri AS menugaskan tim epidemiologi yang dipimpin Abraham Lilienfeld dari Johns Hopkins University untuk menyelidiki kemungkinan dampak kesehatan pada personel yang pernah bertugas di Moskow dan keluarga mereka.

Penelitian tersebut membandingkan kelompok personel kedutaan Moskow dengan pegawai yang bertugas di kedutaan AS lain di Eropa Timur.

Peneliti menelaah catatan medis, pemeriksaan kesehatan berkala, data kematian, serta gejala yang dilaporkan peserta.

Laporan pemerintah yang diterbitkan pada 1978 tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa paparan gelombang mikro berkaitan dengan peningkatan penyakit atau kematian pada personel kedutaan Moskow dibandingkan kelompok pembanding.

Laporan lengkap penelitian tersebut tidak pernah diterbitkan secara terperinci dalam jurnal ilmiah yang ditelaah sejawat.

Pada 2012, J. Mark Elwood menerbitkan tinjauan ilmiah dalam jurnal Environmental Health yang memeriksa laporan asli dan berbagai interpretasinya.

Tinjauan tersebut mendukung kesimpulan utama laporan 1978, sembari membahas keterbatasan metodologi penelitian.

Hasil penelitian itu tidak membuktikan bahwa risiko kesehatan pada setiap individu mutlak nol.

Namun, penelitian utama juga tidak mendukung klaim bahwa Moscow Signal terbukti menyebabkan kanker, gangguan neurologis, atau pengendalian pikiran.

Kerahasiaan Pemerintah AS dan Kontroversi Etika

Pemerintah AS merahasiakan informasi Moscow Signal selama bertahun-tahun, antara lain karena khawatir pengungkapan kasus tersebut akan memperburuk hubungan diplomatik dengan Uni Soviet.

Pada masa itu, kedua negara juga menghadapi persoalan lain terkait pengendalian senjata dan hubungan bilateral.

Keterlambatan pemberitahuan kepada personel kedutaan menimbulkan pertanyaan mengenai hak pegawai untuk mengetahui kemungkinan risiko di lingkungan kerja mereka.

Staf baru menerima pengarahan resmi pada Februari 1976, sedangkan anggota keluarga memperoleh lembar fakta pada pertengahan tahun tersebut.

Hubungan Moscow Signal dengan Havana Syndrome

Moscow Signal kerap dibahas dalam konteks Havana Syndrome, istilah populer untuk serangkaian keluhan kesehatan yang dilaporkan sejumlah diplomat dan personel intelijen AS sejak 2016, pertama kali mendapat perhatian besar di Havana, Kuba.

Havana Syndrome adalah istilah untuk serangkaian gejala kesehatan misterius yang pertama kali dilaporkan oleh sejumlah personel pemerintah AS di Havana, Kuba, pada akhir 2016.

Gejalanya meliputi sakit kepala, pusing, gangguan pendengaran, serta kesulitan berkonsentrasi dan mengingat.

Pada 2020, panel National Academies Amerika Serikat menilai energi radiofrekuensi berdenyut yang diarahkan sebagai salah satu mekanisme yang masuk akal untuk menjelaskan beberapa gejala akut yang khas.

Namun, temuan tersebut tidak membuktikan penggunaan senjata gelombang mikro dalam kasus Havana Syndrome.

Penelitian National Institutes of Health (NIH) yang diterbitkan pada 2024 juga tidak menemukan bukti konsisten berupa cedera otak yang dapat dideteksi melalui MRI pada kelompok yang diteliti.

Hingga kini, penyebab Havana Syndrome secara menyeluruh belum dipastikan.

Hubungan Moscow Signal dengan Havana Syndrome sering dibahas karena kedua kasus itu berkaitan dengan kekhawatiran mengenai paparan energi elektromagnetik, keselamatan personel diplomatik, dan kemungkinan penggunaan teknologi untuk kepentingan intelijen.

Kesamaan konteks geopolitik dan dugaan penggunaan teknologi terarah tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat atau kesinambungan program antara kedua kasus. [BP]

Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia untuk menemukan lebih banyak artikel sejarah dunia yang menarik dan jarang dibahas.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I