Ulat hongkong. (Foto: Sulindo/Ulfa Nurfauziah)

Ulat hongkong atau yang dikenal secara ilmiah sebagai Tenebrio molitor telah lama menjadi bagian penting dalam dunia pakan hewan. Meski tampilannya kerap dianggap menjijikkan oleh sebagian orang, larva kumbang ini justru memiliki nilai ekonomi dan nutrisi yang tinggi.

Tidak hanya dimanfaatkan sebagai pakan burung kicau, ulat hongkong juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi reptil, ikan hias, hingga hewan ternak air seperti udang. Kandungan gizinya yang kaya menjadikan ulat hongkong sebagai extra fooding favorit, terutama di kalangan pecinta burung kicau.

Di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan, ulat hongkong memiliki pangsa pasar yang luas dan stabil. Permintaan yang terus mengalir membuat ulat ini mudah ditemukan di pet shop, baik dalam bentuk utuh maupun yang telah diolah menjadi pelet. Tingginya kebutuhan tersebut membuka peluang bagi siapa saja, termasuk pemula, untuk memulai budidaya ulat hongkong dari rumah dengan modal yang relatif terjangkau.

Ulat hongkong memiliki siklus hidup yang lengkap dan menarik. Serangga ini melalui empat tahapan, yakni telur, larva, kepompong atau pupa, dan kumbang dewasa. Seluruh siklus tersebut harus dikuasai oleh peternak karena pada praktiknya hampir tidak ada penjual bibit dalam bentuk indukan khusus. Hal ini justru menjadi keunggulan tersendiri, sebab peternak dapat mengendalikan seluruh sumber produksi, mulai dari bibit hingga hasil panen ulat.

Siklus hidup Tenebrio molitor berlangsung selama kurang lebih tiga hingga empat bulan. Pada fase larva, ulat hongkong akan mengalami pergantian kulit hingga 15 kali sebelum akhirnya berubah menjadi kepompong. Fase larva inilah yang paling sering dimanfaatkan sebagai pakan hewan. Menariknya, pada tahap tertentu ulat hongkong sangat cocok diberikan untuk ikan hias karena kandungan kitin pada kulitnya yang belum dapat dicerna secara optimal oleh ikan.

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ulat hongkong sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Suhu ideal bagi ulat ini berada pada kisaran 26,5 hingga 27,5 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan sekitar 75,5 persen. Di alam bebas, ulat hongkong menyukai tempat yang lembap, hangat, dan gelap, seperti di bawah tumpukan kayu atau daun yang membusuk. Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kematian pada kumbang dewasa, sementara suhu yang terlalu rendah membuat telur menetas lebih lama. Oleh karena itu, pengendalian suhu dan kelembapan menjadi kunci utama keberhasilan budidaya.

Dari sisi nutrisi, ulat hongkong memiliki kandungan gizi yang sangat baik. Di dalam tubuhnya terkandung protein kasar sekitar 48 persen, lemak kasar 40 persen, kadar abu 3 persen, kadar air 57 persen, serta kandungan ekstrak non nitrogen sekitar 8 persen. Komposisi ini menjadikan ulat hongkong sangat efektif dalam mendukung pertumbuhan dan daya tahan tubuh hewan peliharaan maupun ternak.

Manfaat konsumsi ulat hongkong telah banyak dirasakan oleh para peternak dan penghobi. Burung kicau yang rutin mendapatkan asupan ulat hongkong sebagai makanan tambahan cenderung memiliki kualitas kicauan yang lebih jernih dan variatif. Pada udang, pemberian ulat hongkong terbukti mampu mempercepat pertumbuhan.

Sementara pada ikan, ulat hongkong membantu meningkatkan kesehatan tubuh, memperkuat daya tahan, serta memperindah warna dan tampilan kulit ikan. Tak heran jika banyak jenis burung kicau menggemari ulat ini, seperti jalak putih, kenari, cucakrawa, beo, jalak bali, hwamci, kacer, murai daun, murai batu, cucak biru, hingga burung culik-culik.

Dalam praktik budidaya, tahapan awal dimulai dengan pemilihan indukan. Ulat hongkong sejatinya adalah fase larva dari kumbang Tenebrio molitor yang berwarna hitam dan gemar memakan biji-bijian. Proses pembentukan kumbang membutuhkan waktu dan kesabaran, sehingga sebagian peternak memilih melakukan breeding langsung menggunakan kumbang dewasa agar proses reproduksi lebih cepat. Media budidaya umumnya menggunakan dedak halus atau polard yang dimasukkan ke dalam wadah plastik dengan ketinggian sekitar seperempat dari tinggi wadah.

Ulat hongkong dewasa dipindahkan ke dalam media dedak tersebut untuk dikembangbiakkan dan dilakukan pemindahan setiap tiga hari sekali. Wadah kemudian disimpan di tempat yang gelap dan hangat selama kurang lebih 90 hari hingga ulat berubah menjadi kepompong.

Kepompong perlu dipisahkan secara berkala ke wadah lain yang hanya diberi lapisan dedak tipis, mengingat pada fase ini kepompong tidak membutuhkan pakan. Pemisahan ini penting untuk mencegah kanibalisme dan memastikan kepompong berubah menjadi kumbang secara serempak.

Dalam kurun waktu sekitar 10 hari, kepompong akan bermetamorfosis menjadi kumbang dengan warna putih yang perlahan berubah menjadi kecokelatan hingga hitam mengilap. Setelah sayapnya mengeras dan berwarna hitam, kumbang siap untuk bertelur.

Kumbang-kumbang tersebut kemudian dipindahkan ke media dedak baru untuk melakukan reproduksi, dengan perbandingan sekitar empat gelas kumbang membutuhkan dua kilogram dedak. Setelah 10 hari, dedak diayak untuk memisahkan telur dari media, lalu telur dikembalikan ke wadah penetasan.

Telur ulat hongkong akan menetas dalam waktu 10 hingga 12 hari. Larva yang baru menetas berukuran sekitar 3 milimeter dengan berat kurang lebih 0,6 miligram dan berwarna keputihan sebelum akhirnya berubah menjadi kuning. Indukan kumbang yang telah bertelur sebaiknya dibiarkan selama satu hari agar tidak mengalami stres sebelum kembali digunakan untuk proses reproduksi berikutnya. Dalam masa hidupnya yang berkisar dua hingga tiga bulan, satu ekor kumbang mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 300 butir telur.

Untuk mendukung keberhasilan budidaya dalam skala lebih besar, diperlukan ruangan khusus yang dibuat secara permanen. Ruangan ideal sebaiknya tertutup hingga 95 persen guna mencegah masuknya hama seperti tikus dan semut. Suhu ruangan dijaga pada kisaran 29 hingga 30 derajat Celsius dengan kondisi lembap. Kandang atau rak penyimpanan ulat dapat dibuat dari bahan tripleks berukuran sekitar 40 x 60 sentimeter, dengan luas ruangan budidaya mencapai 8 x 32 meter.

Pakan ulat hongkong dapat berupa campuran ampas tahu dan dedak yang ditambahkan tepung tulang agar ulat tumbuh lebih besar. Pemberian pakan dilakukan sehari sekali dengan cara dikepal, sementara kebutuhan air dipenuhi dengan menyemprotkan air secara halus ke dalam media. Kondisi kesehatan ulat juga perlu diperhatikan. Ulat yang terserang penyakit biasanya tidak berwarna kuning merata, melainkan memiliki bercak kehitaman pada kulit. Jika hal ini terjadi, pemberian pakan dari daun-daunan serta dedak perlu dikurangi.

Apabila ditemukan ulat mati dengan warna merah, kondisi tersebut harus segera ditangani karena penyakitnya dapat menular dengan cepat. Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari pakan yang terlalu basah. Sementara ulat yang mati dengan warna hitam umumnya disebabkan oleh cara pemberian pakan yang kurang tepat, terutama pada ulat dewasa berusia satu hingga tiga bulan. Dalam kondisi ini, pakan sebaiknya diberikan dalam bentuk kepalan kecil, bukan disebar.

Dengan pengelolaan yang tepat, budidaya ulat hongkong bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan pakan hewan peliharaan, tetapi juga berpotensi menjadi usaha yang menjanjikan. Di balik bentuknya yang sederhana, ulat hongkong menyimpan nilai ekonomi, nutrisi, dan peluang usaha yang tidak bisa dipandang sebelah mata. [UN]