Sejarah Kerajaan Inggris pada abad ke-15 menyimpan kisah kelam tentang pengkhianatan, ambisi, dan tragedi keluarga yang berujung pada kematian seorang bangsawan tinggi. Salah satu peristiwa paling kontroversial terjadi pada 18 Februari 1478, ketika George Plantagenet, Adipati Clarence, dieksekusi setelah dinyatakan bersalah berkhianat terhadap kakaknya sendiri, Raja Edward IV.
Kisah kematiannya kemudian dibalut legenda ganjil, ia disebut-sebut ditenggelamkan dalam tong berisi anggur malmsey yang mahal. Namun, benarkah demikian, dan bagaimana sebenarnya perjalanan hidup yang membawanya ke akhir tragis itu?
Dilansir dari laman History Hit, George lahir pada 21 Oktober 1449 di Dublin, ketika ayahnya, Richard, Adipati York ke-3, menjabat sebagai Lord Lieutenant Irlandia di bawah pemerintahan Raja Henry VI. Ibunya, Cecily Neville, berasal dari keluarga bangsawan berpengaruh di Inggris utara.
George adalah anak kesembilan dari sepuluh bersaudara, anak ketujuh yang bertahan hidup melewati masa bayi, sekaligus putra ketiga dalam keluarga tersebut. Sejak kecil, hidupnya telah diwarnai ketidakpastian politik dan konflik berdarah.
Keluarga Plantagenet segera terseret dalam Perang Mawar, perang saudara antara Wangsa York dan Lancaster yang mengguncang Inggris. Pada tahun 1459, George berada di Ludlow ketika ayah dan kakak-kakaknya terpaksa melarikan diri. Ia ditinggalkan bersama ibunya, kakak perempuannya Margaret, serta adik laki-lakinya Richard, sementara pasukan kerajaan menjarah kota dan kastil.
Setelah itu, George berada di bawah pengawasan bibinya. Nasibnya sempat berubah ketika ayahnya diangkat sebagai pewaris takhta, tetapi harapan itu pupus setelah Richard dari York tewas dalam Pertempuran Wakefield pada 30 Desember 1460. George dan adiknya, Richard yang kelak menjadi Richard III diungsikan ke Burgundy, hidup terpisah dari keluarga dan dibiarkan diliputi kecemasan tentang masa depan mereka.
Keadaan berbalik ketika kakak tertuanya naik takhta sebagai Edward IV, raja Yorkist pertama. George dan Richard kembali disambut sebagai pangeran kerajaan dan bersiap pulang untuk penobatan sang raja. Edward masih berusia 18 tahun dan belum menikah, sementara kakak mereka Edmund telah gugur bersama ayah mereka.
Dalam situasi ini, George yang baru berusia 11 tahun menjadi pewaris takhta Inggris. Pada 29 Juni 1461, sehari setelah penobatan Edward IV, George dianugerahi gelar Adipati Clarence. Gelar ini sarat makna simbolik dan propaganda Yorkist, karena sebelumnya pernah dipegang oleh putra-putra raja Inggris, seolah menegaskan posisi George sebagai pewaris sah.
Selama sembilan tahun berikutnya, George hidup sebagai ahli waris kerajaan. Namun, tumbuh dewasa dengan kekuasaan besar yang sewaktu-waktu bisa direnggut membentuk kepribadiannya menjadi mudah marah, keras kepala, dan sangat sensitif terhadap hak-haknya. Sifat inilah yang kelak menyeretnya ke dalam konflik dengan kakaknya sendiri.
Pengaruh besar datang dari Richard Neville, Earl of Warwick, sepupu pertama George dan saudara-saudaranya. Warwick adalah tokoh kunci yang membantu Edward merebut takhta, tetapi hubungan mereka memburuk sepanjang dekade 1460-an. Warwick, yang tidak memiliki pewaris laki-laki, berniat menikahkan putri sulungnya, Isabel Neville, dengan George demi membuka jalan bagi keluarganya menuju takhta. Edward menentang rencana itu, tetapi Warwick tetap melangsungkan pernikahan tersebut pada 11 Juli 1469 di Calais setelah memperoleh dispensasi kepausan.
Pernikahan itu menandai keterlibatan George dalam pemberontakan terbuka melawan Edward IV. Bersama Warwick, ia sempat berhasil menangkap dan menahan sang raja, meski situasi genting di perbatasan Skotlandia memaksa mereka melepaskannya. Ketegangan terus berlanjut hingga pada 1470 ditemukan dokumen yang membuktikan bahwa George masih bersekongkol dengan Warwick, yang kini berencana menggulingkan Edward.
Kekalahan memaksa mereka mengasingkan diri ke Prancis. Di sana, Warwick justru bersekutu dengan kaum Lancastrian untuk mengembalikan Henry VI ke takhta, menyingkirkan George dari rencana besarnya.
Ketika Henry VI kembali berkuasa, kehidupan George di Inggris yang dikuasai Lancastrian menjadi sulit. Ia akhirnya kembali ke pihak saudara-saudaranya, membantu mereka merebut kembali mahkota bagi Wangsa York. Untuk sementara, ia tampak berdamai dengan Edward IV.
Namun, tragedi pribadi menjadi awal kejatuhan terakhirnya. Istrinya, Isabel Neville, meninggal pada 22 Desember 1476, hampir tiga bulan setelah melahirkan seorang putra yang juga meninggal tak lama kemudian. Dari pernikahan itu, George memiliki seorang putri, Margaret, dan seorang putra, Edward, serta seorang anak pertama, Anne, yang lahir di laut dan tidak bertahan hidup.
Kematian Isabel mengguncang kondisi mental George. Pada 12 April 1477, ia memerintahkan penangkapan, pengadilan, dan eksekusi salah satu dayang istrinya dengan tuduhan meracuni Isabel. Tindakan ini dilakukan tanpa wewenang hukum.
Serangkaian penangkapan menyusul, termasuk terhadap orang-orang dekat George. Ia bahkan menerobos rapat dewan untuk memprotes tindakan kerajaan. Situasi ini membuat Edward IV kehilangan kesabaran dan memerintahkan penangkapan adiknya sendiri. Pada Januari 1478, George diadili oleh parlemen atas tuduhan pengkhianatan.
Persidangan itu mengungkap upayanya menyelundupkan putranya ke Irlandia atau Burgundy, klaim bahwa sang putra bersekongkol melawan raja, serta kepemilikan dokumen dari masa pemulihan Henry VI yang menyebut George sebagai pewaris Lancastrian jika garis keturunan itu gagal—sesuatu yang pada saat itu telah terjadi. Bagi Edward, dan menurut banyak dugaan juga bagi sang ratu, pengkhianatan George sudah melampaui batas.
Pada 18 Februari 1478, dalam usia 28 tahun, George Plantagenet dieksekusi di Menara London. Sebagai seorang adipati dan saudara raja, eksekusinya dilakukan secara tertutup, jauh dari tontonan publik. Dari sinilah muncul legenda bahwa ia ditenggelamkan dalam tong berisi anggur malmsey, minuman manis dan mahal yang populer di kalangan bangsawan. Beberapa kisah bahkan menyebutkan bahwa metode itu dipilih atas permintaannya sendiri.
Secara historis, eksekusi dengan cara ditenggelamkan memang dikenal di Skotlandia hingga abad ke-18, dan dalam beberapa budaya, pertumpahan darah kerajaan dihindari demi menjaga kehormatan. Ada kemungkinan Edward memilih metode ini untuk mencegah darah bangsawan tumpah, atau George sendiri memilihnya sebagai bentuk pengakuan simbolis. Pilihan anggur malmsey sering ditafsirkan sebagai sindiran terhadap reputasi Edward IV yang dikenal gemar minum.
Apakah George benar-benar mati dalam tong anggur mahal itu mungkin tak pernah dapat dipastikan sepenuhnya. Namun, kisah hidup dan kematiannya tetap menjadi salah satu episode paling dramatis dalam sejarah Inggris, memperlihatkan bagaimana ambisi, konflik keluarga, dan politik kekuasaan dapat berujung pada tragedi yang tak terbayangkan, bahkan di antara darah sedarah. [UN]