Tren pustaka digital di dunia Islam sebenarnya sedang berada di titik paling dinamis dalam dua dekade terakhir. Dari Mesir sampai Maroko, dari Turki sampai Malaysia, berbagai lembaga keilmuan dan universitas Islam telah berlomba-lomba memindahkan warisan literatur ke format digital.

Universitas Al-Azhar, misalnya, telah mendigitalkan ribuan manuskrip klasik, sementara King Abdulaziz Public Library di Riyadh mengembangkan katalog daring yang memuat jutaan entri, sebagian di antaranya sudah dilengkapi fitur pencarian full-text layaknya Google untuk kitab.

Di Iran, proyek Noor Digital Library bahkan menjadi salah satu pionir integrasi teks-teks keagamaan dengan sistem pencarian semantik berbasis AI, sehingga peneliti tidak hanya bisa mencari kata, tetapi juga konsep yang berkaitan.

Turki melalui Türkiye Diyanet Vakfı (TDV) memanfaatkan digitalisasi untuk membuat tafsir multibahasa yang bisa diakses publik secara gratis. Semua ini menunjukkan bahwa dunia Islam mulai menganggap pustaka digital bukan sekadar pelengkap, tapi infrastruktur inti pendidikan dan riset.

Negara-negara Asia Tenggara juga tak ketinggalan. Malaysia melalui JAKIM e-Hadith mempermudah pencarian hadis berdasarkan topik, sementara Brunei Darussalam mengembangkan aplikasi mushaf digital yang terkoneksi langsung dengan tafsir lokal.

Di Indonesia sendiri, selain proyek-proyek pemerintah, inisiatif mandiri dari pesantren seperti di Indralaya ini semakin memperluas akses, karena tidak bergantung pada lisensi komersial.

Secara global, tren ini memiliki dua kecenderungan utama: pertama, digitalisasi pustaka yang sebelumnya terfragmentasi menjadi satu portal terpadu; kedua, integrasi kecerdasan buatan untuk membantu klasifikasi, pencarian, dan ringkasan teks. Dengan gabungan ini, pustaka digital bukan hanya “mesin fotokopi” raksasa, tapi sudah menjadi “asisten riset” yang bekerja 24 jam.

Jika model pustaka seperti yang diresmikan di Indralaya ini diadopsi lebih luas, ia berpotensi menjadi acuan internasional bagi lembaga pendidikan Islam. Ini terutama karena berhasil menggabungkan kedalaman literatur klasik, kelengkapan data, dan kecerdasan teknologi, tanpa memutus akar tradisi pesantren.

Dengan begitu, dunia Islam tak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen inovasi yang relevan dengan kekayaan ilmiahnya sendiri.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis
Pesantren al-Ittifaqiah Indralaya, 15/8/2025