Opini – Baru-baru ini pada tanggal 19 Maret 2026 kita semua tahu bahwa telah terjadi pertemuan antara Prabowo selaku Presiden telah meluangkan waktu untuk bertemu dengan Ibu Megawati Soekarnoputri.
Keduanya bertemu membicarakan tema atau subjek yang sangat jelas khususnya keberhasilan masa kepemimpinan Ibu Megawati yang terdiri dari :
1. Membedah resep ” kemandirian ekonomi “.
2. Contoh kemandirian dalam bentuk pemutusan rantai IMF.
3. Menjaga rupiah tetap perkasa.
4. Ketegasan atas penolakan Agresi USA ke Iraq.
5. Penyelesaian konflik sosial di Ambon, Poso, dan Aceh sebagai dasar pertumbuhan ekonomi.
6. Mendudukkan Indonesia bukan sebagai “pion” papan catur kekuatan besar, melainkan pemain yang memiliki harga diri.
7. Kemampuan menjaga defisit anggaran tetap rendah namun dalam posisi anggaran tetap rendah masih mampu melahirkan institusi besar seperti KPK, Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi.
Dari tema dan Subjek pertemuan diatas sekaligus merupakan sesi “transfer of wisdom” dan kuliah singkat tentang bagaimana menjaga martabat bangsa di tengah kepungan krisis.
Harapan kuliah singkat yang sarat dengan persoalan Geo Politik & Geo Ekonomi baik Internasional maupun Nasional, timbul pertanyaan apakah kuliah singkat tersebut dapat menjadi Road Map yang sekaligus menginspirasi Prabowo dalam menyusun proses pengambilan keputusan?
Geo Politik Internasional
Satu hal yang tidak bisa kita pungkiri, Megawati hidup dalam tempaan lingkaran pendidikan politik almarhum ayahnya Presiden Soekarno sehingga terbentuk National Character Building yang sangat kuat.
Tempaan tersebut menjadikan Megawati sangat memahami Pembukaan UUD 45 dan Dasa Sila Bandung. Pemahaman tersebut menjadi dasar strategi Geo Politik Internasional nya yang bisa kita lihat pada keberanian Megawati memutus rantai IMF, penolakan Agresi USA ke Iraq, penempatan Indonesia bukan sebagai Pion negara besar karena Indonesia memiliki harga diri dan lain-lain.
Berbeda dengan Prabowo. Karena Prabowo hidup dalam lingkaran pendidikan politik almarhum ayahnya Soemitro Djojohadikusumo yang hidup dalam pengasingan. Ayahnya berseberangan dengan pemerintah pada waktu itu dan lari keluar negeri. Sumitro lebih memilih menjadi bagian dari DI, TII, PERMESTA yang mendapat dukungan serta bantuan CIA. Akibatnya dalam diri Prabowo tidak tertanam National Character Building seperti Megawati. Sumitro kembali ke Indonesia dipanggil oleh Suharto setelah berhasil menggulingkan Presiden Soekarno-juga atas bantuan CIA dengan Collateral Freeport.
Pendidikan politik bagi Prabowo sebagaimana diuraikan diatas, menjadikan Pemahaman Pembukaan UUD 45, Dasa Sila Bandung serta National Character Building bagi sosok yang bernama Prabowo sangat sulit dan gamang. Hal itu bisa kita perhatikan dari :
a. Beberapa keputusan tanpa ada persetujuan DPR yaitu penanda tanganan Board Of Peace & Perjanjian Perdagangan Resiprokal atau Agreement of Reciprocal Trade (ART), tarif perdagangan antara USA dengan Indonesia.
b. Ketidak beranian Prabowo dalam menolak penyerangan USA & Israel ke Iran.
c. Prabowo tidak berani mengeluarkan pernyataan bela sungkawa terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei atas penyerangan USA & Israel secara cepat.
Geo Politik Nasional
Kita semua harus memahami bahwa proses Megawati menjadi Presiden pada dasarnya dikarenakan Partai PDIP selaku pengusung merupakan Partai Pemenang Pemilu. Walaupun pada waktu itu direkayasa oleh Amin Rais dengan Poros Tengah namun atas pembelaan Fraksi ABRI Megawati menjadi Wakil Presiden dan pada gilirannya mejadi Presiden setelah Presiden Gus Dur di impeach.
Dengan segala kekurangannya oleh karena perjalanan menuju Istana bagi Megawati dasarnya adalah Partai pemenang Pemilu, maka kedudukan Megawati sebagai CEO dengan mudah dilaksanakan. Sebagai bukti dapat kita lihat dalam bentuk pelaksanaan Span Of Control atas Sub Ordinat/Para Pembantu Presiden (Kementerian) Megawati dengan sangat mudah :
a. Menjadi sang penyintas krisis pasca Reformasi dimana rupiah tidak hanya stabil, tapi menguat tajam hingga menyentuh level Rp. 8.000,- per USD.
b. Dalam bidang anggaran juga mampu menjaga defisit tetap rendah sehingga mampu melahirkan institusi besar seperti KPK, Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi.
Lain halnya dengan Prabowo yang dalam perjalanan menuju Istana, partai GERINDRA bukan merupakan partai pemenang Pemilu. Prabowo justru terjebak pada koalisi yang sarat dengan sandera. Hal itu terlihat dari wakilnya Prabowo. Disisi lain juga terlihat dari fungsi Span Of Control Prabowo terhadap jajaran Sub Ordinat (Kementerian) nya. Kondisi dan fungsi Span Of Control membuat Prabowo tidak mampu menjalankan fungsi sebagai CEO atau Dirigen yang pada akhirnya bermunculan masalah antara lain :
a. MBG.
b. Importasi mobil dari India oleh Koperasi Merah Putih.
c. Persoalan dalam bidang Pertambangan.
d. Ketidak mampuan menjaga defisit anggaran.
e. Tingkat perubahan nilai tukar rupiah terhadap USD yang bahkan seorang Prof mengatakan pada bulan Juli 2026 nanti akan mencapai Rp. 22.000,- Per USD.
f. Digugatnya Prabowo ke PTUN dalam hal perjanjian Reciprocal Perdagangan Indonesia USA.
Uraian diatas memberikan kejelasan kepada kita semua tentang gambaran bahwa Indonesia dibawah kepemimpinan Prabowo sepertinya NKRI tercinta sedang berada di persimpangan yang ujungnya meninggalkan banyak pertanyaan :
1. Beranikah Prabowo sebagai Presiden malaksanakan hasil pertemuan yang merupakan kuliah singkat tersebut?
2. Mampukah kita mengatakan bahwa Republik Indonesia yang sedang berada di persimpangan merupakan negara yang berdaulat sesuai dengan Pembukaan UUD 45 dan Dasa Sila Bandung?
3. Mungkinkah Indonesia sebagai negara yang kedaulatannya telah tergerus & sirna ini menjadi negara yang masih mempunyai harga diri & kemandirian, baik bidang Geo Ekonomi, Geo Politik Luar Negeri maupun Geo Politik dalam Negeri?
4. Mampukah Prabowo mengembalikan posisi Indonesia agar tidak menjadi bidak catur dari negara adikuasa sebagai akibat penanda tanganan Board Of Peace & Reciprocal Perdagangan Indonesia USA.
Semoga.