Penemu Mesin Ketik, Christopher Latham Sholes. (Foto: britannica.com)

Setiap tanggal 8 Januari, dunia memperingati Hari Mengetik. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan terhadap kemampuan mengetik sebagai salah satu fondasi penting komunikasi modern. Melansir laman National Today, Hari Mengetik dirayakan untuk menegaskan peran mengetik dalam menyampaikan gagasan, informasi, dan pengetahuan secara tertulis, dengan menekankan aspek kecepatan, akurasi, dan efisiensi.

Sejarah Hari Mengetik berkelindan erat dengan perjalanan panjang mesin ketik itu sendiri. Mesin ketik komersial pertama diperkenalkan pada tahun 1874. Meski menjadi terobosan teknologi pada masanya, hingga pertengahan 1880-an alat ini belum banyak digunakan di lingkungan perkantoran.

Namun, seiring waktu, mengetik berkembang dari sekadar aktivitas mekanis menjadi sebuah keterampilan bernilai tinggi. Dunia perdagangan, bisnis, dan penerbitan mulai membutuhkan tenaga terampil yang mampu mengetik cepat dan rapi.

Dari sinilah jutaan lapangan pekerjaan tercipta, sekaligus mengajarkan generasi demi generasi cara menyusun dokumen tertulis yang ringkas, informatif, dan sistematis, serta melahirkan pola komunikasi tertulis yang sama sekali baru.

Awalnya, Hari Mengetik dirayakan di Malaysia. Namun, maknanya yang universal membuat peringatan ini kemudian diadopsi secara global. Mengetik tidak lagi dipandang sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari budaya literasi dan produktivitas manusia modern.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, perkembangan mesin ketik menyimpan kisah inovasi yang panjang dan penuh eksperimen. Melansir Britannica, pada abad ke-19 berbagai jenis mesin ketik pernah dicoba. Banyak di antaranya berukuran besar dan berat, bahkan beberapa menyerupai piano, baik dari segi bentuk maupun ukuran.

Ironisnya, mesin-mesin awal tersebut justru lebih lambat dibandingkan tulisan tangan. Terobosan signifikan baru terjadi ketika seorang penemu Amerika, Christopher Latham Sholes, terinspirasi oleh sebuah artikel di jurnal Scientific American yang mengulas mesin ciptaan Inggris. Dari inspirasi itulah lahir mesin tik praktis pertama.

Model kedua buatan Sholes, yang dipatenkan pada 23 Juni 1868, mampu menulis jauh lebih cepat daripada pena. Meski masih sederhana, Sholes terus menyempurnakan desainnya. Pada tahun 1873, ia menandatangani kontrak dengan E. Remington and Sons, sebuah perusahaan pembuat senjata di Ilion, New York, untuk memproduksi mesin tik tersebut. Setahun kemudian, pada 1874, mesin tik pertama dipasarkan dan dikenal luas dengan nama Remington.

Mesin tik Remington membawa berbagai fitur dasar yang kelak menjadi standar selama lebih dari satu abad. Di antaranya adalah silinder dengan mekanisme pengaturan spasi baris dan pengembalian kereta, mekanisme escapement untuk mengatur jarak huruf, susunan batang huruf yang menghantam titik tengah kertas, sistem tuas dan kabel penghubung, penggunaan pita tinta, serta tata letak papan ketik yang hampir identik dengan susunan keyboard modern.

Bahkan, penulis legendaris Mark Twain tercatat sebagai penulis pertama yang mengirimkan manuskrip buku dalam bentuk ketikan, setelah membeli mesin tik Remington.

Mesin tik generasi awal hanya mampu menulis huruf kapital. Permasalahan ini kemudian diatasi dengan menempatkan huruf kapital dan huruf kecil pada batang huruf yang sama, dipadukan dengan mekanisme pemindah silinder. Hasilnya adalah Remington Model 2 yang diperkenalkan pada tahun 1878, menjadi mesin tik pertama dengan tombol pemindah (shift).

Tak lama kemudian muncul mesin tik dengan papan ketik ganda, yang menyediakan tombol terpisah untuk setiap karakter. Kedua jenis mesin ini sempat bersaing, hingga akhirnya metode mengetik sentuh menjadikan mesin bertombol pemindah lebih unggul karena bentuknya yang lebih ringkas dan efisien.

Inovasi lain juga muncul dalam bentuk perbedaan mekanisme pencetakan. Selain mesin batang huruf (typebar), dikembangkan pula mesin roda huruf (type wheel), terutama sejak 1880-an. Pada mesin roda huruf, karakter ditempatkan melingkar atau berbentuk segmen. Saat tombol ditekan, huruf yang dipilih akan bergerak ke posisi cetak. Keunggulan utama sistem ini terletak pada kemudahan mengganti segmen huruf, sehingga memperluas fleksibilitas penggunaan.

Hampir semua mesin tik menggunakan pita tinta yang terpasang pada gulungan dan bergerak mengikuti operasi mesin, berbalik secara otomatis saat tinta habis. Sebagian model lain menggunakan bantalan tinta yang disentuh batang huruf sebelum mencetak.

Dari sini, lahir pula mesin tik tanpa suara, yang dirancang dengan mekanisme pukulan lebih lambat namun bermomentum sama. Meski lebih senyap, mesin ini tidak mampu menghasilkan cetakan sehalus atau salinan karbon sebanyak mesin konvensional.

Lompatan besar terjadi dengan hadirnya mesin tik listrik. Mesin ini pada dasarnya merupakan mesin tik mekanis yang digerakkan oleh motor listrik. Pengetik hanya perlu menyentuh tombol, sementara seluruh mekanisme digerakkan oleh sistem penghubung internal. Keuntungannya mencakup sentuhan lebih ringan, kecepatan dan keseragaman cetak yang lebih baik, kemudahan membuat salinan karbon, serta mengurangi kelelahan operator.

Mesin tik listrik pertama ditemukan oleh Thomas A. Edison pada tahun 1872, meski penggunaannya sebagai mesin kantor baru dipelopori James Smathers pada 1920. Sejak itu, mesin tik listrik menjadi tulang punggung produktivitas perkantoran.

Inovasi terus berlanjut. Pada tahun 1961, International Business Machines Corporation (IBM) memperkenalkan mesin tik dengan elemen pengetikan berbentuk bola. Elemen ini bergerak melintasi kertas, miring dan berputar untuk memilih karakter, sehingga menghilangkan kebutuhan akan kereta kertas yang bergerak. Desain ini menjadi salah satu tonggak penting dalam evolusi mesin tulis.

Di sisi lain, kebutuhan mobilitas melahirkan mesin tik portabel. Setelah berbagai percobaan yang kurang sukses di akhir abad ke-19, mesin tik portabel pertama yang benar-benar praktis muncul pada 1909. Pada dekade 1950-an, hampir semua produsen besar memproduksi mesin tik portabel dengan mekanisme batang huruf. Lebih ringan dan ringkas, meski kurang kokoh dibandingkan mesin kantor, versi listriknya mulai diperkenalkan pada 1956.

Mesin tik juga berkembang menjadi alat penyusun huruf untuk keperluan percetakan. Mesin tik penyusun dirancang agar hasil ketikannya menyerupai huruf cetak, lengkap dengan variasi gaya, ukuran, spasi proporsional, dan perataan margin.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, mesin roda huruf menjadi pilihan utama. Bahkan, beberapa mesin dilengkapi sistem otomatis dan unit penyimpanan data, memungkinkan pengetikan ulang dengan panjang baris yang presisi, hingga perataan margin secara otomatis.

Perkembangan berikutnya mengarah pada otomatisasi penuh. Mesin tik mulai dikendalikan oleh sinyal listrik jarak jauh, terintegrasi dengan sistem komputer, mesin hitung, dan perangkat komunikasi lainnya. Teknologi ini memungkinkan produksi dokumen secara massal, termasuk surat formulir, melalui sistem pita berlubang atau kendali vakum.

Puncak evolusi mesin tik terlihat pada mesin cetak berkecepatan tinggi yang diperkenalkan pada 1953, dirancang untuk mengubah keluaran komputer menjadi teks terbaca. Dengan sistem roda huruf berputar dan palu cetak elektrik, mesin ini mampu mencetak hingga 100.000 karakter per menit, jauh melampaui mesin konvensional. Bahkan, sistem non-mekanis kemudian mampu mencapai kecepatan 10.000 karakter per detik, menandai pergeseran menuju teknologi cetak modern.

Hari Mengetik, pada akhirnya, bukan hanya tentang menekan tombol-tombol papan ketik. Ia adalah pengingat akan perjalanan panjang manusia dalam merumuskan, merekam, dan menyebarkan gagasan. Dari mesin berat menyerupai piano hingga sistem digital berkecepatan tinggi, keterampilan mengetik telah menjadi jembatan antara pikiran dan dunia, antara ide dan sejarah yang tertulis. [UN]