Film Dilan 1991: Melawan Patriarki dan Kekerasan Seksual

Film Dilan 1991: Melawan Patriarki dan Kekerasan Seksual

Politikus Partai Gerindra Rahayu Saraswati [Foto: Istimewa]

Koran Sulindo – Sekuel film Dilan 1990 kembali mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat kita. Karena itu, tidak heran jumlah penonton Dilan 1991 yang diproduksi Max Pictures telah mencapai hampir 5 juta orang hingga saat ini.

Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) bahkan memberikan penghargaan kepada film ini lantaran jumlah penontonnya pada penayangan perdana mencapai 800 ribu orang. Jumlah ini bahkan disebut mampu melampaui jumlah penonton film Hollywood yang tayang di bioskop Indonesia.

Di samping itu, hal menarik lainnya dan menjadi perhatian politikus Partai Gerindra Rahayu Saraswati tentang film tersebut berkaitan dengan sikap dua lelaki dalam film tersebut kepada perempuan. Adegan perlakuan Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Hugo Yugo (Jerome Kurnia) terhadap perempuan yaitu Milea Adnan (Vanesha Prescilla) dinilai saling bertolak belakang.

Fokus Sara, sapaan akrabnya terhadap sikap lelaki terhadap perempuan dalam film tersebut memang menarik untuk didiskusikan. Terlebih penayangan perdana film tersebut tidak jauh dari akan peringatan Hari Perempuan Internasional. Oleh karena itu, setidaknya menurut Sara, film Dilan 1991 mengungkap fakta kekerasan seksual yang acap menimpa kaum perempuan.

Penilaian Sara terhadap Dilan dalam film itu menunjukkan sikap hormat dan tidak memaksakan kehendak fisiknya terhadap Milea. Itu tampak dalam sebuah adegan ketika Dilan ingin menyentuh Milea.

“Cium enggak? Langsung atau diwakilin?” kata Dilan.

Dialog ini ingin menegaskan tentang penghormatan terhadap perempuan. Terlebih tubuh perempuan tidak sekadar objek kaum lelaki. Dari situ menjadi jelas perempuan berdaulat atas tubuhnya. Tak ada yang bisa menyentuh tubuhnya tanpa seizin darinya.

“Dilan menunjukan sikap yang cukup menghormati kehendak perempuan,” kata Sara.

Sementara sikap Yugo justru sebaliknya. Tindakan Yugo itu menunjukkan bentuk pelecehan yang seringkali kita jumpai dalam kehidupa sehari-hari. Dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi dan pengaruh budaya Barat, Yugo memaksakan kehendak fisik terhadap Milea.

Adegan itu terlihat ketika Yugo mengajak Milea menonton film bioskop. Ketika sedang menonton, tiba-tiba Yugo secara sadar memegang dan merangkul pundak Milea. Dan dengan gerakan spontan, Yugo ingin mencium Milea tanpa mendapatkan izin terlebih dulu.

“Justru kalau di Barat jika ada seorang lelaki berperilaku seperti Yugo terhadap perempuan, maka lelaki itu sudah bisa dilaporkan ke polisi atas tuduhan tindak kekerasan seksual,” kata Sara menambahkan.

Sesungguhnya, kata Sara, sikap Yugo itu dalam dunia nyata membuat banyak kalangan aktivis perlindungan perempuan dan anak khawatir atas kekosongan hukum dalam berpacaran. Pemahaman tentang pelecehan seksual juga masih banyak masyarakat kita yang belum mengerti. Itulah yang sedang diperjuangkan kalangan masyarakat sipil, kata Sara.

Yugo Nafsu
Jauh sebelum adegan Yugo hendak mencium Milea, gerak dan sikapnya telah menunjukkan sikap patriarki yang merasa punya kuasa lebih ketimbang Milea. Itu tampak ketika kali pertama mereka bertemu setelah Yugo melanglang buana ke Eropa, tepatnya Belgia selama 6 tahun.

Dalam pertemuan pertama itu, Yugo langsung menunjukkan sikap suka – kalau bukan muka nafsu alias mupeng – kepada Milea. Ia langsung suka kepada Milea. Buktinya ketika bersalaman, Yugo nyaris mencium pipi Milea dan untungnya Milea langsung menarik tubuhnya.

Sikap seperti ini, menurut Wijaya Herlambang (2013) dengan mengutip Ellen W. Gorsevski dari Bowling Green State University (BGSU), penggunaan bahasa untuk membenarkan kekerasan pada kenyataannya termasuk bentuk kekerasan langsung. Contohnya adalah penggunaan bahasa oleh sekelompok orang untuk mengekspresikan kebencian terhadap yang lain ternyata dapat menyakiti korban secara fisik.

Dengan kata lain, bahasa yang digunakan Yugo kepada Milea sesungguhnya bagian dari proses untuk membenarkan kekerasan seksual. Bahasa yang digunakan Yugo punya dampak menyakiti secara fisik. Maka, tak heran ketika Yugo bersama ibunya datang ke rumah Milea untuk meminta maaf, perempuan remaja itu histeris.

Dan itu semakin menjadi ketika Dilan tiba-tiba nongol di depan pintu rumah Milea. Ia belum sempat menjabat tangan Yugo ketika Dilan tiba. Saking histerisnya, Milea pun bangkit dari tempat duduknya dan mendesak Dilan yang masih berdiri di depan pintu untuk mengatakan:

“Bilang ke mereka, Dilan! Bilang ke dunia bahwa kamu adalah pacarku!”

Kaget dengan desakan Milea itu, Dilan dengan terpaksa dan bingung mengatakan:

“Saya adalah pacar Milea.”

Fakta yang dialami Milea itu membuktikan tesis Gorsevski bahwa kekerasan bahasa ternyata adalah bentuk kekerasan fisik. Kekerasan bahasa yang membenarkan kekerasan seksual memiliki dampak terhadap korban dan sangat terasa secara fisik.

Lepas dari persoalan penting itu, Sara mengapresiasi film yang diproduksi anak bangsa. Salah satunya dengan mengajak nonton bareng anak-anak milenial yang berasal dari Tunas Indonesia Raya (Tidar) Jakarta Barat, organisasi sayap Partai Gerindra, Gerakan Milenial Indonesia (GMI) Jakarta Barat dan sejumlah relawan muda lainnya.

“Ini cara kami sebagai politisi milenial mendukung perfilman Indonesia. Dan kita berharap agar masyarakat khususnya generasi muda terus mencintai film-film karya anak bangsa. Kami juga mengucapkan selamat kepada film ini karena mendapatkan penghargaan dari MURI,” kata Sara. [Kristian Ginting]