Ular Sanca Kembang. (Wikipedia)

Ular kerap ditempatkan sebagai salah satu hewan yang paling ditakuti manusia. Tubuhnya yang panjang, cara bergeraknya yang senyap, serta reputasinya sebagai pemangsa membuat banyak orang memilih menjauh ketika berhadapan dengan reptil ini. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang justru terpikat dan menjadikan ular sebagai hewan peliharaan.

Di Indonesia, keberadaan ular masih sangat mudah dijumpai, mulai dari spesies berukuran kecil hingga yang berukuran raksasa. Di balik keberagaman tersebut, ada beberapa jenis ular yang tercatat sebagai yang terbesar dan paling mengesankan di Nusantara. Berikut tiga ular terbesar yang ada di Indonesia:

1. Sanca Bodo

Di antara seluruh spesies yang hidup di Indonesia, sanca bodo atau Python bivittatus menempati posisi istimewa. Ular ini bukan hanya menjadi yang terbesar di Indonesia, tetapi juga yang terbesar di Asia dan terbesar kedua di dunia. Mengutip National Geographic, sanca bodo mampu tumbuh hingga panjang sekitar tujuh meter dengan bobot mencapai 90 kilogram.

Menariknya, ukuran tersebut sejatinya belum menjadi batas maksimal. Seekor sanca bodo bernama Baby yang pernah dipelihara di sebuah kebun binatang di Amerika Serikat menjadi bukti nyata potensi ukuran ular ini.

Saat mati, Baby tercatat memiliki berat 182,8 kilogram, angka yang hampir menyamai berat seekor beruang dewasa. Hingga kini, hanya anakonda hijau dari Amerika Selatan yang mampu melampaui ukuran tersebut, dengan bobot maksimum yang diperkirakan mencapai 250 kilogram.

Di Indonesia, sanca bodo yang juga dikenal dengan sebutan sanca burma dapat ditemukan di Pulau Jawa, Bali, serta sebagian wilayah Sulawesi. Habitat alaminya meliputi hutan dan rawa berumput yang lembap.

Sayangnya, penyusutan kawasan hutan membuat ruang hidup ular ini semakin sempit. Akibatnya, pertemuan antara manusia dan sanca bodo kian sering terjadi, terutama di wilayah permukiman yang berbatasan langsung dengan alam liar.

2. Sanca Kembang

Selain sanca bodo, Indonesia juga menjadi rumah bagi sanca kembang atau Malayopython reticulatus. Ular ini dikenal sebagai ular terbesar ketiga di dunia. Menurut Britannica, bobot maksimal sanca kembang dapat mencapai 175 kilogram, masih berada di bawah sanca bodo dan anakonda hijau.

Namun dalam hal panjang tubuh, sanca kembang justru memegang rekor dunia. Beberapa laporan menyebutkan panjangnya bisa mencapai hingga 10 meter, menjadikannya ular terpanjang yang pernah tercatat.

Keunggulan lain dari sanca kembang adalah kemampuannya berenang dengan sangat baik. Hal ini membuat penyebarannya di Indonesia begitu luas, dari wilayah barat hingga timur Nusantara. Hampir semua pulau besar menjadi habitat potensial bagi ular ini.

Meski tidak termasuk dalam kategori terancam punah, keberadaan sanca kembang tetap menghadapi tekanan. Corak kulitnya yang indah membuatnya sering diburu, baik untuk diambil kulitnya maupun dipelihara sebagai koleksi eksotis.

3. Sanca Permata

Di luar dua raksasa tersebut, Indonesia memang tidak memiliki lagi ular dengan bobot ratusan kilogram. Namun, bukan berarti ular-ular lainnya kalah mengagumkan. Salah satu yang patut mendapat perhatian adalah sanca permata atau Simalia amethistina. Ular ini tercatat sebagai ular terbesar kedelapan di dunia. Berdasarkan data dari iNaturalist, sanca permata mampu tumbuh hingga panjang 5,5 meter dengan berat sekitar 27 kilogram.

Nama sanca permata diambil dari tampilan kulitnya yang memantulkan cahaya dan tampak berkilau menyerupai batu permata. Spesies ini mendiami wilayah timur Indonesia, seperti Kepulauan Maluku, Kepulauan Aru, dan Papua.

Dengan ukuran tubuhnya yang besar, sanca permata memiliki kemampuan memangsa hewan-hewan berukuran relatif besar pula. Di Papua, ular ini diketahui dapat memangsa walabi, sejenis kanguru kecil yang hidup di kawasan tersebut.

Keberadaan ular-ular raksasa di Indonesia menunjukkan betapa kayanya keanekaragaman hayati negeri ini. Di balik rasa takut yang kerap menyertai, ular sejatinya memegang peran penting dalam keseimbangan ekosistem.

Mengenal mereka lebih dekat bukan hanya membuka wawasan, tetapi juga membantu manusia memahami bahwa hidup berdampingan dengan satwa liar adalah bagian tak terpisahkan dari realitas Indonesia sebagai negara megabiodiversitas. [UN]