Beberapa hari terakhir, nama Gunung Rinjani kembali mencuat di ruang publik Indonesia dan bahkan hingga ke Brasil. Sorotan itu bukan semata karena keindahannya sebagai salah satu gunung tertinggi di Indonesia, melainkan karena sebuah tragedi memilukan yang terjadi di punggungnya.
Pada Sabtu, 21 Juni 2025, seorang turis asal Brasil bernama Juliana Marins (26) dilaporkan terjatuh ke jurang sedalam ratusan meter di kawasan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Juliana dinyatakan meninggal dunia, dan proses evakuasi yang kompleks serta lokasi jatuh yang ekstrem membuat peristiwa ini menjadi perhatian besar, baik di Indonesia maupun di negara asal korban.
Namun di balik kabar duka tersebut, tahukah kamu bahwa Gunung Rinjani tidak hanya menyimpan keindahan alam dan potensi bahaya, tetapi juga mengandung kisah-kisah legenda yang sarat makna? Masyarakat setempat memandang gunung ini bukan sekadar bentang alam, melainkan simbol sakral yang menyatu dengan spiritualitas, sejarah, dan nilai-nilai budaya.
Legenda Dewi Anjani dan Asal Usul Gunung Rinjani
Menurut cerita rakyat yang dihimpun dari sumber Kemendikdasmen, nama “Rinjani” tidak dapat dilepaskan dari sosok Dewi Anjani, seorang putri kerajaan yang cantik jelita dan dikenal sebagai pecinta alam. Dikisahkan bahwa Dewi Anjani memutuskan untuk bertapa dan bermeditasi di puncak gunung. Semakin lama, ia merasa menjadi bagian dari alam dan akhirnya menghilang, menyatu dengan gunung. Dari proses spiritual inilah konon lahir Gunung Rinjani, sebagai manifestasi wujud dari jiwa sang dewi.
Versi lain dari legenda menyebutkan bahwa seorang raja yang bijak berdoa kepada para dewa agar melindungi rakyatnya dari bencana alam. Doa itu dijawab dengan kehadiran Gunung Rinjani sebagai benteng alami, penyeimbang kehidupan yang melindungi pulau dari berbagai macam malapetaka.
Cerita-cerita ini bukan sekadar mitos kosong, melainkan bagian dari cara masyarakat Sasak dalam memahami dan menghormati lingkungan di sekitar mereka.
Dalam kehidupan masyarakat Sasak, Gunung Rinjani dianggap sebagai tempat suci yang dihuni oleh roh-roh leluhur. Sebelum mendaki, para pendaki—baik lokal maupun mancanegara—didorong untuk mengikuti ritual adat bernama “Ngayu-Ayu”, yaitu upacara meminta izin dan restu kepada penjaga spiritual gunung. Upacara ini mencerminkan keyakinan bahwa setiap langkah di gunung harus dilakukan dengan kesadaran, kerendahan hati, dan rasa hormat.
Selain itu, terdapat pula upacara “Mulang Pekelem”, yang dilakukan di Danau Segara Anak, dan bertujuan untuk menghormati leluhur serta menjaga keseimbangan alam. Masyarakat percaya bahwa alam memiliki ruh, dan jika dirusak, maka keharmonisan hidup manusia juga akan terganggu.
Kearifan lokal ini menekankan nilai-nilai seperti gotong royong, hormat kepada leluhur, serta kecintaan terhadap alam, yang menjadi prinsip hidup masyarakat setempat. Tidak heran jika banyak warga percaya bahwa musibah atau kecelakaan di gunung sering kali dikaitkan dengan sikap manusia yang kurang menghormati tatanan alam atau mengabaikan adat istiadat.
Gunung Rinjani sebagai Warisan Budaya dan Ekologi
Gunung Rinjani bukan hanya penting secara spiritual dan budaya, tetapi juga secara ekologis. Ia merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani, yang menjadi rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna langka. Keberadaan legenda-legenda seperti kisah Dewi Anjani turut membentuk kesadaran masyarakat untuk melindungi hutan, mata air, dan keanekaragaman hayati di kawasan ini.
Dalam budaya Sasak, mitos bukan sekadar dongeng, melainkan cara untuk menginternalisasi pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Ketika seseorang menyakiti alam, diyakini bahwa alam akan membalas. Oleh karena itu, menjaga kelestarian Gunung Rinjani bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga.
Legenda Gunung Rinjani mengajak kita untuk melihat alam dengan cara yang lebih dalam—bukan sebagai objek wisata semata, tetapi sebagai ruang sakral yang hidup dan memiliki jiwa.
Sebagai generasi muda, kita diajak untuk tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya. Dengan memahami kisah-kisah seperti legenda Gunung Rinjani, kita tidak hanya melestarikan cerita leluhur, tetapi juga turut menjaga ekosistem yang semakin terancam oleh keserakahan manusia modern.
Gunung Rinjani adalah cermin dari betapa eratnya hubungan antara manusia, alam, dan budaya. Ia bukan hanya tempat bagi petualangan dan pendakian, tetapi juga ruang kontemplatif yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan.
Dari kisah Dewi Anjani hingga upacara Ngayu-Ayu, dari tragedi nyata hingga pesan moral yang terkandung dalam legenda—semuanya menunjukkan bahwa menjaga alam adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap warisan budaya dan spiritualitas Nusantara.
Sudah saatnya kita berhenti melihat alam sebagai milik yang bisa dieksploitasi sesuka hati. Sebaliknya, mari kita perlakukan alam seperti halnya masyarakat Sasak memperlakukan Rinjani: dengan hormat, cinta, dan kesadaran penuh akan keterkaitan yang abadi antara manusia dan bumi tempatnya berpijak. [UN]


