Hampir setiap kamar tidur masyarakat Indonesia, terdapat satu benda bernama guling. Ia bukan sekadar bantal panjang yang menemani tidur, melainkan bagian dari kebiasaan yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Kehadirannya terasa begitu akrab, hingga banyak orang tidak lagi mempertanyakan dari mana asalnya. Padahal, di balik kenyamanan yang diberikannya, guling menyimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan erat dengan masa kolonial, adaptasi budaya, hingga lahir dari kesepian.
Sejarah guling di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari masa Hindia Belanda. Pada periode tersebut, banyak laki-laki Belanda datang ke wilayah jajahan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama. Mereka meninggalkan keluarga dan istri di negeri asal, menghadapi kehidupan baru di lingkungan yang sama sekali berbeda. Kondisi ini bukan hanya menuntut penyesuaian dalam pekerjaan, tetapi juga dalam aspek kehidupan sehari-hari, termasuk cara beristirahat.
Iklim tropis di Hindia Belanda yang panas dan lembap menjadi tantangan tersendiri bagi para pendatang Eropa. Kasur tebal dan selimut berat yang biasa digunakan di Belanda justru terasa tidak nyaman di wilayah tropis. Dalam situasi ini, muncul kebutuhan akan cara tidur yang lebih adaptif. Dari kebutuhan itulah lahir gagasan sederhana, sebuah bantal panjang yang bisa dipeluk untuk memberikan kenyamanan tanpa menambah rasa gerah. Gagasan inilah yang menjadikan guling sebagai teman tidur warga Indonesia.
Guling kemudian menjadi solusi yang menjawab kebutuhan tersebut. Fungsinya tidak hanya sebagai penopang tubuh, tetapi juga menghadirkan sensasi psikologis yang menenangkan, seolah seseorang sedang memeluk pasangan. Dari sinilah muncul istilah “Dutch Wife” dalam bahasa Inggris, yang secara harfiah berarti “istri Belanda”. Istilah ini merujuk pada kebiasaan laki-laki Belanda yang memeluk guling saat tidur, sebagai pengganti kehadiran pasangan mereka yang jauh di tanah air.
Namun, istilah tersebut tidak sepenuhnya lahir dari kekaguman. Di kalangan bangsa Eropa lainnya, terutama Inggris, istilah “Dutch Wife” kerap digunakan sebagai bentuk olok-olokan. Orang Belanda dianggap pelit dan memilih “menggantikan” istri mereka dengan guling. Menariknya, ketika orang Inggris sendiri tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia, mereka pun akhirnya ikut mengadopsi kebiasaan tersebut. Bahkan, muncul istilah balasan dari pihak Belanda, yakni “British Doll”, sebagaimana disebut dalam novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer.
Jejak awal guling ternyata tidak selalu berbentuk seperti yang dikenal saat ini. Beberapa sumber menyebutkan bahwa versi awalnya terbuat dari rotan atau bambu. Desain ini memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik, sehingga sangat cocok digunakan di daerah panas. Di Cina, misalnya, terdapat guling berbahan anyaman bambu berongga yang dipercaya mampu menyerap keringat sekaligus menjaga tubuh tetap sejuk saat tidur.
Perlahan tapi pasti, guling bertransformasi dari benda eksklusif menjadi kebutuhan umum. Masyarakat Indonesia mulai mengadopsinya sebagai bagian dari perlengkapan tidur sehari-hari. Selain memberikan kenyamanan, guling juga memiliki fungsi menopang tubuh saat tidur miring, menjaga posisi tubuh tetap stabil, serta membantu mengurangi tekanan pada bagian tertentu.
Kini, guling telah menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Keberadaannya melampaui batas budaya, kelas sosial, maupun latar belakang. Tradisi memeluk guling saat tidur bahkan menjadi ciri khas yang sulit ditemukan di Eropa atau Amerika, namun cukup umum di beberapa wilayah Asia yang pernah mengalami pengaruh kolonial.
Lebih dari sekadar benda, guling adalah simbol dari proses panjang adaptasi manusia terhadap lingkungan baru. Ia juga merekam kisah kesepian para pendatang, percampuran budaya, hingga perubahan gaya hidup masyarakat lokal. Dari sebuah “istri pengganti” bagi para serdadu Belanda, guling kini menjelma menjadi sahabat tidur bagi jutaan orang. [UN]