Kisah Pendeta di Pusaran Krisis Keuangan Turki

Kisah Pendeta di Pusaran Krisis Keuangan Turki

19
Pendeta Andrew Brunson (tengah berbaju putih) [Foto: Istimewa]

Koran Sulindo – Apa yang dialami Turki dalam sepekan terakhir agak aneh karena dikaitkan dengan anjloknya nilai mata uang lira, kemitraan dengan Amerika Serikat (AS) di NATO dan tentang nasib seorang pendeta asal AS. Namun, setelah mata uang lira anjlok dan semakin parah, nama Pendera Andrew Brunson kini menjadi pembicaraan utama atas krisis keuangan yang menghantam Turki.

Ia yang telah tinggal sekitar 25 tahun di Turki awalnya sama sekali tidak pernah mengalami gangguan. Kini namanya menjadi pusat perhatian antara kejatuhan nilai mata uang lira dan krisis diplomatik antara Washington dan Ankara. Kekhawatirannya krisis keuangan Turki bisa menyebar secara global.

Akan tetapi, dunia Brunson serasa terbalik pada 7 Oktober 2016. Ia bersama istrinya, Norine, seperti dituliskan AFP, Rabu (15/8) ditangkap oleh pemerintahan Recep Tayyip Erdogan karena dianggap terlibat dalam peristiwa kudeta gagal pada Juli 2016. Istri Brunson hanya ditahan selama 2 pekan. Sedangkan si pendera dipenjara dan kemudian dituduh membantu 2 organisasi yang dinilai Turki sebagai kelompok teroris yaitu kelompok Fethulla Gulen dan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Brunson yang harus mendekam di penjara merayakan ulang tahunnya yang ke-50 pada Januari lalu dan menghadapi tuntutan 35 tahun penjara jika terbukti bersalah. Pemberitaan atas penangkapan Brunson pada waktu itu relatif kecil dan upaya yang dilakukan pejabat AS pada awalnya untuk membebaskannya juga sangat rendah.

Akan tetapi, pemenjaraan terhadap Brunson selama 2 tahun tanpa proses hukum itu menjadi pemicu krisis diplomatik antara Turki dan AS. Puncak ketegangan hubungan kedua negara ketika Presiden Donald Trump mengumumkan sanks dagang terhadap Turki. Itu pula yang menyebabkan nilai mata uang lira jatuh terhadap dolar AS. Dan kejatuhan nilai mata uang lira itu dikhawatirkan akan menyebabkan krisis ekonomi besar-besaran.

Brunson pindah ke Turki pada 1993 sebagai bagian dari program misionaris. Pengakuannya, ia tiba di Kota Aegean di Izmir pada 2000 dan membuka Gereja Dirilis setelah 10 tahun kemudian. Bangunan gereja itu kecil dan hanya terdiri atas beberapa jemaat. Brunson memastikan dirinya tidak terlibat dalam kegiatan rahasia. Apalagi negara selalu mengawasi kegiatannya.

Brunson memastikan tidak pernah melakukan apapun terhadap Turki. Ia cinta Turki dan telah berdoa selama 25 tahun untuk negara tersebut. [KRG]