Ilustrasi koran yang menunjukkan penemuan jenazah Catherine Eddowes, 6 Oktober 1888. (Sumber: Jack the Ripper)

Dari sekian banyaknya kasus pembunuhan misterius di dunia, Jack The Ripper adalah yang paling terkenal sepanjang masa. Dia terkenal karena telah meneror gang-gang sempit East End di Spitalfields dan Whitechapel, Inggris pada tahun 1888.

Mary Ann Nicholls, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes, dan Mary Jane Kelly adalah lima korbanya yang paling terkenal (canonical five). Namun beberapa ahli percaya Jack The Ripper telah membunuh lebih banyak orang.

Karena dia tidak pernah tertangkap, sulit mengetahui jumlah korbannya secara pasti.

Mengapa Polisi Gagal Menangkap Jack The Ripper?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kepolisian gagal menangkap Jack The Ripper. Mengutip dari situs Jack the Ripper, alasan pertama adalah pihak kepolisian Victoria memiliki sedikit pengalaman dalam menangani kasus pembunuhan rumit.

Kedua, pelaku melaksanakan aksinya di salah satu kawasan paling rawan kejahatan di London pada era Victoria. Kerahasiaan unsur kriminal sangat menghambat polisi. Ketiga, kepolisian tidak menggunakan teknik investigasi modern seperti pemeriksaan sidik jari, investigasi tempat kejadian perkara, forensik modern, bahkan fotografi TKP.

Selain itu, kepolisian Victoria tidak memanfaatkan media untuk menyeret Jack The Ripper ke pengadilan. Mereka menjaga jarak dengan wartawan karena takut pers akan membocorkan alur pertanyaan mereka kepada pelakunya.

Pers menanggapi kurangnya kerja sama ini dengan mencari informasi apapun yang dapat mereka temukan. Mereka juga menunjukkan rasa frustrasi mereka dengan mengkritik kepolisian secara tajam. Kritik tersebut merusak moral para detektif yang menyelidiki pembunuhan Jack The Ripper.

Siapa Sebenarnya Jack The Ripper?

Melansir dari Science, tes genetik menyebut Aaron Kosminski sebagai sosok Jack The Ripper yang sesungguhnya. Dia adalah seorang tukang cukur asal Polandia berusia 23 tahun dan tersangka utama polisi pada zamannya.

Kosminski diketahui menderita penyakit kejiwaan dan pernah beberapa kali masuk rumah sakit jiwa. Pada 19 April 1894, dia dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa Leavesden. Dia menghabiskan sisa dua puluh lima tahun hidupnya di sana dan meninggal pada tanggal 24 Maret 1919.

Berdasarkan pemeriksaan forensik, selendang sutra yang ditemukan di samping tubuh Catherine Eddowes pada tahun 1888 ternoda oleh darah dan air mani. Keduanya diyakini berasal dari Kosminski.

Ini bukan pertama kalinya Kosminski dikaitkan dengan kejahatan tersebut. Namun, ini adalah pertama kalinya bukti DNA pendukung dipublikasikan dalam jurnal.

Sejarawan dan penulis Inggris Russell Edwards membeli selendang itu dalam sebuah lelang pada tahun 2007. Dia lalu memberikannya kepada Jari Louhelainen, seorang ahli biokimia di Universitas Liverpool John Moores, Inggris.

Bersama David Miller, seorang ahli reproduksi dan sperma di Universitas Leeds di Inggris, Louhelainen melakukan tes genetik pertama pada sampel di selendang itu.

Pengujian membandingkan fragmen DNA mitokondria—bagian DNA yang hanya diwarisi dari ibu—yang diambil dari selendang itu dengan sampel dari keturunan Eddowes dan Kosminski yang masih hidup.

Louhelainen dan Moores menyimpulkan dalam Journal of Forensic Sciences bahwa DNA tersebut cocok dengan DNA kerabat Kosminki yang masih hidup. Analisis itu juga menunjukkan pembunuhnya berambut cokelat dan bermata cokelat. Ini sesuai dengan bukti dari seorang saksi mata.

“Ciri-ciri ini tentu saja tidak unik,” kata Louhelainen dan Moores dalam makalah mereka. Mereka mencatat bahwa mata biru kini lebih umum daripada mata cokelat di Inggris.

Perdebatan

Hasil tes genetik itu menuai perdebatan. Penyebabnya adalah rincian utama mengenai varian genetik spesifik antara sampel DNA tidak disertakan dalam jurnal demi melindungi privasi individu.

Louhelainen dan Moores hanya menggambarkannya dalam bentuk grafik dengan serangkaian kotak berwarna. Di bagian yang saling tumpang tindih, menurut mereka, sampel dari selendang cocok dengan urutan genetik kerabat Eddowes dan Kosminski yang masih hidup.

Walther Parson, seorang ilmuwan forensik di Institut Kedokteran Hukum di Universitas Kedokteran Innsbruck di Austria, mengatakan urutan DNA mitokondria tidak menimbulkan risiko terhadap privasi, sehingga para penulis seharusnya memasukkannya dalam jurnal.

Hansi Weissensteiner, seorang ahli DNA mitokondria di Innsbruck, juga mempersoalkan analisis DNA mitokondria. Menurutnya, sampel dari selendang itu bisa jadi berasal dari Kosminski, tetapi mungkin juga berasal dari ribuan orang yang tinggal di London pada saat itu.

Kritikus lain terhadap teori Kosminski telah mengatakan tidak ada bukti bahwa selendang itu pernah berada di TKP. Selendang itu juga bisa saja telah terkontaminasi selama bertahun-tahun.

Namun Russell Edwards kembali mengonfirmasi bahwa DNA tersebut cocok dengan Kosminski. Dia menyampaikannya dalam acara “Today Show Australia” pada 15 Februari 2025 lalu.

Kini, keturunan Eddowes dan Kosminski menuntut agar penyelidikan resmi dilakukan untuk mengonfirmasi identitas Jack The Ripper secara hukum. [BP]