Memasuki awal tahun 2026, jagat maya diramaikan oleh perbincangan tentang sebuah buku memoar berjudul Broken Strings. Buku ini ditulis oleh aktris Aurélie Moeremans dan dengan cepat menarik perhatian publik. Bukan semata karena sosok penulisnya yang dikenal luas, melainkan karena keberanian Aurélie membuka pengalaman pahitnya sebagai penyintas child grooming.
Gelombang empati mengalir deras, sekaligus memantik diskusi yang lebih luas tentang rapuhnya sistem perlindungan anak di negeri ini dan tidak sedikit yang turut emosi pada tokoh pelaku dalam buku tersebut. Dari sini, pertanyaan mendasar pun muncul, apa sebenarnya yang dimaksud dengan child grooming?
Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan secara bertahap oleh seorang predator seksual, sering disebut groomer untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan anak atau remaja. Tujuan akhirnya bukan sekadar kedekatan, melainkan eksploitasi dan pelecehan seksual.
Berbeda dengan kekerasan fisik yang kasat mata dan kerap terjadi secara tiba-tiba, child grooming bekerja dengan cara yang jauh lebih halus, perlahan, dan terencana. Proses ini sering kali luput dari perhatian karena memanfaatkan ketidaktahuan korban, kelengahan pengawasan, serta celah-celah emosional dalam kehidupan anak.
Mengutip laman halodoc, Istilah child grooming merujuk pada serangkaian tindakan yang dirancang secara sistematis untuk menurunkan pertahanan korban dan juga lingkungan di sekitarnya. Pelaku tidak hanya menargetkan anak, tetapi kerap berusaha menciptakan citra diri sebagai sosok yang baik, ramah, dan dapat dipercaya di mata keluarga atau orang dewasa lain. Dengan demikian, mereka dapat menciptakan kesempatan melakukan kejahatan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Penting dipahami bahwa child grooming bukanlah tindakan tunggal. Ia merupakan sebuah proses bertahap yang memakan waktu. Pelaku biasanya memulai dengan mendekati korban secara perlahan, berpura-pura menjadi teman, pendengar yang baik, atau figur yang seolah-olah peduli. Kepercayaan dibangun sedikit demi sedikit. Dalam tahap ini, pelaku sangat piawai menampilkan sisi terbaik dirinya, bahkan mampu mengelabui orang tua atau lingkungan sekitar agar tidak menaruh curiga.
Manipulasi emosional menjadi senjata utama. Anak-anak yang merasa kesepian, memiliki harga diri rendah, atau sedang menghadapi masalah di rumah menjadi target yang sangat rentan. Pelaku memanfaatkan kondisi tersebut untuk membuat anak merasa istimewa, dipahami, dan diterima.
Proses ini bisa terjadi secara langsung atau luring melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga semakin sering berlangsung secara daring. Media sosial, aplikasi pesan, hingga game online menjadi ruang baru yang dimanfaatkan pelaku untuk mendekati korban, sering kali dengan identitas yang disamarkan.
Seluruh rangkaian ini bermuara pada satu tujuan utama, yakni eksploitasi. Baik dalam bentuk manipulasi psikologis, pelecehan, maupun kekerasan seksual, semua dilakukan setelah korban berada dalam posisi yang lemah dan bergantung secara emosional pada pelaku.
Ada sejumlah tanda yang patut diwaspadai oleh orang tua dan orang dewasa di sekitar anak. Child grooming sering ditandai dengan pemberian hadiah atau perhatian yang berlebihan dan tidak wajar. Pelaku juga cenderung membangun komunikasi yang bersifat rahasia, berusaha menjauhkan interaksi dengan pengawasan orang tua. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan menjelekkan orang tua atau figur otoritas lain, dengan tujuan merusak kepercayaan anak terhadap orang-orang yang seharusnya melindungi mereka.
Ketergantungan emosional sengaja diciptakan, hingga anak merasa hanya pelaku yang benar-benar memahami dan peduli. Tak jarang, sentuhan fisik yang awalnya terlihat sepele perlahan meningkat intensitasnya, hingga berujung pada pelecehan seksual.
Modus operandi pelaku pun beragam. Ada yang berpura-pura menjadi teman sebaya dengan minat dan hobi yang sama, ada pula yang memanfaatkan media sosial sebagai pintu masuk. Game online menjadi medium lain yang rawan disalahgunakan, karena memungkinkan interaksi intens tanpa identitas yang jelas. Dalam situasi tertentu, pelaku menawarkan bantuan atau dukungan kepada anak yang sedang mengalami kesulitan, sehingga korban merasa berutang budi dan enggan menolak permintaan apa pun.
Dampak child grooming terhadap anak sangatlah serius dan berkepanjangan. Secara psikologis, anak dapat mengalami trauma mendalam yang memicu kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Dari sisi perilaku, korban mungkin menunjukkan perubahan drastis, seperti menjadi agresif, menarik diri dari lingkungan sosial, atau bahkan terjerumus pada penyalahgunaan zat.
Pengalaman ini juga dapat mengganggu kemampuan anak untuk membangun dan memelihara hubungan yang sehat di masa depan. Tak jarang, korban mengalami kebingungan identitas, khususnya terkait seksualitas, disertai rasa malu dan bersalah atas apa yang sebenarnya bukan kesalahan mereka.
Menghadapi ancaman ini, pencegahan menjadi kunci yang tak bisa ditawar. Upaya melindungi anak dari child grooming membutuhkan peran bersama, mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas. Edukasi sejak dini tentang batasan pribadi, sentuhan yang aman dan tidak aman, serta keberanian untuk berbicara ketika merasa tidak nyaman menjadi fondasi penting.
Komunikasi yang terbuka harus dibangun agar anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan. Di era digital, pemantauan aktivitas daring anak juga menjadi keharusan, termasuk mengenali dengan siapa mereka berinteraksi di dunia maya. Selain itu, membangun kepercayaan diri dan harga diri anak akan membantu mereka tidak mudah dimanipulasi. Mengenal lingkungan pergaulan anak, baik teman sebaya maupun orang dewasa yang sering berinteraksi dengan mereka, juga merupakan langkah perlindungan yang krusial.
Kisah dalam Broken Strings menjadi pengingat bahwa kejahatan seperti child grooming bisa terjadi di sekitar kita, sering kali tanpa disadari. Sebelum semuanya terlambat, menjaga dan melindungi anak-anak dari kejahatan ini adalah tanggung jawab bersama, demi memastikan masa depan mereka tumbuh tanpa bayang-bayang trauma. [UN]

